Migrant Day: Problematika Pekerja Migran Indonesia

62 views

Pekerja Migran

Reaktor.co.id — Internatioanl Migrant Day atau Hari Pekerja Migran Internasional diperingati tiap 18 Desember. Berikut ini ulasan tentang problematika Pekerja Migran Indonesia (PMI) di berbagai negara.

Perlindungan menjadi isu utama pekerja migran. Kerentanan yang dialami oleh pekerja migran bukan hanya berkutat pada perkara hubungan industrial dan keimigrasian, tetapi juga terkait dengan situasi politik dan keamanan.

Kasus deportasi yang dialami oleh pekerja migran Indonesia di Hong Kong, Yuli Riswati, merupakan kriminalisasi pada aktivitas kebebasan berekspresi dan berkomunikasi pada pekerja migran, seperti dijamin dalam Konvensi Internasional Tahun 1990 tentang Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya.

Isu keamanan dan migrasi memang dalam dekade terakhir ini makin sering dipercakapkan. Menguatnya sentimen antimigran di Eropa, didorong oleh prasangka Islamofobia atas membanjirnya ribuan pengungsi asal Afrika dan Timur Tengah ke Eropa, seiring dengan konflik berkepanjangan, ekstremisme kekerasan, dan aksi-aksi terorisme.

Di Kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, muncul kekhawatiran adanya perekrutan terhadap para pekerja migran untuk bergabung dengan kelompok-kelompok ekstremisme kekerasan bahkan menjadi pelaku aktif terorisme.

Menurut beberapa analis keamanan regional, kematian pentolan ISIS, Abubakar Al Baghdadi, memang melemahkan kekuatan ISIS di Suriah, namun bisa memicu kepulangan para kombatan ke kampung halamannya, dan kawasan Asia Tenggara bisa menjadi ladang tempur baru bagi mereka yang balik kandang. Jalur-jalur kepulangan mereka biasanya juga berimpitan dengan jalur-jalur migrasi pekerja.

Dari tahun ke tahun Malaysia menjadi tujuan utama tenaga kerja asal Indonesia. Menurut data BNP2TKI, sejak tahun 2012 sudah lebih dari setengah juta buruh migran melamar kerja di negeri jiran itu.

Mengatasi problematikan pekerja migran harus ada pendekatan yang komprehensif, tanggap terhadap perkembangan teknologi informasi, bersifat dialogis dan tetap mengedepankan jaminan pengakuan dan perlindungan hak-hak pekerja migran.

Perwakilan Indonesia di luar luar negeri juga harus lebih proaktif dalam merawat nilai-nilai keindonesiaan, toleransi, dan penerimaan pada perbedaan. Demikian ulasan soal pekerja migran yang dilansir DW.

Dua Masalah Utama Pekerja Migran

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri RI, Judha Nugraha, pernah mengemukakan dua masalah utama yang dihadapi oleh pekerja migran Indonesia

Dua masalah ini berawal dari sebelum para migran itu melakukan perjalanan ke luar negeri.

“Permasalahan keimigrasiaan dan permasalahan ketenagakerjaan. Data statistik yang kami punya yaitu keimigrasian diikuti oleh kasus ketenagakerjaan,” ungkap Judha.

Judha mengatakan, hal ini mencerminkan bahwa banyak warga negara Indonesia (WNI) yang melakukan proses migrasi ke luar negeri secara tidak aman.

“Mereka tinggal di luar negeri tanpa dokumen yang benar, kemudian tanpa izin tinggal yang sah di negara yang bersangkutan,” jelasnya.

Menurut Judha, ada dua hal yang menyebabkan hal itu terjadi. Pertama, sejak awal pemberangkatan WNI yang bersangkutan tidak sesuai prosedur. Contohnya, adalah penggunaan visa kunjungan wisata untuk bekerja.

“Visa kunjungan wisata tujuannya hanya untuk wisata, tidak untuk bekerja. Nah, ketika mereka sudah selesai kunjungan wisatanya, mereka overstay di sana dan kemudian bekerja. Itu yang kemudian menyebabkan mereka undocumented,” jelasnya.

Yang kedua, para WNI tersebut telah berangkat sesuai prosedur, mendapatkan izin kerja, tapi kemudian mereka tidak dibekali dengan pemahaman mengenai hukum keimigrasiaan negara setempat. Sebagai contoh, izin tinggal dan izin bekerja itu melekat kepada pemberi kerja. Ketika WNI tidak betah bekerja, ia tidak bisa serta merta pindah majikan. Ia harus lapor ke imigrasi setempat.

“Karena ketidakpahaman mereka, tidak betah bekerja, mereka pindah majikan tanpa prosedur yang benar sehingga dia menjadi undocumented,” terangnya.

Kasus tidak betah bekerja adalah kasus yang paling banyak terjadi, selain gaji yang tidak dibayarkan. Ini mencerminkan bahwa proses keberangkatan pekerja migran tidak dipersiapkan dengan baik.

“Diberikan pemahaman, mentalnya juga harus dikuatkan, bahwa bekerja ke luar negeri akan membuat hidup dalam budaya yang berbeda, kultur yang berbeda. Penguatan itu yang perlu dilakukan, sehingga aspek yang tidak bekerja ini bisa kita tekan,” jelasnya. (Sindonews)

 

Migrant Day Pekerja Migran

Related Post

Leave a reply