Mengatasi Frustrasi Angkatan Kerja Berpendidikan Rendah

81 views

Jumlah angkatan kerja di Tanah Air pada 2018 sebanyak 133,94 juta orang. Sekitar 66 persen diantaranya hanya memiliki tingkat pendidikan SMP kebawah. Pada segmen angkatan kerja ini sangat riskan mengalami frustrasi sosial. Karena kurangnya peran negara untuk mengentaskan mereka dari keterpurukan. Segmen ini sangat sulit terserap oleh sistem vokasional yang lebih mengutamakan lulusan SMK dan SMA.

Reaktor.co.id –Indonesia akan memasuki periode bonus demografi pada 2030. Bonus demografi ditandai dengan jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang mencapai 70 persen terhadap total angkatan kerja.

Ibarat pedang bermata dua, bonus demografi sendiri dapat dimaknai sebagai bonus dalam arti sebenarnya atau justru dapat berbalik menjadi petaka.

Postur angkatan kerja nasional saat ini sebesar 47 persen masih didominasi oleh lulusan SD dan SD ke bawah, berpendidikan SMTP sebesar 19 persen dan SMTA beserta SMK sebesar 25 persen. Sedangkan lulusan diploma ke atas (DI, DII, DIII dan Universitas) hanya berjumlah 9 persen.

Dengan kondisi postur SDM nasional diatas perlu strategi pengerahan naker yang dikelompokan menjadi empat segmen.

Segmen pertama menekankan program penjaringan dan penggemblengan oleh para instruktur untuk lulusan PT yang berbakat dan memiliki prestasi akademis yang bagus untuk diberi kesempatan dan dipacu agar menjadi tenaga ahli atau ilmuwan kelas dunia.

Ilustrasi pelatihan kerja ( foto istimewa )

Segmen Kedua, adalah program vokasional berbasis link and match dengan bantuan instruktur yang terdiri dari Guru Produktif, termasuk dari anggota Serikat Pekerja yang memiliki pengalaman dan prestasi kerja yang gemilang. Penekanan program adalah mengembangkan sistem apprenticeship seluas-luasnya.

Segmen ketiga, adalah program pendidikan informal untuk segmen masyarakat berpendidikan rendah, lulusan SD atau tidak tamat SD serta lulusan SMP. Yang dipusatkan di pasar tradisional atau sentra penghasilan komoditas atau kerajinan.

Langkah awal untuk program ini adalah membenahi organisasi pendidikan nonformal yang ada. Perlu merombak yang ada, baik di tingkat desa atau kecamatan yang biasa disebut Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan di tingkat Kabupaten/Kota yang disebut Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Organisasi ini harus dimodernisasi prasarananya serta kurikulumnya disesuaikan dengan kemajuan zaman.

Segmen Keempat adalah kantong-kantong pekerja migran. Perlu meningkatkan kompetensi dan transformasi profesi buruh mingran. Perbankan nasional perlu membuat skema atau program khusus terkait dengan buruh migran Indonesia.

Frustrasi sosial adalah tantangan nyata yang harus segera diatasi. Angkatan kerja berpendidikan rendah semakin frustrasi sebab kondisi karut-marut sering terjadi di depan mata mereka. Salah satu langkah untuk mengurangi frustrasi sosial adalah dengan jalan penyelenggaraan seluas-luasnya pendidikan nonformal untuk generasi muda yang berpendidikan rendah.

Gerakan anti pengangguran mestinya dilandasi oleh kondisi obyektif dan kualifikasi para pengangguran sekarang ini. Gerakan anti pengangguran diawali dengan reinventing pendidikan nonformal yang bermuatan produktivitas dan kreatifitas.

Reinventing dalam arti merumuskan kembali arti penting pendidikan nonformal sesuai dengan kemajuan zaman. Sayangnya, pendidikan nonformal yang diselenggarakan selama ini terlihat asal-asalan dengan muatan atau konten yang sudah usang.

Ilustrasi pelatihan kerja ( foto Asian Agri )

Inisiatif  Pendidikan Nonformal

Semua pihak harus sadar bahwa akar dari masalah pengangguran itu karena adanya krisis pendidikan. Ada baiknya kita menengok sejarah dunia, dimana pada 1967 di Williamburg, Virginia AS diselenggarakan konferensi internasional bertajuk Krisis Kependidikan Dunia.

Inisiatif itu datang dari mantan guru sekolah dasar yang nantinya berhasil menjadi Presiden Amerika Serikat, yakni Lyndon B.Johnson. Pelaksanaan konferensi diorganisir oleh James A. Perkin, Rektor Universitas Cornell. Berdasarkan kertas kerja dari konferensi yang diikuti oleh 150 pemimpin negara maju maupun berkembang, diambil beberapa langkah dan kesepakatan global.

Pertama, pentingnya merangkaikan satu kesatuan fakta mendasar dari krisis kependidikan, lalu membuatnya menjadi eksplisit dan membuat strategi untuk menghadapinya.

Kedua, mencari metoda yang sistematik dan tidak terkeping-keping. Perubahan lingkungan yang fantastik terjadi akibat sejumlah revolusi dunia dalam bidang iptek, politik, ekonomi, demografi dan tatanan sosial. Sistem pendidikan juga tumbuh dan berubah dengan cepat, namun tidak mampu beradaptasi dengan perubahan disekitarnya.

Konsekuensinya timbul kesenjangan antara sistem pendidikan dan lingkungannya, hal itu merupakan esensi dari krisis kependidikan dunia. Meskipun kondisi lokal menyebabkan variasi krisis yang berbeda dari satu negara dengan negara lainnya, namun demikian nampak benang merah pada semua bangsa.

Ilustrasi pelatihan kerja ( foto Asian Agri )

Rekomendasi penting dari konferensi diatas adalah mengenai peranan penting pendididkan pada lingkungan ketiga yang dikenal dengan lingkungan masyarakat atau biasa disebut pendidikan nonformal.

Pendidikan melalui lingkungan masyarakat atau pendidikan non formal memiliki berbagai nama, seperti adult education (pendidikan orang dewasa), continuing education (pendidikan lanjutan), on the job training (latihan kerja), accelerated training (latihan dipercepat), farmer or worker training (latihan pekerja bagi petani), dan extension service (pelayanan pendidikan tambahan).

Efektivitas dan pelaksanaan pendidikan nonformal dapat dilihat perbedaannya pada kasus negara maju/industri dan negara berkembang . Pada negara maju seperti di Eropa dan Amerika Utara pendidikan nonformal dipandang sebagai pendidikan lanjutan bagi kehidupan seseorang.

Pada negara yang sedang berkembang, pendidikan nonformal dijalankan asal-asalan atau minimalis. Perannya baru sebatas mendidik kaum petani, pekerja, usahawan kecil dan lainnya yang tidak sempat bersekolah.

Peran lainnya adalah untuk meningkatkan kemampuan dari orang-orang yang memiliki kualifikasi pendidikan rendah agar mereka bekerja lebih efektif. Pada era globalisasi sekarang ini sistem pendidikan nonformal di negeri ini harus ditransformasikan sehingga pelaksanaannya bisa mendekati negara-negara maju. (Totoksis).*

frustrasi sosial pendidikan nonformal

Related Post

Leave a reply