Meneropong Pasar Tenaga Kerja Indonesia 2020 : Elastisitas Rendah, Faktor Glokalitas Penting

778 views

Tren elastisitas ketenagakerjaan 2020 masih rendah karena disebabkan oleh kurangnya perlindungan terhadap pasar domestik dari serbuan produk impor. Indonesia perlu mencetak pekerja profesional menengah yang bisa menggenjot nilai tambah bangsa dan memperluas lapangan kerja. Para profesional itu sejatinya adalah pahlawan yang mampu mengoptimalkan sumber daya kreatif yang berbasis lokalitas.

Reaktor.co.id – Dari hasil survei Robert Walters, perusahaan konsultan rekrutmen pasar tenaga kerja di Indonesia untuk jenjang pekerja profesional menengah hingga tinggi diprediksi lebih bergairah pada 2020, seiring dengan makin stabilnya kondisi perpolitikan dalam negeri.

Namun survei diatas hanya dari sisi manisnya saja, sisi pahitnya pasar tenaga kerja 2020, terutama untuk kategori pekerja non-profesional masih sangat rentan dengan kondisi makro ekonomi dan kondisi perekonomian global. Perlambatan ekonomi langsung menimbulkan krisis ketenagakerjaan.

Elastisitas ketenagakerjaan atau employement elasticity cenderung terus berkurang selama lima tahun terakhir. Sehingga pemerintah terpaksa menurunkan proyeksi elastisitas penyerapan tenaga kerja setiap satu persen pertumbuhan ekonomi.Pemangkasan elastisitas ketenagakerjaan berimplikasi menciutnya kesempatan kerja atau jobless growth.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tak akan berubah sampai dengan akhir 2020 yaitu sekitar 5 %. Angka tersebut tentunya belum dapat menyerap angkatan kerja baru secara layak. Jumlah investasi yang masuk dan sejumlah proyek infrastruktur nasional pada periode pertama pemerintahan Jokowi ternyata tidak banyak menyerap lapangan kerja formal secara langsung. Bahkan, investasi yang tercatat lebih besar ke sektor padat modal.

Kondisi lima tahun terakhir masih memprihatinkan, elastisitas serapan tenaga kerja per satu persen pertumbuhan ekonomi Indonesia, menurut Deputi Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Pungky Sumadi, menyatakan elastisitas serapan tenaga kerja per satu persen pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tetap rendah sejak 2015.

Menurut dia, saat ini setiap satu persen pertumbuhan ekonomi hanya menyerap 250 ribu tenaga kerja. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan elastisitas serapan tenaga kerja pada 10 tahun lalu yang mencapai 500 ribu tenaga kerja.

Penurunan elastisitas ketenagakerjaan semakin rendah karena disebabkan oleh kurangnya perlindungan terhadap pasar domestik dari serbuan produk impor. Sementara penyerapan tenaga kerja yang bersifat padat karya mengalami tekanan yang luar biasa selama ini. Selain itu tingginya impor bahan baku dan barang modal membuat pertumbuhan industri domestik semakin terpuruk.

Alangkah menyedihkan melihat kondisi produksi industri pengolahan besar dan senang akhir-akhir ini mengalami stagnasi bahkan ada yang terjadi pertumbuhan negatif. Padahal Sektor industri pengolahan atau manufacturing industry merupakan salah satu diantara sektor ekonomi yang menjadi andalan dalam perekonomian Indonesia dan mudah menyerap lapangan kerja.

Tren Pekerja Profesional Menengah

Pasar tenaga kerja di Indonesia untuk jenjang pekerja profesional menengah hingga tinggi diprediksi lebih bergairah pada 2020, seiring dengan makin stabilnya kondisi perpolitikan dalam negeri pascapemilihan presiden tahun ini.

Berdasarkan laporan Salary Survey 2020 yang dilansir Robert Walters Indonesia, kestabilan politik Indonesia mendorong masuknya berbagai investasi asing yang akhirnya melahirkan banyak perusahaan baru, termasuk perusahaan rintisan (startup) di berbasis teknologi digital.

Country Manager Robert Walters Indonesia Eric Mary mengatakan lahirnya perusahaan-perusahaan baru tersebut menciptakan permintaan tinggi akan talenta yang memahami seluk beluk ekonomi digital sekaligus kemampuan manajerial yang mumpuni.

“Di Indonesia hal ini yang terus terjadi dan akan menjadi faktor utama dalam penentuan strategi perekrutan. Permintaan akan profesional yang menguasai teknologi, manajer dengan keterampilan hybrid dan glocal professional atau profesional dengan pola pikir global yang mampu beradaptasi dengan budaya atau nilai-nilai lokal akan terus naik.

Dari hasil survei diatas Indonesia perlu perlu mencetak pekerja profesional menengah yang bisa menggenjot nilai tambah bangsa dan memperluas lapangan kerja. Para profesional itu sejatinya adalah pahlawan yang mampu mengoptimalkan sumber daya kreatif yang berbasis lokalitas.

Sehingga di negeri ini terwujud “Locality is the King”. Lokalitas yang dimaksud sesuai dengan teori Thomas L Friedman yang bertajuk globalisasi lokal atau glokalitas. Fenomena glokalitas akan mempromosikan produk, konten dan budaya lokal bisa lebih bernilai tambah.

Masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh sumber daya kreatifnya. Indonesia membutuhkan pahlawan yang mampu menjadikan produk atau konten lokal bisa go international. Pada 2020 diharapkan bisa menjadikan negeri ini gudangnya para kreator dan inovator disegala bidang kehidupan bangsa.

Kenaikan Gaji Profesional Bertalenta

Country Manager Robert Walters Indonesia Eric Mary menjelaskan tingginya permintaan akan talenta seperti yang disebutkan diatas membuat pekerja profesional menengah hingga tinggi di Indonesia berkesempatan untuk mendapatkan kenaikan gaji mulai dari 15 % hingga 30 % tergantung pada kemampuan yang dimiliki dan senioritas apabila mereka berpindah pekerjaan atau dipromosikan.

Hal tersebut membuat pekerja yang sama dengan kinerja baik dan tetap bertahan pada jabatan saat ini akan mengharapkan kenaikan rata-rata 8% dan sebagian besar diantaranya juga mengharapkan bonus lebih dari 15% dari gaji tahunan mereka.

Survei Robert Walters yang melibatkan lebih dari 800 responden dari ratusan perusahaan papan atas di Indonesia ini mengungkapkan jenjang karier yang jelas menjadi alasan utama dalam berpindah pekerjaan di sebagian besar sektor seperti akuntansi & keuangan, perbankan & layanan keuangan, sumber daya manausia (SDM), hukum, penjualan & pemasaran, serta rantai pasokan & manufaktur.

Sementara itu, di sektor teknologi, kompensasi dan tunjangan yang lebih baik menjadi faktor utama untuk berpindah pekerjaan. Adapun, budaya dan lingkungan kerja yang baik menjadi salah satu kepuasan kerja bagi pekerja profesional tingkat menengah hingga atas di semua sektor.

Temuan Survei

Pertama, perputaran karyawan yang tinggi terungkap pada sektor teknologi, dimana terdapat 31 % profesional di suatu posisi tertentu yang bertahan dalam waktu kurang dari 2 tahun, dengan rata-rata kandidat yang berpindah pekerjaan mengharapkan kenaikan gaji 20 %—30 %.

Kompensasi dan tunjangan yang lebih baik menjadi salah satu dari 4 motivator teratas untuk berpindah pekerjaan dilihat dari 27 % profesional yang telah disurvei. Pembelajaran mesin, mahadata, dan kecerdasan buatan diidentifikasi sebagai 3 keterampilan teratas yang dibutuhkan oleh perusahaan di Indonesia.

Kedua, di sektor penjualan & pemasaran, terdapat 28 % profesional di suatu posisi tertentu yang bertahan dalam waktu kurang dari 2 tahun, dengan kandidat yang berpindah pekerjaan mengharapkan kenaikan gaji rata-rata dari 20 %—30 %, sementara perusahaan mencari profesional khususnya dengan keterampilan di bidang dagang-el, data konsumer, dan pemasaran perdagangan.

Ketiga, di sektor akuntansi & keuangan, terdapat 17 % profesional di suatu posisi tertentu yang bertahan dalam waktu kurang dari 2 tahun. Kandidat yang berpindah kerja mengharapkan kenaikan gaji rata-rata 25 %—30 %. Analisis strategis, ketajaman bisnis dan pemahaman tentang pasar modal adalah tiga keahlian utama yang sangat dibutuhkan di sektor ini oleh para perusahaan.

Keempat, di sektor perbankan & layanan keuangan, faktor utama untuk berpindah ke pekerjaan baru bagi 33 % profesional yang disurvei adalah untuk mendapatkan kompensasi dan tunjangan yang lebih baik. Terdapat 26 % dari profesional perbankan & jasa keuangan yang bertahan dalam waktu kurang dari 2 tahun.

Kelima, di sektor SDM, terdapat 25 % profesional yang bertahan dalam waktu kurang dari 2 tahun. Profesional yang berpindah pekerjaan mengharapkan kenaikan gaji rata-rata 20 %—30 %. Kompensasi dan tunjangan yang lebih baik masih menjadi salah satu dari 4 faktor utama untuk berpindah pekerjaan bagi 37 % profesional di antaranya.

Keenam, jenjang karir masih menjadi motivasi utama untuk berpindah pekerjaan bagi 40 % profesional di sektor hukum. Sementara itu, 27 % dari mereka ingin memiliki kesempatan untuk bekerja di luar negeri untuk mendukung karir mereka.

Ketujuh, terdapat 22 % dari para profesional di sektor rantai pasokan, pengadaan dan manufaktur yang bertahan dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Peningkatan gaji pada sektor ini rata-rata mencapai 15 %—25 %.
Sementara itu, dua faktor utama bagi profesional di sektor ini dalam berpindah pekerjaan, di antaranya adalah 30 % mengharapkan kompensasi dan tunjangan yang lebih baik, dan 27 % dari mereka menginginkan jenjang karier yang lebih baik.

Tren yang akan terjadi pada tahun-tahun selanjutnya adalah perusahaan akan mengadopsi perspektif yang lebih luas mengenai calon kandidat, seperti: merekrut kandidat dengan berorientasi pada potensinya dan merangkul kandidat yang memiliki keterampilan yang transferable, daripada hanya berfokus pada kandidat yang memiliki pengalaman pada industri terkait. (AM/TS).*

elastisitas ketenagakerjaan 2020 glokalitas Robert Walters consultant startup Indonesia

Related Post

Leave a reply