Mengenal Fintech: Hati-Hati Jadi Korban Penipuan!

204 views

Fintech alias pinjaman online (pinjol) harus terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika tidak, fintech tersebut ilegal dan ibarat rentenir online dan memakan banyak korban.

fintech

Reaktor.co.id — Fintech menjadi fenomena baru di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini. Fintech memberikan kemudahan layanan finansial, seperti pinjaman atau membantu usaha kecil dan menengah (UKM) mendapatkan modal usaha berbunga lebih rendah.

Apa itu Fintech yang identik dengan “pinjaman uang berbasis online” ini? Bagaimana ia memakan korban penipuan?

Pengertian Fintech

Fintech adalah singkatan dari financial technology (teknologi keuangan), yaitu penggabungan antara teknologi dan sistem finansial atau keuangan. Fintech merujuk pada inovasi dalam bidang jasa finansial atau inovasi finansial yang diberi sentuhan teknologi modern. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutnya Inovasi Keuangan Digital (IKD).

Menurut laman resmi Bank Indonesia, FinTech merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat.

Dalam sistem konvensional, dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas. Dengan fintech, kita dapat melakukan transaksi jarak jauh, secara daring (online), dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik saja.

Fintech muncul seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang saat ini didominasi oleh pengguna teknologi informasi dan tuntutan “serba cepat.”

Dengan fintech, permasalahan dalam transaksi jual-beli dan pembayaran–seperti tidak sempat mencari barang ke tempat perbelanjaan, ke bank/ATM untuk mentransfer dana, keengganan mengunjungi suatu tempat karena pelayanan yang kurang menyenangkan– dapat diminimalkan.

Dengan kata lain, fintech membantu transaksi jual beli dan sistem pembayaran menjadi lebih efisien dan ekonomis namun tetap efektif.

Dasar Hukum Fintech

Penyelenggaraan Fintech dalam system pembayaran di Indonesia adalah sebagai berikut:

  1. Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 tentang Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran
  2. Surat Edaran Bank Indonesia No. 18/22/DKSP perihal Penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital
  3. Peraturan Bank Indonesia No. 18/17/PBI/2016 tentang Uang Elektronik

Fintech harus terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika tidak, fintech tersebut ilegal dan ibarat rentenir online.

Manfaat dan Dampak Fintech

Fintech muncul dan berkembang karena memberikan banyak manfaat, namun juga ada dampak negatifnya.

Menurut BI, manfaat Fintech antara lain:

  • Pilihan layanan keuangan yang lebih baik dan banyak
  • Harga yang lebih murah
  • Menyederhanakan rantai transaksi
  • Menekan biaya operasional dan biaya modal
  • Mendorong transmisi kebijakan ekonomi

FinTech telah mengubah sistem pembayaran di masyarakat dan telah membantu perusahaan-perusahaan start-up dalam menekan biaya modal dan biaya operasional yang tinggi.

Dampak negarifnya adalah membuka peluang munculnya Fintech ilegal dan menelan banyak korban penipuan.

Sebagai contoh, di Solo, Jawa Tengah, korban pinjaman berbasis online atau fintech terus bertambah, seiring dibuka pos pengaduan yang dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Soloraya.

Dilansir kompas.com, dari sekian laporan masuk, ada tujuh korban pinjaman online yang telah ditangani oleh LBH Soloraya. Diduga kuat, perusahaan fintech yang memberikan pinjaman kepada korban adalah ilegal. Sebab, bunga yang diberikan para peminjam cukup besar.

Bahkan, ada korban yang menunggak membayar hingga dua bulan dan dendanya mencapai puluhan juta rupiah.

Korban meminjam uang melalui berbagai aplikasi online sebesar Rp 5 juta untuk keperluan modal usaha. Karena tidak memiliki pekerjaan tetap, akhirnya ia menunggak membayar pinjaman hingga dua bulan. Dari Rp 5 juta yang dipinjam dari sekian aplikasi, dalam kurun waktu dua bulan jadi Rp 75 juta. Dari mulai denda, biaya perpanjangan tenor, dan bunga.

Rentenir Online

Pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku kesulitan memberantas perusahaan fintech peer-to-peer (P2P) lending alias pinjaman online (pinjol) yang ilegal.

Dilansir detikFinance, Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, menjelaskan OJK kesulitan memberantas perusahaan pinjol yang terdaftar tersebut.

Wimboh membandingkan fintech ilegal itu seperti rentenir. Meski tidak disukai, namun masih ada saja yang membutuhkan jasa rentenir, terutama untuk meminjami uang.

Dia meminta kepada seluruh masyarakat untuk cerdas dalam memanfaatkan pendanaan yang ditawarkan oleh fintech. Salah satunya meminjam kepada fintech yang terdaftar di OJK.

Pihak DPR meminta OJK bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menindsk perusahaan fintech ilegal.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mendorong Kominfo bersama OJK untuk melakukan pendataan terhadap seluruh perusahaan fintech yang beroperasi di Indonesia khususnya perusahaan yang baru beroperasi.

“Mendorong Kemkominfo dan OJK untuk melakukan tindakan tegas antara lain dengan melakukan pemblokiran terhadap perusahaan fintech yang terbukti beroperasi secara ilegal,” kata Bamsoet dalam keterangan tertulisnya dikutip Republika, Rabu (31/7/2019).

Masyarakat diimbau selektif dalam memilih layanan jasa fintech dan memeriksa terlebih dahulu apakah fintech tersebut sudah terdaftar dan memiliki izin di OJK, serta meminta masyarakat untuk tidak mudah tergiur dengan tawaran fintech yang memberikan bunga rendah dan proses pencairan yang cepat.

OJK tidak mengizinkan fintech untuk mengakses data pribadi, termasuk kontak di ponsel nasabah. Jika kedapatan masih melaksanakan aktivitas tersebut, OJK memberikan sanksi hingga pemblokiran aplikasi.

Sampai dengan Juli 2019, OJK melalui Grup Inovasi Keuangan Digital (GIKD) telah menetapkan 48 Penyelenggara IKD atau Fintech tercatat di OJK.

Penyelenggara IKD yang memiliki status tercatat telah diperbolehkan untuk beroperasi sesuai dengan bisnis model yang diajukan dan dapat bekerja sama dengan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) yang terdaftar dan diawasi oleh OJK.

OJK sesuai kewenanganya melakukan pemantauan berkala terhadap Penyelenggara IKD.

Daftar Fintech di OJK per Juli 2019


Sumber: OJK

Data Fintech AFPI

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengajak masyarakat untuk menggunakan fintech lending terdaftar dan diawasi oleh OJK sebagai platform pinjam meminjam.

Berikut daftar fintech lending legal yang terdaftar di OJK per Mei 2019 sebagaimana dirilis Kontan.

1. Danamas
2. Investree
3. Investree
4. Dompet Kilat
5. KIMO
6. Koinworks
7. Modalku
8. Danacepat
9. AwanTunai
10. KlikACC
11. Crowdo
12. Akseleran
13. Uang Teman
14. Taralite
15. Fintag
16. Invoil
17. Tunai Kita
18. Igrow
19. Cicil
20. Dana Merdeka
21. Cash Wagon
22. Esta Capital
23. Ammana
24. Gradana
25. Dana Mapan
26. Aktivaku
27. Danakini
28. Finmas
29. Tokomodal
30. Indodana
31. Kredivo
32. Mekar.id
33. Pinjaman Go
34. Internak.id
35. Kredit Pintar
36. Kredito
37. Crowde
38. Pinjam Gampang
39. TaniFund
40. Danain
41. Indofund.id
42. SGPIndonesia
43. KreditPro
44. Avantee
45. Do-It
46. RupiahCepat
47. Danarupiah
48. Danabijak
49. Cashcepat
50. Danalaut
51. Danasyariah
52. Telefin
53. Modalrakyat
54. Kawancicil
55. Sanders One Stop Solution
56. Kreditcepat
57. Uangme
58. Pinjam Duit
59. Pinjam Yuk
60. Pinjam Modal
61. Julo
62. Easy Cash
63. Maucash
64. RupiahOne
65. Pohon Dana
66. Dana Cita
67. DANAdidik
68. TrustIQ
69. Danai
70. Pintek
71. Pinjam
72. Danamart
73. SAMAKITA
74. Saya Modalin
75. PLAZA PINJAMAN
76. Vestia P2P Lending Platform 77. Singa
78. AdaKami
79. ModalUsaha
80. Asetku
81. Danaflix
82. Lumbung Dana
83. Lahansikam
84. Modal Nasional
85. Dana Bagus
86. ShopeePayLater
87. ikredo online
88. AdaKita
89. UKU
90. Pinjamwinwin
91. Pasarpinjam
92. Kredinesia
93. BKDana
94. Gandeng Tangan.org
95. Midalantara
96. Komunal
97. ProsperiTree
98. Danakoo
99. Cairin
100. Batumbu
101. empatkali
102. Jembatanemas
103. klikUMKM
104. Kredible
105. klikkami
106. Kaching
107. Kaching
108. FinPlus
109. Alamisharia
110. Syarfi
111. Digilend Asakita
112. Duha Syariah
113. Bocil

Fintech Keuangan Pinjaman Online Rentenir Online

Related Post

  1. author

    […] Fintech, aplikasi ini merupakan layanan kompensasi yang memungkinkan karyawan untuk mengambil gajinya lebih […]

  2. author

    […] BACA JUGA: Mengenal Fintech: Hati-Hati Jadi Korban Penipuan! […]

  3. author

    […] Pekerjaan tersebut pada dasarnya terbagi atas tiga tipe yaitu pengemudi online, freelancer online, dan agen financial technology (fintech) […]

Leave a reply