Mengatasi Krisis Regenerasi Profesi Petani

243 views

Sangat jarang anak muda yang mengacungkan tanganya ketika ditanya siapa saat ini yang ingin menjadi petani. Sungguh ironis. Sebagai negara agraris, banyak pihak yang tidak sadar bahwa tanah air kita kini sedang terjadi krisis regenerasi petani.

Pemerintahan mendatang perlu membuat program yang tepat dan menarik supaya para milenial mau menerjuni profesi mulia itu di bumi Pertiwi.

calon petani

Reaktor.co.id –Krisis regenerasi petani ditandai dengan kecilnya minat generasi milenial utamanya anak-anak petani untuk menggeluti profesi pertanian. Terbayang dimatanya betapa profesi sebagai petani yang padat penderitaan. Apalagi pada saat bencana kekeringan sekarang ini. Paceklik terjadi, bagaikan neraka dunia. Lengkap sudah derita yang dialami petani.

Derita petani semakin sempurna ketika rezim penguasa keranjingan impor komoditas pertanian. Impor produk pertanian dalam volume besar-besaran sejatinya memakmurkan petani luar negeri tetapi memukul kaki bangsa yang notabene adalah petani lokal.

Kesengsaraan petani semakin sempurna karena rusaknya tata niaga produk pertanian yang sering terjadi di negeri ini. Salah satu contohnya adalah tata niaga ayam potong yang akhir-akhir ini sedang kacau. Menyebabkan peternak rakyat menjerit karena produk mereka harganya jatuh hingga ke titik nadir.

Krisis petani muda tergambar dalam survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dimana hanya 4 persen anak petani berusia 15-35 tahun yang bersedia menggeluti profesi petani. Yang lebih menyedihkan lagi angkatan kerja sektor pertanian saat ini semakin menua dan renta, 65 persen telah berusia di atas 45 tahun. Kondisi diatas tentunya akan memperpuruk produktivitas pertanian.

Padahal, angka produktivitas di negara maju dengan negara berkembang hingga kini sangat timpang. Sistem atau pola pertanian yang ada di dunia ini dapat dibagi menjadi dua pola yang berbeda yaitu; pertama, pola pertanian di negara-negara maju yang memiliki tingkat efisiensi tinggi, dengan kapasitas produksi dan rasio output per tenaga kerja yang juga tinggi.

Kedua, pola pertanian yang tidak atau kurang berkembang yang terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Tingkat produktivitasnya masih rendah sehingga hasil yang diperoleh acapkali tidak dapat memenuhi kebutuhan para petaninya sendiri. Sehingga antara negara maju dan negara berkembang muncul suatu kesenjangan yang disebut sebagai kesenjangan produktivitas. Sejak tahun 2004 kesenjangan produktivitas tersebut berkisar 50 banding 1.

Program Motivasi dan Komunikasi Petani

Harliantara

Harliantara

Menurut pakar komunikasi terapan, praktisi radio dan doktor lulusan Fikom Universitas Padjadjaran, Harliantara, salah satu solusi untuk mengatasi krisis petani muda adalah lewat program komunikasi dan motivasi yang relevan dengan perkembangan teknologi terkini.

Program penyuluhan pertanian yang selama ini dilakukan perlu dirombak sehingga sesuai dengan semangat zaman dan animo kaum milenial.

Doktor radio pertama di Indonesia ini menyatakan, dibutuhkan program penyuluhan yang progresif yang didukung oleh tenaga penyuluh yang setara super mentor di bidang komunikasi. Mereka mesti memiliki daya persuasif terhadap generasi muda di pedesaan untuk menghadapi persaingan global.

Kang Harly –,sapaan akrabnya– yang lahir di pedesaan Pelabuhan Ratu, Sukabumi itu menjelaskan kepada Reaktor.co.id, peran super mentor pertanian juga menyangkut sisi psikologi sosial, yakni menumbuhkan positivity. Karena faktor itu merupakan kebanggaan akan profesi yang digeluti kaum muda.

“Seseorang dikatakan memiliki positivity tinggi apabila dalam melaksanakan tugas-tugas profesinya dia tampak memiliki keunggulan kompetensi dan kepercayaan diri atas profesi yang dijalaninya,” ujar Kang Harly.

Sebagai praktisi penyiar radio dan sering menjadi mentor pelatihan komunikasi di berbagai lembaga pemerintah dan perusahaan swata, Harliantara menekankan bahwa sikap profesionalitas generasi muda di pedesaan perlu diformat ulang sejak dini. Sehingga sikap tersebut menjadi suatu sistem nilai yang lebih realistis sesuai kemajuan zaman.

Untuk menumbuhkan positivity pertanian perlu peran media massa. Pada era pemerintahan Presiden Soeharto peran media diatas sangat besar. Peran tersebut dikemas sangat pas pada eranya, dalam tajuk Kelompencapir.

Harliantara mendukung gagasan Direktur Utama TVRI Helmi Yahya yang akan menghidupkan kembali program acara Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa (Kelompencapir).

Program Kelempencapir adalah acara pertemuan untuk petani dan nelayan di Tanah Air yang digalakkan pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

“Kegiatan diatas sebaiknya mengikutkan para petani muda dan pelaku UMKM yang berprestasi dari berbagai daerah untuk menambah motivasi dan kompetensi. Serta melakukan difusi inovasi pertanian serta aspek pemasaran produk untuk mencapai tingkat produktivitas dan kualitas yang membanggakan,” kata Kang Harly.

Jambore Petani Muda

Jambore Petani Muda

Kegiatan Jambora Petani Muda yang diadakan PT Petrokimia Gresik (Foto: Istimewa).

Program Kelompencapir zaman now diharapkan melibatkan anak petani seluas-luasnya dalam rangka program regenerasi. Program harus bisa menjadi sarana untuk membangun kualitas komunikasi antara petani, peternak,nelayan, pedagang pasar dan pelaku UMKM dengan para stakeholder.

Salah satu event yang cocok adalah pada saat dilaksanakan Jambore Petani Muda yang diselenggarakan oleh BUMN sektor kimia yakni PT Petrokimia Gresik.

Mestinya semakin banyak lembaga yang bersedia menyelenggarakan Jambore Petani Muda di berbagai daerah yang bekerja sama dengan pakar komunikasi, ahli motivasi dan pihak media massa. Dalam event jamboree dibuat sesi siaran dalam konteks kelompencapir. Siaran itu mesti menarik kalau perlu dipandu oleh petani muda itu sendiri.

Kelompencapir  perlu dilahirkan kembali karena para petani membutuhkan space farmer sebagai wahana untuk menyampaikan kemajuan, permasalahan, dan alternatif solusi yang dihadapi.

Program Kelompencapir zaman now diharapkan bisa memberikan motivasi dan mengedukasi petani sekaligus bisa merintis generasi jaman now agar mau menggeluti profesi petani. Sebuah profesi yang sangat menentukan perjalanan sebuah bangsa.

Keniscayaan regenerasi petani perlu manajemen inovasi yang relevan agar usahanya lebih efektif dan berdaya saing. Manajemen inovasi merupakan disiplin yang berkaitan dengan pengelolaan inovasi dalam proses produk dan pelayanan, organisasi, hingga pelanggan dan pasar. (Totoksis).*

 

jambore petani muda LIPI profesi petani

Related Post

  1. author
    Erni Suharti4 months agoReply

    Saya lulusan sekolah SPP/SPMA di Bengkulu,sambil sekolah saya on air disalah satu Radio,pendengar saya mayoritas berprofesi petani.
    Sampai sekarang dua bidang ini masih saya tekuni,salam hangat untuk kang Harley presiden FDR selamat atas perolehan gelar doktor nya, semoga semakin bermanfaat bagi orang banyak 🙏

    • author

      Terima Kasih Erni…Tetap Semangat…Dunia Penyiaran Memang Menyenangkan…

Leave a reply