KKN di Desa Penari, Antara Fakta dan Fiktif

1030 views

KKN di Desa Penari

Reaktor.co.id — Media sosial dihebohkan dengan kisah misteri dan horor “KKN di Desa Penari”. Tagar #kknpenari trending di Twitter. Hingga Sabtu(31/8/2019), sudah lebih dari 4.000 cuitan soal KKN Desa Penari dengan beragam kicauan.

Beberapa menyebut cerita itu fiktif, ada pula yang membawa bukti kebenaran cerita tersebut lewat foto dan lainnya.

Cerita KNN di Desa Penari ini diunggah pertama kali oleh akun SimpleMan. Nama-nama mahasiswa, lokasi, kampus, disamarkan, namun belakangan terungkap juga, kecuali lokasi yang masih misteri (atau fiktif?).

Berikut ini kisah selengkapnya dirangkum dari berbagai sumber.

Diceritakan, beberapa mahasiswa melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), di akhir tahun 2009. Mereka adalah Widya, Nur, Ayu, Bima, Wahyu, dan Anton, mahasiswa angkatan 2005/2006.

Dalam perjalanan menuju Desa Penari, mereka mulai merasakan berbagai kejadian mistis, seperti terdengar suara gamelan hingga orang yang menari.

Setibanya di desa yang dituju, sebagaimana lazimnya SOP KKN mahasiswa, mereka bertemu kepala desa yang bernama Prabu. Keesokan harinya, Prabu mengajak para mahasiswa keliling desa.

Di perjalanan pertama, Prabu mengajak para mahasiswa KKN itu ke sebuah pemakaman yang aneh. Pemakaman yang dikelilingi pohon beringin itu, terdapat batu nisan yang ditutupi kain hitam. Ada sesajen di setiap batu dekat pohon beringinnya.

“Ini itu namanya, Sangkarso. Kepercayaan orang sini, jadi biar tahu, kalau ini loh pemakaman,” kata Prabu, menjelaskan.

“Orang bodoh juga bisa membedakan kuburan dan lapangan bola, Pak,” kata Wahyu dan Anton.

“Semoga saja, kalian tahu yang di omongkan ya,” timpal Prabu.

Mereka diajak kembali untuk melihat tempat-tempat lainnya. Hingga akhirnya seorang mahasiswa, Nur, izin pulang ke rumah singgah. Ia diantar oleh Bima. Perjalanan ilanjutkan oleh empat orang mahasiswa lainnya.

Suatu malam, keanehan mulai dirasakan para mahasiswa tersebut, seperti Widya yang mulai menari-nari. Melihat keanehan itu, Prabu segera membawa para mahasiswa itu dengan menggunakan sepeda motor ke tempat orang yang dituakan di desa itu yang disebut Mbah Buyut.

Setibanya di rumah Mbah Buyut, para mehasiswa itu diminta meminum kopi ireng. Ternyata, kopi yang rasanya pahit itu merupakan racikan untuk “memanggil lelembut, demit, dan sejenisnya”.

Setelah kunjungannya disimpulkan, ada sosok makhluk gaib yang mengikuti Widya.

“Mohon maaf ya nak, kamu, ada yang mengikuti,” kata Prabu kepada Widya.

KKN mereka pun tetap berjalan sesuai rencana. Hingga akhirnya Wahyu dan Widya harus pergi ke kota untuk kebutuhan KKN-nya dengan meminjam sepeda motor Prabu.

Setelah menembus hutan, mereka tiba ke kota dan membeli berbagai kebutuhannya untuk di desa tempat mereka KKN. Selesai itu, Wahyu dan Widya kembali ke desa dengan kembali memasuki hutan.

Selama perjalanan menuju desa, motor yang mereka tumpangi mengalami kerusakan. Setelah beberapa lama, mereka pun bertemu dengan bapak tua yang mencoba menolongnya.

Sambil mencoba memperbaiki motor mereka, Wahyu dan Widya disuguhkan makanan hingga melihat beberapa penari yang cantik ikut melintas. Widya dan Wahyu ikut membungkus makanan tersebut.

Sesampainya di desa, bungkus makanan tersebut ada kepala monyet yang masih segar lengkap dengan bau amis dan masih berlendir.

Puncak keanehan terjadi saat Widya melihat sosok Bima yang sedang mandi di kolam sambil dikelilingi ular yang banyak sekali. Tidak hanya itu, Widya pun melihat Ayu menari-nari.

Usut punya usut, Bima dan Ayu dinilai sudah melakukan hal yang dilarang norma dan peraturan di desa tersebut. Sehingga, peristiwa yang terjadi kepada Bima dan Wahyu merupakan bagian dari hukumannya.

Alhasil, saat itu tubuh Ayu masih terbaring dengan mata melotot seperti orang lumpuh, tubuh Bima masih kejang-kejang.

Rombongan pihak keluarga dan panitia KKN tiba di desa dan membawa Ayu dan Bima, walaupun sebelumnya Widya sempat meminta agar keduanya tetap tinggal di desa.

Namun, keduanya tetap dibawa pulang. Tidak lama berselang keduanya pun akhirnya dikabarkan meninggal dunia. Hingga kini belum diketahui kebenaran cerita yang terjadi di sebuah kota berawalan B di Jawa Timur itu.

Penulis cerita ‘KKN di Desa Penari’ merupakan anonim dengan nama ‘SimpleMan’. Cerita itu pun sudah mendapat retweet hingga 11 ribu kali.

Awalnya, cerita KKN di Desa Penari itu menyebutkan, mahasiswa mengikuti KKN di Desa Penari berjumlah 6 orang. Namun kemudian penulis meralat jumlah menjadi 14 orang karena ingin memfokuskan pada cerita.

Dari 14 orang yang mengikuti KKN di Desa Penari, penulis memfokuskan cerita pada 6 orang. Pasalnya, keenam orang tersebut saling terlibat, yaitu Widya, Nur, Ayu, Wahyu, Bima, dan Anton.

Sang penulis cerita KKN di Desa Penari membagikan dua versi cerita, yakni berdasarkan sudut pandang Widya dan kedua sudut pandang Nur.

Banyak netizen yang berspekulasi mengenai lokasi KKN di Desa Penari itu di mana. Penulis hanya memberikan petunjuk dengan nama kota ‘B’ di bagian Jawa Timur.

Warganet kemudian berspekulasi bahwa KKN tersebut digelar di Kota B yang berarti Banyuwangi.

Dari penulusuran Detikcom, ada dua daerah di Banyuwangi yang diduga memiliki kemiripan dengan latar tempat di cerita horor tersebut, yakni di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, dan Desa Bayu, Kecamatan Songgon.

Di Kecamatan Songgon terdapat danau yang berada di sekitar hutan, kaki Gunung Raung. Tepatnya di Kawasan KRPH Perhutani Banyuwangi Barat atau di Dusun Sambungrejo.

Danau itu terletak di sekitar sumber air dan petilasan Prabu Tawang Alun yang dikeramatkan. Lokasi ini berada sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi.

Namun, Hutan Dadapan yang disebutkan dalam cerita horor tersebut tak ditemukan. Bahkan, cerita mistis tentang penari juga tak pernah terdengar di wilayah tersebut.

Menurut Kepala Desa Bayu, Sugito, Telaga Rowo Bayu merupakan lokasi sakral masyarakat Banyuwangi saat zaman penjajahan. Ia yakin wilayah tersebut tidak pernah dijadikan tempat Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari perguruan tinggi dari luar Banyuwangi.

Pemilik akun Simple Man menyebutkan, pesan moral dari kisah itu adalah kita harus menjaga tata krama di mana pun berada, serta saling menghargai dan menjaga satu sama lain. (detikcom/okezone/kumparan).*

 

KKN di Desa Penari

Related Post

  1. author

    […] Saking banyaknya warganet yang mengomentari video itu, sang pengunggah pun mengaitkannya dengan kehebohan cerita horor yang sedang viral, yaitu “KKN di Desa Penari“. […]

Leave a reply