Mayoritas Anak Muda Belajar Islam Melalui Internet

51 views

belajar islam internet

Reaktor.co.id — Mayoritas generasi muda Indonesia belajar Islam melalui internet. Penelitian Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menunjukkan, sebanyak 65,98 persen responden menjadikan internet sebagai sumber rujukan pengetahuan bagi generasi muda untuk mempelajari Islam.

Rinciannya, 31,94 persen mengakses youtube, 17,02 persen mengakses laman muslim (portal Islam), 10,21 persen mengakses laman eramuslim, 6,81 persen mengakses laman NU, dan sisanya beragam.

Ketua Tim Peneliti, Debbie Affianty, menyebutkan, anak-anak muda mempelajari Islam melalui ceramah para ustadz yang ada di internet, terutama Youtube.

Mayoritas dari mereka mengakses ceramah Ustadz Abdul Somad (53,14 persen), Hanan Attaki (6,28 persen), Adi Hidayat (4,97 persen), M. Ainun Najib (4,45 persen), Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym (3,93 persen), dan sisanya beragam (27,23 persen).

“Kajian melalui internet seringkali menyebabkan pengetahuan agama yang didapat menjadi tidak utuh,” katanya dikutip Republika Online, Senin (29/7/2019).

Menurut Debbie, hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar responden masih mengandalkan ustadz dalam pencarian pengetahuan agama. Sebanyak 90,58 persen mengikuti pengajian dengan berbagai bentuk dan sebanyak 58,12 persen responden belajar agama melalui ustadz di masjid.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Dr Abdul Mu’ti, menilai banyaknya generasi muda yang menggunakan internet untuk mempelajari Islam sebagai bentuk dari realitas baru emerging Islam, selain established Islam.

Emerging Islam berkembang karena ditopang media sosial. Ustadz yang netral dan tampil dengan gaya dakwah yang populer, akan lebih diterima.

Hasil penelitian FISIP UMJ di atas tidak jauh berbeda dengan hasil riset sebelumnya yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017.

Dirilis awal November 2017, hasil riset PPIM UIN Jakarta itu menemukan, anak-anak muda gemar mencari sumber pengetahuan agama (Islam) melalui internet berupa blog, website, dan media social dengan persentase 54,87 persen. Sumber rujukan kedua adalah buku atau kitab dengan persentase 48,57 persen.

Menurut Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta, Saiful Umam, seiring berkembangnya dunia teknologi, generasi muda menjadikan internet sebagai rujukan pertama dalam mempelajari Islam.  Channel televisi menempati posisi ketiga dengan presentaso 33,73 persen.

Menurut ustadz yang aktif berdakwah di internet, Ustadz Ahmad Sarwat, di laman resmi yang dikelolanya, Rumah Fiqih, internet itu ibarat buku dan tidak semua buku itu baik.

“Buku atau kitab adalah salah satu media yang cukup bermanfaat, di mana kita bisa mendapatkan ilmu agama yang luas. Demikian juga dengan internet, ada yang isinya baik dan ada yang isinya buruk,” tulisnya.

Di masa sekarang ini, kitab-kitab tulisan para ulama, klasik atau modern, sudah banyak beredar di internet. Bisa didownload sepuasnya dengan tanpa biaya apa pun.

Namun, ia mengingatkan, belajar Islam secara langsung (offline) kepada guru tetap menjadi sebuah keharusan. Sebab, guru akan menegur kita manakala kita salah paham, kurang paham atau tidak paham-paham. Selain itu, guru juga bisa melakukan serangkaian test atau ujian kepada kita.

Menurut Ustadz Sarwat, syarat belajar agama (Islam) lewat internet antara lain ada guru yang ahli di bidangnya, interaktif,  kualitas tulisan ilmiah dengan merujuk kepada sumber rujukan ilmu yang muktamad atau kredibel (dapat dipercaya). (Mel).*

 

Gaya Hidup Internet Islam

Related Post

  1. author
    ant72 months agoReply

    Thanks…
    Untuk belajar agama yaa tetap harus ada guru yg membimbing dan mengajarkan…..
    Belajar tanpa guru dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam ajaran yang salah.

Leave a reply