Meneguhkan Kesehatan Jiwa Pekerja

77 views

Pakar kesehatan jiwa sedunia tengah menyoroti kesehatan jiwa kaum pekerja. Selama ini masyarakat mengenal kesehatan kerja itu menyasar masalah fisik atau keselamatan kerja di suatu perusahaan. Sedangkan masalah kesehatan jiwa pekerja masih terabaikan. Padahal kesehatan jiwa pekerja merupakan faktor yang sangat penting untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing.

Reaktor.co.id – Hasil Riset Kesehatan Dasar oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan, satu dari tujuh orang mengalami masalah kesehatan jiwa di tempat kerja.

“Masih terbayang, saya dan kawan-kawan Komisi IX DPR mengesahkan UU Nomor 18/2014 tentang Kesehatan Jiwa.

Namun, kini pelaksanaan UU Kesehatan Jiwa belum diimplementasikan secara baik. Terutama terkait dengan kesehatan jiwa kaum pekerja yang sangat berjasa menggenjot produktivitas bangsa,” tutur Arif Minardi, salah satu anggota Komisi IX DPR RI periode 2009-2014 yang ikut membidani UU 18/2014.

Menurut Arif gangguan kejiwaan yang menimpa kaum pekerja sering terabaikan begitu saja. Mestinya pengusaha, Kementerian Tenaga Kerja, dan BPJS secara intensif memantau dan mencegah gangguan kejiwaan.

Perlu membuat program kesehatan jiwa di tempat kerja secara teratur. Ada baiknya dana triliunan rupiah hasil tetesan keringat kaum buruh yang saat ini terakumulasi di BPJS Ketenagakerjaan sebagian digunakan untuk membangun pusat rehabilitasi mental dan kecelakaan kerja.

Sudah saatnya program BPJS Ketenagakerjaan menyentuh langsung kepada para pekerja yang menderita gangguan kejiwaan melalui program konkrit.

Gangguan Kejiwaan di Tempat Kerja

Indonesia memang belum memiliki data yang akurat tentang berbagai aspek gangguan kejiwaan di tempat kerja. Pihak perusahaan dan kementerian teknis yang terkait sangat jarang, bahkan tidak pernah mengalokasikan dana dan tenaga untuk peningkatan kesehatan jiwa kaum pekerja.

Jaminan kesehatan yang secara umum diberikan selama ini belum mengcover dan tidak dapat mengatasi masalah kesehatan jiwa di tempat kerja. Padahal efek negatif gangguan kerja semakin nyata.

Sering kita lihat sosok pekerja berjalan gontai dengan sorot mata yang kosong disertai air muka yang tampak tertekan. Belum lagi jika kita memasuki  tempat tinggal para pekerja yang kondisinya kumuh dan penuh sesak.

Disitu akan sering kita jumpai pekerja yang terkena gangguan kejiwaan dengan berbagai keluhan. Padahal, hasil pemeriksaan medis secara umum tidak menunjukkan adanya gejala gangguan fungsi fisiologis. Namun, dirinya tetap merasa sakit dan tidak sanggup bekerja secara normal.

Stres di tempat kerja pengaruhi kinerja pekerja dan berujung terhadap merosotnya produktivitas. Pekerja yang alami masalah kesehatanjiwa, seperti depresi, stres, dan cemas, tentu tidak bisa bekerja dengan maksimal.

Dampak dari kondisi ini akan memengaruhi kualitas hidup, sekaligus kualitas pekerjaan orang tersebut.
Pekerja seringkali tanpa sadar tekena masalah kejiwaan tapi tidak mendapatkan penanganan yang baik.

Padahal, kalau pikiran, perasaan, dan perilaku mengalami gangguan yang terjadi berturut-turut, ada baiknya melakukan konsultasi ke ahlinya. Bisa dengan dokter, psikolog, maupun dokter jiwa. Penanganan gangguan jiwa jangan ditunda karena gangguan kejiwaan akan sangat berhubungan dengan masalah lainnya termasuk gangguan fisik.

Peran Psikiater Ketenagakerjaan

Sekarang ini pekerja merupakan bagian masyarakat yang sangat rentan terhadap gangguan mental. Impitan beban kerja, diskriminasi, kurang memadainya besaran upah dan bencana alam yang dihadapi oleh buruh merupakan faktor dominan pemicu stres, depresi dan jenis-jenis gangguan kejiwaan lainnya.

Untuk atasi gangguan kejiwaan di tempat kerja perlu psikiater yang berperan tidak hanya tangani pekerja yang alami gangguan jiwa, namun justru untuk membuat program kesehatan jiwa dan mencegah jangan sampai semakin banyak pekerja yang mengalami stres kerja hingga mengidap neurasthenia. Yakni pekerja merasa lelah mental dan fisik yang diikuti rasa pegal-pegal, sakit punggung dan kepala, gangguan lambung, insomnia, dan indikasi lainnya.

Kesehatan jiwa dikalangan pekerja sangat berpengaruh terhadap kondisi hubungan industrial dan gerakan organisasi pekerja. Saatnya membuat kegiatan kesehatan jiwa untuk menekan potensi gejolak ketenagakerjaan. Dari aspek psikosial dan ekonomi terlihat bahwa pada dasarnya pekerja di Indonesia masih menyimpan deposito keresahan dan ketidakpuasan.

Persoalan ketenagakerjaan juga merupakan bom waktu sosial yang sewaktu waktu bisa meledak. Kondisi hubungan industrial yang sering buntu, posisi advokasi dan peraturan perburuhan yang masih silang sengketa, merosotnya portofolio kompetensi dikalangan buruh, serta terdegradasinya kualitas hak-hak normatif yang didapatkan oleh para pekerja semakin menambah daya ledak bom sosial diatas.

Di luar negeri masalah kesehatan mental kaum pekerja mendapat perhatian besar. Seperti misalnya di Inggris dan negara lain dimana partai buruh eksistensinya cukup kuat.

Berdasarkan data kementerian industri Inggris, sekitar 15 – 30 persen pekerja pernah mengalami gangguan jiwa, minimal satu kali dalam masa kerjanya. Untuk itu pemerintah Inggris setiap tahun selalu menambah anggaran dan program untuk mengatasi kesehatan mental pekerja. (Totoksis).*

Kesehatan jiwa pekerja UU kesehatan jiwa

Related Post

Leave a reply