Ledakan Dahsyat di Beirut, Waspadai Kerawanan SMK3 Industri

234 views

Ledakan dahsyat di Beirut harus menyadarkan semua pihak bahwa kebakaran yang disertai ledakan di gudang atau pabrik berpotensi terulang lagi di tempat lain. Pasalnya masih banyak pengelola industri atau pabrik yang tata kelola Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) masih buruk.

 

Puing-puing dan kepulan asap sesaat setelah ledakan dahsyat di Kota Beirut ( foto istimewa )

Reaktor.co.id- Ledakan dahsyat mengguncang ibu kota Lebanon, Beirut, hari Selasa sore (04/08), menyebabkan paling tidak 100 orang tewas dan lebih dari 4.000 lainnya luka-luka. Ledakan tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya memperhatikan faktor perlakuan terhadap bahan industri yang berbahaya.

Seluruh kota terguncang akibat ledakan dan kepulan asap menyerupai jamur dapat terlihat menyebar di kawasan pelabuhan.Presiden Michel Aoun mengatakan ledakan disebabkan oleh 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan tanpa pengamanan di gudang.

Duta Besar Indonesia untuk Lebanon, Hajriyanto Thohari, mengatakan pihaknya mengantisipasi kesulitan pasokan makanan dalam beberapa hari mendatang setelah ledakan dahsyat itu.

Ia mengatakan sekitar 70% barang-barang impor Lebanon, termasuk makanan dan kebutuhan pokok lainnya, datang melalui lokasi terjadinya ledakan.

“Yang paling utama adalah dampak ekonomi karena untuk beberapa hari ke depan [pasokan] pasti terganggu,” kata Hajriyanto dikutip BBC Indonesia, Rabu (05/08).

Untuk itu, ia mengatakan pihaknya mengimbau para WNI, terutama mereka yang tinggal di Beirut, untuk memperhatikan stok makanan. Ia menambahkan pihak KBRI akan memberikan bantuan bagi mereka yang kesulitan mengakses pasokan makanan.

Waspadai Kerawanan SMK3 Industri

Malapetaka ledakan dahsyat di Beirut disebabkan oleh cara penyimpanan 2.750 ton amonium nitrat di sebuah gudang tanpa prosedur yang benar. Petaka Beirut menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia agar lebih waspada terkait dengan kerawanan SMK3 industri yang bisa menyebabkan ledakan atau kebakaran.

Sebenarnya kasus ledakan serupa pernah terjadi pada tahun1947 di gudang pelabuhan Texas City, Texas, AS saat pengangkutan 2.300 ton pupuk ke kapal pengangkut.

Kasus ledakan hebat di Texas saat itu disebabkan oleh rokok yang dinyalakan oleh pekerja pelabuhan. Padahal kala itu pemerintah AS telah mengeluarkan aturan melarang merokok saat proses bongkar muat. Akan tetapi para pekerja pelabuhan malah kerap merokok selama bertugas.

Amonium nitrat digunakan untuk meningkatkan kandungan netrogen pada pupuk pertanian. Karena senyawa ini murah untuk diproduksi. Karenanya menjadi bahan kimia alternatif populer ketimbang sumber nitrogen lain yang harganya mahal.

Petaka ledakan dahsyat di Beirut harus menyadarkan semua pihak bahwa kebakaran yang disertai ledakan di pabrik berpotensi terulang lagi di tempat lain. Pasalnya masih banyak pengelola industri atau pabrik yang tata kelola Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) masih buruk.

Penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja adalah masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran pelaku industri untuk menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja (k3).

Keselamatan kerja menjadi agenda abadi ILO. Organisasi dunia tersebut merekomendasikan agar SMK3 menjadi salah satu syarat utama yang diberikan oleh negara maju dalam perdagangan global, baik ekspor maupun impor.

Dalam SMK3 diatur ketentuan bahwa para pelaku industri diwajibkan memenuhi persyaratan teknis dan tersertifikasi standar internasional atau nasional. Hal itu sesuai Permenaker No. 8 Tahun 2010. Celakanya para pengusaha sering kali melanggar ketentuan diatas demi memangkas biaya agar meraup keuntungan besar.

Hingga saat ini tenaga ahli SMK3 masih minim dan sering terhambat dalam menjalankan tugasnya. Untuk mencetak SDM ahli SMK3 sebenarnya cukup sulit dan butuh waktu dan biaya. Perlu pengetahuan lintas disiplin.

Pada 2016 telah diterbitkan beberapa peraturan terkait SMK3 antara lain mengenai bidang SMK3 kelistrikan, lift, penyalur petir, bejana bertekanan, dan pesawat tenaga dan produksi. Namun hal diatas belum bisa diterapkan di lapangan karena masih kekurangan SDM. Sehingga pembinaan dan pengawasan terhadap industri masih lambat.

Kasus kebakaran pabrik atau kawasan industri yang sering terjadi merupakan puncak gunung es yang menunjukkan rapuhnya tata kelola infrastruktur industri. Harus disadari bahwa perubahan iklim global, bencana alam, hingga ancaman terorisme atau kerusuhan massa mem┬Čberi pengaruh yang sig┬Čnifikan terhadap eksistensi infrastruktur industri.

Cuaca ekstrim dan musim yang tidak menentu menyebabkan kondisi fisik bangunan dan peralatan mengalami gangguan berat. Sayangnya, gangguan diatas sering luput dari perhatian yang memiliki otoritas untuk mengelola infrastruktur.

Potensi gangguan yang berpotensi mendatangkan bahaya itu semakin serius karena umur operasi infrastruktur pabrik semakin tua sehingga didera oleh biaya perawatan yang sangat tinggi. Selain itu seringkali terjadi penundaan jadwal perawatan berkala dan penggantian komponen yang sudah tidak bisa beroperasi semestinya.

Kasus ledakan yang sering terjadi di tangki industri mestinya tidak boleh terjadi. Karena tangki tersebut sudah pasti dilengkapi dengan sensor untuk mendeteksi tekanan, temperatur, serta dilengkapi dengan colling system atau sistem pendinginan.

Menurut standar operasi tentu semua sensor diatas setiap saat dapat dimonitor oleh teknisi yang memiliki tanggung jawab pada reliability plant equipment (keandalan peralatan dilapangan ). Sehingga instalasi pressurized system, dari yang namanya pipeline hingga storage tank semuanya memiliki prosedur monitoring yang baku untuk mencegah kerusakan dan bahaya lainnya. (*)

Ledakan Dahsyat di Beirut Waspadai Kerawanan SMK3 Industri

Related Post

Leave a reply