KPAI Ingatkan Para Orangtua, Anak Korban Kejahatan Siber Meningkat

66 views
korban internet anak

Orangtua harus mendampingi anak yang bermain internet (Foto: KPAI)

Reaktor.co.id, Jakarta —  Kejahatan siber berupa pelecehan seksual terhadap anak atau child grooming melalui media sosial tengah marak terjadi di Indonesia.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan para orangtua melakukan pendampingan ketika anak menggunakan telepon genggam atau laptop. Orang tua merupakan benteng utama untuk melindungi anak dari paparan negatif internet

Komisioner Bidang Kesehatan KPAI Siti Hikmawati menyebutkan, pelaku child grooming punya pintu masuk sendiri untuk merayu korban.

Pintu masuk tersebut, lanjut Siti, bisa secara langsung maupun melalui dunia maya. “Satu cara yang dilakukan pelaku adalah melakukan profiling dan mengidentifikasi korban,” katanya dilansir laman resmi KPAI.

“Kejahatan pornografi yang menyasar anak di bawah umur terus mengalami peningkatan setiap tahun. Salah satu faktor pemicu tingginya kasus itu adalah mudahnya akses internet dan lemahnya pengawasan orangtua,” tegasnya.

Data KPAI mencatat, total pengaduan kasus pornografi dan cyber crime atau kejahatan online yang menjerat anak-anak pada 2014 sebanyak 322 kasus, 2015 sekitar 463 kasus, 2016 meningkat menjadi 587 kasus, tahun 2017 menjadi 608 kasus, dan tahun 2018 naik mencapai 679 kasus.

Menurut Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime KPAI, Margaret Aliyatul Maimunah, peristiwa ini terjadi karena banyak faktor. Salah satu pemicu utamanya adalah tidak bijaknya menggunakan media sosial (medsos) atau mudahnya akses internet melalui gadget, HP, laptop, dan lainnya.

“Anak- anak dalam mengakses internet rentan terpapar berbagai konten negatif seperti pornografi, game online yang bermuatan kekerasan dan pornografi, informasi hoaks, ujaran kebencian, adiksi gadget, radikalisme, serta perilaku sosial menyimpang,” katanya.

Kasus pengaduan anak berdasarkan klaster perlindungan anak bidang pornografi dan cyber crime KPAI, pada 2011-2018 mengalami kenaikan.

Jenis aduan di antaranya anak korban kejahatan seksual online, anak pelaku kejahatan online, anak korban pornografi di medsos, anak pelaku kepemilikan media pornografi, dan anak pelaku bullying di medsos.

Untuk kejahatan siber yang paling sering diadukan ke KPAI di antaranya, pelaku video pornografi, sexting (chat bermuatan konten pornografi), terlibat dalam grup-grup pornografi.

Grooming atau proses untuk membangun komunikasi dengan seorang anak melalui internet dengan tujuan memikat, memanipulasi, atau menghasut anak tersebut agar terlibat dalam aktivitas seksual.

Selain itu, ada juga sextortion, yaitu pacaran online berujung pemerasan, cyber bully,  perjudian online, live streaming video dan trafficking serta penipuan online.

“Ini adalah tantangan bagi orangtua dalam mendidik anak di tengah deras dan cepatnya perkembangan teknologi melalui internet. Untuk itu, perlu ada kewaspadaan pada orangtua dalam melindungi anak-anaknya,” kata Margaret.

Dia menambahkan, pendampingan orangtua dalam penggunaan HP dan internet sangat penting. Selain itu, perlu ada komunikasi dan kesepakatan antara orangtua dalam penggunaan internet melalui HP maupun laptop.

“Melihat ancaman bahaya tersebut, perlunya antisipasi dalam melindungi anak-anak kita dari pengaruh negatif internet dan kejahatan siber. Belum lagi, adanya ancaman UU ITE bagi anak,” katanya

“Tugas melindungi anak itu tidak  dibebankan pada pemerintah saja, tapi juga pada orang tua dan masyarakat secara umum,” imbuhnya.

Margaret menegaskan perlunya pendampingan orang tua ketika seorang anak sedang menggunakan telepon genggam atau laptop. Orang tua merupakan benteng utama untuk melindungi anak dari paparan negatif internet.

“Perlu adanya komunikasi dan kesepakatan antara orang tua dalam penggunaan internet melalui telepon maupun laptop,” katanya.

Ia mengatakan, anak-anak dalam mengakses internet rentan terpapar berbagai konten negatif, seperti pornografi, game online yang bermuatan kekerasan dan pornografi, informasi hoaks, ujaran kebencian, adiksi gadget, radikalisme, serta perilaku sosial menyimpang.

“Kasus ini adalah tantangan bagi orangtua dalam mendidik anaknya di tengah deras dan cepatnya perkembangan teknologi melalui internet. Untuk itu, perlu adanya kewaspadaan pada orang tua dalam melindungi anak-anaknya,” katanya.*

 

Anak Korban Internet Child Grooming Kejahatan Internet kejahatan siber Korban Internet KPAI

Related Post

Leave a reply