Kenaikan Cukai Rokok Bakal Picu PHK Massal Pekerja

52 views

Pekerja Rokok

Reaktor.co.id — Pemerintah secara resmi menaikan cukai rokok sebesar 23 persen. Kenaikan ini turut mendorong harga jual eceran rokok sebesar 35 persen per 1 Januari 2020.

Kenaikan cukai rokok turut berimbas pada nasib para pekerja yang bergerak di industri rokok. Mereka terancam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Menurut Ketua Umum Gabungan Persatuan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Henry Najoan, penerapan regulasi ini bakal turut berdampak kepada perusahaan-perusahaan rokok yang melakukan efisiensi.

“Kalau masalah PHK sudah tergantung kemampuan masing-masing perusahaan. Tapi jangka panjang akan dilakukan efisiensi,” ujarnyadi Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Ia memastikan, pelaku usaha sudah memperhitungkan adanya potensi penjualan produk rokok saat kebijakan tersebut mulai berlaku.

“Tapi dari anggota sudah mulai memperhitungkan efisiensi. Potensi penurunan penjualan di 2020 cukup besar,” jelasnya.

Penurunan penjualan ini juga akan berjalan beriringan dengan efisiensi jumlah pekerja. Henry menyatakan, pengurangan produk yang dipasarkan otomatis bakal berdampak terhadap banyak hal, termasuk pemangkasan tenaga kerja.

“Secara otomatis pelaku bisnis anggota kami pada saat penjualan turun pertama kali yang dilakukan adalah efisiensi dalam hal produksi dan lain lain. The last minute adalah rasionalisasi,” ucapnya.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Hanif Dhakiri berharap, tak ada PHK dari industri rokok atas kenaikan cukai rokok di tahun depan.

Alasanya, industri rokok didominasi oleh pekerja perempuan. Selain itu, mereka juga memiliki pendidikan terbatas dan tak lagi muda (paruh baya).

“Kita sih minta jangan sampai ada PHK di industri rokok karena di industri ini kan didominasi pekerja perempuan, juga tak lagi muda dengan pendidikan terbatas,” ujarnya.

Hanif menerangkan, dari industri sendiri telah ada permintaan diskusi terkait keputusan Pemerintah menaikkan cukai rokok ini pada tahun depan.

“Belum ada laporan, tapi ada permintaan-permintaan dari industri rokok untuk diskusikan kenaikan cukai rokok ini,” kata dia.

Namun, menurut GAPPRI, PHK pekerja rokok tampaknya tak bisa dihindari. Pengurangan karyawan terpaksa dilakukan karena kenaikan cukai akan menggerus penjualan dari industri hasil tembakau (IHT), meliputi tembakau dan cengkeh yang digunakan untuk membuat rokok.

Henry menjelaskan, pengurangan karyawan dilakukan dalam rencana jangka panjang.

“Kalau masalah PHK itu tergantung kemampuan masing-masing perusahaan. Tapi jangka panjang arahnya bisa ke sana, untuk melakukan efisiensi,” katanya.

Menurutnya kenaikan cukai sangat memberatkan pelaku industri hasil tembakau (IHT). Bahkan pihaknya memprediksi akan terjadi penurunan penjualan tembakau maupun cengkeh untuk rokok.

Kemungkinan penurunan penjualan itu akan berujung pada upaya efisiensi, salah satunya adalah pengurangan tenaga kerja.

Henry menjelaskan, penurunan penjualan akan dirasakan oleh industri penghasil tembakau dan cengkeh yang digunakan untuk membuat rokok.

“Potensi penurunan penjualan di tahun 2020 cukup besar sekitar 15% untuk tembakau, kemudian untuk cengkeh bisa sampai 30%. Kemudian penjualan pun bisa diperkirakan turun,” katanya.

Turunnya penjualan ini akan membuat pelaku industri harus melakukan rasionalisasi dengan mengurangi jumlah karyawan alias melakukan PHK.

“Ya secara otomatis pelaku bisnis anggota kami pada saat penjualan turun pertama kali yang dilakukan adalah efisiensi dalam hal produksi dan lain-lain, the last minute adalah rasionalisasi,” jelasnya. (rl/antara/liputan6).*

 

Cukai Rokok Harga Rokok Industri Rokok PHK Pekerja Rokok

Related Post

Leave a reply