Korona bisa Menular tanpa Tunjukkan Gejala, Moda Transportasi perlu Antisipasi Ketat

727 views

Masa inkubasi virus Corona nCoV antara satu hingga 14 hari, dan selama masa inkubasi itu, virus juga dapat menular tanpa seseorang yang terjangkit menunjukkan gejala.

Reaktor.co.id-Pemerintah Tiongkok mengeluarkan peringatan bahwa penyebaran virus Korona baru yang mematikan diperkirakan akan lebih cepat. Seruan itu makin meningkatkan kekhawatiran tentang bahaya wabah yang telah menewaskan puluhan orang di Tiongkok itu dan menyebar ke sejumlah negara tersebut.

Dikutip dari AFP, Menteri Komisi Kesehatan Tiongkok, Ma Xiaowei, mengungkapkan masa inkubasi virus Corona nCoV tersebut adalah antara satu hingga 14 hari, dan selama masa inkubasi itu, virus juga dapat menular tanpa seseorang yang terjangkit menunjukkan gejala.

Hal itu yang membedakan wabah korona baru ini dengan SARS, jenis virus Korona yang sebelumnya juga berasal dari Tiongkok, dan menewaskan hampir 800 orang pada tahun 2002–2003. Wabah SARS diketahui tidak menular pada masa inkubasi.

“Kami memperkirakan wabah akan berlanjut,” kata Ma pada konferensi pers di Beijing, Minggu (26/1), sambil memberi catatan bahwa virus itu menyebar dengan cepat.

Pengumuman itu muncul ketika Tiongkok mengonfirmasi bahwa 56 orang telah meninggal karena penyakit pernapasan itu. Sementara 2.033 orang lain juga dilaporkan terinfeksi, termasuk tiga orang di Taiwan.

Taipei telah melarang hampir semua kunjungan dari Tiongkok sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran virus di pulau itu. Larangan itu bersamaan dengan peningkatan upaya oleh pemerintah di seluruh dunia untuk menghentikan penyebaran penyakit yang mirip SARS itu.

Kondisi darurat kesehatan akibat menyebarnya wabah korona ini terjadi saat masyarakat Tiongkok tengah merayakan tahun baru. Studi ilmiah tentang wabah ini yang dirilis pada akhir pekan, menunjukkan betapa sulit upaya untuk menahan dan penyebaran infeksi itu.

Pemodelan komputer yang dilakukan oleh dua kelompok peneliti dari Imperial College London dan Lancaster University, di Inggris, telah menemukan bahwa rata-rata setiap kasus menginfeksi sekitar 2,5 orang lainnya, sementara dua tim ilmiah di Tiongkok memberikan data klinis terperinci pertama yang menunjukkan penularan virus antarmanusia.

“Langkah-langkah pengendalian perlu memblokir lebih dari 60 persen penularan agar efektif dalam mengendalikan wabah,” kata ahli dari sekolah kesehatan masyarakat Imperial College, Neil Ferguson.
“Tidak jelas apakah wabah ini dapat diatasi di Tiongkok. Kita perlu merencanakan kemungkinan soal tidak mungkin menahan epidemi ini,” tambahnya.

Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mengatakan saat ini Tiongkok menghadapi situasi yang sulit akibat virus Korona ini. Xi mengadakan pertemuan politbiro pada Sabtu mengkaji langkah-langkah untuk memerangi wabah berbahaya ini. “Negara sedang menghadapi situasi gawat akibat virus,” kata Presiden Tiongkok, Xi Jinping, pada pertemuan pimpinan puncak Partai Komunis, Sabtu (25/1).

Antisipasi Transportasi Udara

Wabah virus Korona yang sangat mencemaskan warga dunia perlu diantisipasi sebaik-baiknya. Apalagi negeri ini banyak berhubungan dalam berbagai hal dengan China.

Kasus berjangkitnya virus Korona perlu ditangani sebaik-baiknya dengan melibatkan lintas sektoral. Terutama ditujukan bagi pelaku usaha transportasi udara. Ancaman wabah virus korona juga mencuatkan betapa pentingnya perbaikan sistem perawatan kabin pesawat komersil. Selain itu juga diperlukan tata kelola traveler medicine untuk mengatasi kasus diatas.

Wabah Korona membawa implikasi yang cukup serius dalam dunia transportasi regional dan global. Ancaman Korona dan penyakit endemik lainnya sangat potensial menyebar lewat transportasi udara.

Potensi itu semakin meningkat terkait masih mahalnya biaya perawatan kabin pesawat terbang yang menyebabkan beberapa maskapai penerbangan kurang memperhatikan aspek kesehatan penumpang.

Padahal, pesawat terbang sangat potensial sebagai perantara berbagai penyakit. Mestinya wabah yang telah menjadi pandemik global segera disertai dengan perbaikan prosedur perawatan kabin pesawat terbang.

Kabin pesawat terbang merupakan konstruksi yang cukup kompleks sehingga memerlukan perawatan dan inspeksi yang ketat. Setiap saat berbagai insiden bisa terjadi dikabin.

Dari masalah ducting dari selang air conditioning yang distribusinya tidak merata atau bocor sehingga sangat mengganggu penumpang di lokasi tertentu hingga terpaparnya kabin oleh berbagai virus. Apalagi karena faktor ekonomi, maka tingkat utilitas pesawat terus digenjot sampai titik tertinggi.

Bahkan, ada maskapai penerbangan yang hanya menerapkan 25 menit di darat, termasuk loading dan unloading. Hal itulah yang menyebabkan buruknya usaha maskapai melakukan disinfeksi pesawat-pesawatnya dari penyakit menular terutama yang disebabkan oleh virus.

Tak bisa dimungkiri, pesawat terbang dan infrastruktur bandara sangat potensial menjadi sarang penyakit. Pada saat ini, aviation medicine dalam konteks penyakit menular dan korelasinya dengan pesawat terbang telah menjadi bahasan penting dunia dalam sepuluh tahun terakhir ini.

Pesawat terbang bisa menjadi pintu masuk berbagai penyakit menular. Seperti dinyatakan dalam berbagai kajian. Salah satunya adalah kajian berjudul Syndromic Surveillance; Outbreak Detection and Disease Monitoring, di Washington DC beberapa waktu yang lalu.

Berbagai titik kritis pada pesawat udara sebagai vektor penyakit antara lain ditunjukkan oleh faktor belum adanya standar internasional yang mengatur posisi tempat duduk, atau aturan yang mewajibkan perusahaan penerbangan untuk mengungkapkan berbagai informasi berkenaan dengan kesehatan penumpang kepada pejabat kesehatan.

Kondisinya bisa semakin fatal karena maskapai penerbangan di negeri ini mengoperasikan pesawatnya terlalu over sehingga kondisi di kabin pesawat kurang sehat. Kasus diatas sangat bertentangan dengan rekomendasi dari Committee on Air Quality in Passenger Cabins of Commercial Aircraft yang mewajibkan sejumlah standar kenyamanan bagi penumpang di dalam kabin.

Meskipun kabin pesawat terbang di desain sesuai dengan regulasi antara lain termaktub dalam Federal Aviation Regulation (FAR) 25 dan 36. Namun, kondisi udara di kabin masih rentan terhadap kesehatan penumpang.

Kabin pesawat terbang memang telah dilengkapi dengan Enviroment and Protective System (EPS) seperti komponen CPCS ( Cabin Presure Control Sistem ), Air Conditioning, Oksigen System dan lain-lain yang merupakan alat pengontrol tekanan dan kualitas udara. Sehingga setiap menit udara segar bisa disedot dari luar kabin melalui filter.

Udara yang dihasilkan di kabin adalah kombinasi udara dari luar dengan recycle udara kabin pesawat yang selanjutnya disaring dengan filter anti mikroba (microbe-trapping filters) yang akhirnya menghasilkan udara sehat.

Satu hal yang sulit diatasi adalah udara yang dihasilkan pada kabin pesawat terbang adalah udara yang kering karena kandungan air yang dihasilkan hanya maksimum 15 % saja oleh karena itu beberapa airline berusaha menaikkan tingkat humidity dengan alat tambahan yang dikenal sebagai humidying system.

Sayangnya harga alat itu cukup mahal sekitar 200 ribu dollar AS, berumur pendek, dan hanya mampu menaikkan humidity sampai maksimum 25 % saja.

Jika maskapai penerbangan telah melakukan proses disinfeksi dan perawatan komponen EPS sebaik mungkin, namun harus tetap waspada terhadap penumpang yang menderita demam dan gejala respirasi.

Bila awak pesawat mengetahui ada penumpang dengan gejala Koona dari daerah terjangkit, harus mengusahakan supaya penumpang tersebut mendapat tempat duduk sebisa mungkin terpisah dari penumpang lain dengan jarak 3-6 feet.

Kemudian penumpang tersebut harus memakai masker untuk mengurangi jumlah droplet ke udara.
Selain itu awak pesawat harus memakai sarung tangan disposibel bila melakukan kontak langsung. Sebelum mendarat kapten pesawat harus melaporkan terlebih dahulu ke karantina perihal penumpang sakit. (TS).*

Corona nCoV Federal Aviation Regulation (FAR) 25 dan 36.

Related Post

Leave a reply