Menggenjot Produktivitas Tenaga Kerja

67 views

Indonesia membutuhkan banyak pahlawan masa kini, yakni pihak yang mampu menggenjot produktivitas. Dibandingkan dengan negara lain, produktivitas tenaga kerja di Tanah Air masih lebih rendah dari rata-rata negara anggota Asian Productivity Organization (APO) atau Organisasi Produktivitas Asia.

Reaktor.co.id – Tiada agenda bangsa yang lebih penting selain menggenjot produktivitas tenaga kerja, jika ingin mewujudkan bangsa yang sejahtera.

Alokasi anggaran untuk peningkatan sumber daya manusia (SDM) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 harus tepat sasaran dan menyentuh masalah rendahnya kualitas tenaga kerja Indonesia saat ini.

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti dari Institute for Development and Economi Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, di Jakarta, Selasa (27/8), mengatakan peran SDM sangat penting bagi perekonomian sebuah negara dan salah satu input penting bagi pembangunan industri yang berdaya saing. Menurut Heri, tantangan dalam pembangunan SDM meliputi produktivitas relatif rendah dan sulit meningkat.

Pada saat bersamaan, institusi pendidikan/ pelatihan belum mampu menjawab tantangan meningkatkan produktivitas dan kualitas tenaga kerja. Selain itu, gap antara kebutuhan dan penyediaan tenaga kerja masih lebar, sehingga terjadi mismatch antara institusi pendidikan dan dunia kerja. Kemudian, di era baru ekonomi yang warnai disrupsi teknologi mengubah karakteristik permintaan tenaga kerja.

Dari sisi produktivitas jika diukur dengan GDP per worker employed, Indonesia masih relatif tertinggal dari negara tetangga. Jika melihat mayoritas tenaga kerja Indonesia saat ini, hampir 60 persen tepatnya 58,78 persen pekerja di Indonesia masih tamatan pendidikan rendah yaitu, SMP ke bawah. Mereka memiliki keterbatasan skill, sehingga akan sulit untuk meningkatkan produktivitas dan bersaing.

Sebab itu, perlu ada terobosan untuk mengatasi pekerja yang 58,26 persen tersebut. Sementara itu, industrialisasi dan digitalisasi papar Heri, tentunya memerlukan tingkat keahlian dan produktivitas yang lebih baik. “Apabila industrialisasi tidak disokong dengan kualitas SDM yang memadai maka proses transformasi struktural tidak berjalan ideal,” kata Heri.

Dari sisi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sektor yang menjadi kontributor PDB terbesar yaitu industri dengan kontribusi 19,66 persen, hanya mampu menyerap tenaga kerja sekitar 14 persen. Sedangkan, tenaga kerja terbesar masih di sektor pertanian yaitu, 29 persen, namun kontribusinya terhadap PDB hanya sekitar 13 persen.

Beberapa program pelatihan/ sertifikasi yang dilakukan pemerintah, tambah Heri, belum efektif. Dari profil yang ikut pelatihan, masih banyak angkatan kerja yang telah mengikuiti pelatihan/ sertitikasi yang justru belum bekerja. “Hal ini mengingatkan kita pada rencana program kartu pra kerja, bagaimana jika pemegang kartu tersebut tidak kunjung mendapatkan pekerjaan?” tanya Heri.

Arif Minardi

Menurut Ketua Umum FSP LEM SPSI,Arif Minardi, hakikat produktivitas ketenagakerjaan adalah tingkat kemampuan pekerja menghasilkan produk dan jasa. Berbagai faktor mempengaruhi produktivitas tenaga kerja, termasuk juga faktor kesejahteraan sosial pekerja.

Serikat Pekerja adalah kunci untuk itu diharapkan berperan mengikuti perkembangan global reverse innovation. Karena kegiatan inovasi dunia itu menyangkut penemuan proses produksi baru yang bisa menggenjot produkivitas sekaligus berpotensi memperluas lapangan kerja karena berbasis inovasi dan teknologi tepat guna,” ujar Arif.

Menurut Arif hal diatas sebagai solusi untuk mengatasi pertumbuhan angkatan kerja di Indonesia yang sekitar 2,9 juta per tahun, sebagian besar atau sekitar 80 % di antaranya adalah tenaga kerja yang kurang terlatih. Perlu penataan kompetensi ketenagakerjaan bagi angkatan kerja di desa. Kompetensi terkait erat dengan kondisi lapangan kerja yang cocok untuk pedesaan utamanya disektor usaha pertanian.

Menurut catatan Reaktor.co.id, produktivitas sektor pertanian di negara maju dengan negara berkembang seperti halnya Indonesia masih sangat timpang. Sejak tahun 2000 kesenjangan produktivitas pertanian tersebut berkisar 50 banding 1. Banyak faktor yang menyebabkan produktivitas pertanian masih terpuruk, antara lain faktor inovasi dan mekanisasi usaha pertanian.

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Logam Elektronika dan Mesin SPSI berseru, Indonesia kini membutuhkan banyak pahlawan masa kini, yakni tokoh yang mampu menggenjot produktivitas bangsa. Karena dibandingkan dengan negara lain, produktivitas tenaga kerja di Tanah Air masih lebih rendah dari rata-rata negara anggota Asian Productivity Organization (APO) atau Organisasi Produktivitas Asia.

Singapura memiliki tingkat produktivitas tertinggi di dunia pada tahun 2016, yaitu sekitar 121,9 dolar AS, sementara Indonesia hanya sekitar 21,9 dolar AS. Posisi Indonesia pada 2015, juga masih berada di bawah Malaysia dan Thailand bahkan Sri Lanka.

“Sungguh prihatin melihat fenomena gap produktivitas (productivity gap analysis) antara Korea Selatan, Malaysia, dan Indonesia,” ujar Arif. Lebih lanjut dia menjelaskan produktivitas Korea Selatan lebih tinggi sekitar 6,35 kali (635%) dari produktivitas Indonesia. Produktivitas Malaysia lebih tinggi sekitar 2,93 kali (293%) dari produktivitas Indonesia. Produktivitas Korea Selatan lebih tinggi sekitar 2,17 kali (217%) dari produktivitas Malaysia.

Pesan pamungkas Arif, dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN, tak ada kata lain yang lebih penting, selain memperbaiki secara totalitas produktivitas dan nilai tambah lokal.

Pertama yang mesti dibenahi adalah sektor industri pengolahan agar bisa memainkan peran yang lebih besar dalam perekonomian Indonesia. Saatnya sektor industri pengolahan berkontribusi untuk mendongkrak perekonomian dan menyediakan sumber pekerjaan yang berkualitas bagi angkatan kerja nasional. (Totoksis).*

Asian Productivity Organization (APO) produktivitas

Related Post

Leave a reply