Mengenang Marsinah pada Hari Buruh

269 views

Marsinah adalah gadis desa yang cerdas dan pekerja keras. Dia ingin menggapai kemajuan dengan bekerja keras sebagai buruh pabrik di Sidoarjo. Kekritisan Marsinah terhadap hak normatif buruh dan tekadnya untuk bergerak bersama kawan-kawannya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kompetensi kerja justru dibayar dengan nyawanya.

 

Ziarah dan berdoa di makam Marsinah ( Foto DPC FSP LEM SPSI Mojokerto)

 

Reaktor.co.id – Tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Sedunia atau dengan istilah May Day. Meskipun dalam suasana pandemi Covid-19, bagi kaum buruh peringatan May Day 2020 tetap dijadikan momentum konsolidasi untuk meneguhkan agenda perjuangan.

Utamanya untuk mencabut atau membatalkan Omnibus Law RUU Cipta Kerja yang pasal-pasalnya dalam draft sarat dusta, penuh eksploitasi dan bernuansa penindasan terhadap kaum pekerja.

Kondisi perburuhan yang masih carut-marut menyebabkan peringatan May Day meskipun ditetapkan sebagai hari libur nasional dan suasana pandemi, namun tetap berlangsung ditengah kawan-kawan buruh dalam suasana penuh greget. Dengan berbagai aktivitas dan energy kreativitas yang diunggah dalam akun media sosial atau laman serikat pekerja.

 

Poster May Day 2020 Mengenang Marsinah

 

Rindu Marsinah

Perlu mengenang pejuang buruh Marsinah karena militansi perjuangan dan sepak terjangnya masih relevan dengan kondisi perjuangan kaum buruh pada saat ini. Banyak kaum buruh yang rindu terhadap sosok Marsinah yang gagah berani memperjuangkan kaumnya hingga terenggut nyawanya.

Pada era rezim orde baru, kaum buruh menghadapi kekuasaan yang sangat otoriter dan sangat represif. Pahlawan buruh Marsinah yang berasal dari desa Sukomoro Kabupaten Nganjuk meninggal dunia setelah diculik dan dianiaya oleh oknum keamanan. Tragedi itu merupakan klimaks dan potret betapa sempurna kekejian penguasa yang menjadikan buruh sebagai tumbal pertumbuhan ekonomi.

Marsinah adalah gadis desa yang cerdas dan pekerja keras. Dia ingin menggapai kemajuan dengan bekerja keras sebagai buruh pabrik jam di Sidoarjo. Kekritisan Marsinah terhadap hak normatif buruh dan tekadnya untuk bergerak bersama kawan-kawannya guna meningkatkan kesejahteraan dan kompetensi kerja justru dibayar dengan nyawanya.

Dirinya dituding sebagai provokator. Padahal faktanya Marsinah hanyalah buruh perempuan lugu yang berpikiran maju.
Dalam suasana perburuhan terkini, semangat Marsinah masih relevan. Dia sosok yang berjuang keras tanpa teori yang bertele-tele untuk menggapai kesejahteraan bersama.

Ditengah hiruk pikuknya masalah ketenagakerjaan, kita semua menjadi rindu terhadap Marsinah. Pada saat ini dia patut dijadikan cermin besar untuk mawas diri bagi para aktivis dan tokoh buruh, utamanya bagi pimpinan organisasi buruh yang kini jumlahnya sudah menjamur.

Dialektika perjuangan Marsinah yang menurut keluarga dan kawan-kawan bernuansa sepi ing pamrih, rame ing gawe bisa menjadi obat insyaf bagi pemimpin buruh yang selama ini berjuang sarat pamrih dan mengedepankan perutnya sendiri.

 

Serikat Pekerja berziarah di pusara Pejuang Buruh Marsinah ( Foto FSP LEM SPSI DPC Mojokerto )

 

 Dusta Pembangunan

Setelah rezim orde baru tamat, perilaku penguasa dan pengusaha terhadap buruh berubah. Namun perubahan tersebut justru sangat makan hati kaum buruh.

Sejak gerakan Reformasi berhasil menurunkan Presiden Soeharto, pemerintahan selanjutnya tidak lagi represif, kejam dan otoriter terhadap aktivis buruh, namun sering mengelabuhi nasib buruh.

Bahkan tega-teganya akan merevisi pasal-pasal UU Ketenagakerjaan yang amat vital bagi kehidupan buruh. Karena sulit merevisi, rezim penguasa bersama kompradornya menempuh jalan lain yakni membuat Omnibus Law RUU Cipta Kerja.

Glembuk penguasa terhadap segelitir elit buruh hingga kini masih terus terjadi. Dengan cara mengundang beberapa gelintir tokoh buruh saja untuk datang ke istana. Hal itu sangat kontradiktif dengan bila mengundang pengusaha datang ke istana yang jumlahnya jauh berlipat ganda.

Sekarang ini terdapat banyak sekali tokoh buruh yang menduduki kepemimpinan di federasi dan konfederasi tetapi menjaga jarak dengan kekuasaan demi menjaga independensi dan kemurnian gerakan buruh.

Lebih banyak tokoh buruh yang tak sudi menjilat penguasa ketimbang mereka yang terus bermesraan dengan penguasa di istana. Bagi mereka yang dianggap dekat dengan penguasa, nyatanya juga tidak berhasil meyakinkan penguasa untuk memenuhi aspirasi buruh. Faktanya rezim lebih mendengarkan aspirasi dan memberikan segalanya kepada kapitalis komprador alias pengusaha yang selama ini tak jemu jemunya melumpuhkan UU Ketenagakerjaan Nomor 13/2003.

Upaya pemerintah untuk meringankan beban kehidupan buruh masih setengah hati dan jumlahnya tidak memadai.

Hingga kini nasib buruh sejak berstatus lajang (single) dengan masa kerja nol tahun hingga kepalanya dipenuhi dengan uban tetap saja terpuruk dan menjadi tumbal pertumbuhan ekonomi. Sederet dusta pembangunan sudah sangat akrab dimata dan telinga buruh.

Berbagai program pembangunan yang bersifat populis bahkan jarang sekali menyentuh kehidupan kaum buruh. Seperti program beras miskin atau raskin. Begitu juga dengan program populis lainnya seperti program keluarga harapan (PKM) dan program kredit usaha rakyat (KUR).

Selain itu juga program-program seperti transportasi massal dan program lain yang didanai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK).Mestinya pemerintah pusat dan daerah tidak lagi memunculkan dusta pembangunan terhadap kaum buruh. Pemerintah harusnya memberi perhatian untuk meringankan beban kaum buruh agar upah buruh tidak semakin tergerus habis untuk kebutuhan kesehatan, transportasi, biaya perumahan dan biaya pendididkan. (*)

 

Mengenang pejuang buruh Marsinah ziarah makam Marsinah

Related Post

Leave a reply