Media Sosial Jadi Sumber Utama Berita Media Mainstream

74 views

libur media sosial

Reaktor.co.id — Media sosial menjadi sumber utama berita media mainstream. Pasalnya, menurut anggota Dewan Pers, Ahmad Djauhar, sekitar 70 persen berita media arus utama berasal dari media sosial.

“Kondisi sungguh memprihatinkan, karena banyak sumber berita dari media sosial tanpa diverifikasi ulang lagi keakuratannya,” kata Djauhar dalam acara Edukasi dan Media Gathering Kalimantan-Sulawesi 2019 di Makassar, Selasa (8/10/2019).

Menurut Djauhar, kondisi tersebut membunuh kreativitas seorang wartawan. Ia menegaskan, yang utama dari berita adalah menyajikan kebenaran atau fakta-fakta di lapangan.

Djauhar pun menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi wartawan agar mampu memproduksi materi jurnalistik bermutu sesuai kebutuhan masyarakat.

“Agar media massa tidak mencomot 70 persen materinya dari media sosial. Sehingga akhirnya media massa terjebak hoaks yang dihasilkan media sosial,” ucapnya dikutip Antara.

Di sisi lain, pemerintah diminta lebih berpihak dan melindungi keberlangsungan media arus utama yang kian terdesak oleh penetrasi digital, seperti Google, Facebook, Instagram, Youtube, dan WhatsApp.

“Pemerintah harus berpihak melindungi keberlangsungan media mainstream di tanah air,” kata Direktur Eksekutif Komunikonten Hariqo, Wibawa Satria.

Hariqo mengeluhkan, pemerintah yang cenderung bersikap netral menyikapi persaingan usaha di antara keduanya. Sebaliknya, pemerintah dianggap berpangku tangan menyikapi kolapsnya sejumlah media massa tanah air.

Padahal di negara asalnya di Amerika Serikat (AS), media sosial memperoleh proteksi luar biasa. Negeri Paman Sam sangat protekfif menjaga eksistensi media sosial ini dari gangguan negara lain.

“Barrack Obama saat masih menjabat Presiden AS sangat marah bila Google, Facebook, dan Instagram diganggu. Amerika sangat melindungi industri media sosialnya, semestinya ini juga dilakukan pemerintah kita,” papar Hariqo.

Bahkan kalau perlu, pemerintah diminta mencontoh keberanian Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel) melawan kekuatan Google. Dua negara ini memaksa mesin pencari daring mematuhi ketentuannya.

Hariqo menilai, langkah Tiongkok dan Korsel melawan kekuatan Google sudah tepat. Sebab porsi pembagian iklan media sosial dan media mainstream memang tidak adil. Padahal, media sosial memanfaatkan konten media mainstream guna meningkatkan jumlah pengunjung.

“Akibatnya, pengiklan memilih memasang iklan di media sosial dibandingkan di media mainstream. Padahal konten media sosial berasal dari media mainstream,” ungkapnya.

Sehubungan itu, Hariqo meminta pemerintah segera merumuskan undang undang spesifik yang mengatur perlindungan persaingan usaha digital. Aturan ini mengatur porsi pembagian kue iklan antara media mainstream dan media sosial di Indonesia.*

 

media Media Mainstream media sosial

Related Post

Leave a reply