Kemnaker Bangun 402 Desmigratif Hingga 2019, Perlu Usaha Rintisan

64 views

Program Desa Migran Produktif (Desmigratif) belum efektif. Program yang diperuntukkan bagi keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) itu pelaksanaannya terkesan asal-asalan. Keluarga pekerja migran belum banyak memetik manfaatnya. Perlu dorongan kreatifitas dan inovasi untuk menumbuhkan usaha rintisasan (startup ) yang dilakukan oleh keluarga pekerja migran.

Reaktor.co.id – Desmigratif merupakan program lintas kementerian bersama Bank Indonesia. Yaitu Kemeneterian Ketenagakerjaan, Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi, Badan Ekonomi Kreatif. Kemenkominfo, Kemenkes, Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian BUMN.

Sasaran Program Desmigratif adalah kantong TKI dan memiliki tujuan utama berupa solusi praktis sosial dan ekononi seperti menjaga keutuhan keluarga TKI. Dalam pelaksanaannya, terdapat 4 pilar kegiatan utama, yaitu layanan migrasi, usaha produktif, community parenting, dan pembentukan Koperasi Desmigratif.

Menurut Kemnaker sejak 2016 hingga 2019 telah dibentuk 402 aktivitas Desmigratif. “Pembentukan Desmigratif merupakan salah satu solusi dan bentuk kepedulian serta kehadiran negara dalam meningkatkan pelayanan perlindungan kepada Calon PMI ataupun PMI dan anggota keluarganya, yang bersifat terkoordinasi dan terintegrasi antar kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan lainnya,” kata Sekretaris Jenderal Kemnaker, Khairul Anwar dalam acara Forum Bakohumas Kemnaker di Surakarta.

Khairul menjelaskan, Desmigratif adalah upaya melindungi pekerja migran dan keluarganya sejak dari desa. Program ini menuntut peran aktif hingga satuan unit pemerintahan terkecil, yakni pemerintah desa, dalam menyediakan layanan informasi, memberdayakan potensi desa, mengelola koperasi desa, hingga pendidikan anak-anak pekerja migran.

Dia pun mengajak seluruh pihak, baik lintas kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah, untuk memberikan perhatian lebih terhadap program tersebut.

“Sudah saatnya kita bersama-sama bersinergi, berinteraksi melihat (Desmigratif) ini sebagai program bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Rosarita Niken Widiastuti, mengatakan, program Desmigratif memiliki manfaat besar bagi pekerja migran dan keluarganya. Sayangnya, program Desmigratif belum cukup dikenal oleh masyarakat.

Untuk itu, ia meminta lintas pemerintahan, baik di pusat dan daerah, maupun masyarakat umum, untuk turut serta mendesimenasikan Desmigratif.

“Sehingga daerah-daerah lain yang cukup banyak pekerja migrannya dapat mencontoh dan pada akhirnya perlindungan pekerja migran dapat ditingkatkan,” kata Niken.

Melalui program Desmigratif, ia menilai permasalahan tersebut dapat diminimalisir. Karena, program Desmigratif menyasar langsung desa kantong pekerja migran.

“Sebelum calon pekerja migran berangkat, mereka perlu sekali mengetahui aturan-aturan agar mereka tidak tertipu calo sehingga mereka tidak terlantar,” kata Niken yang pernah menjadi direktur RRI.

Usaha Rintisan

Pengkaji massive action ketenagakerjaan Arif Minardi menyatakan bahwa aliran remitansi dari pekerja migran sangat berarti bagi devisa negara dan dana pembangunan nasional. Namun belum disertai balas jasa bagi keluarga pekerja migran.

“Sudah selayaknya pahlawan devisa itu dibantu untuk melakukan transformasi diri menjadi pengusaha. Untuk meningkatkan derajat kehidupannya. Perlu pelatihan massal bagi pekerja migran beserta keluarganya di kampung halaman terkait dengan pendirian usaha rintisan atau startup yang berbasis desa,” kata Arif yang kini menjabat sebagai Ketum FSP LEM SPSI.

Arif Minardi

Arif menekankan agar pihak perbankan jangan hanya menikmati untung besar dari bisnis remitansi atau layanan pengiriman uang antar negara. Pihak perbankan semestinya membayar hutang budi kepada buruh migran dengan cara menyelenggarakan pelatihan usaha secara massal dan terus menerus kepada buruh dan keluarganya.

Bank Indonesia (BI) mencatat nilai remitansi atau transfer uang dari para pekerja migran Indonesia ke dalam negeri mencapai 8,8 miliar dolar AS dalam setahun terakhir. Apabila dihitung berdasar kurs Rp 14.530 per dolar AS, nilai remitansi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu setara dengan Rp 128 triliun. Meskipun demikian nilai remitansi itu ternyata belum ideal untuk ukuran negara sebesar Indonesia. Bandingkan dengan hasil remitansi buruh migran asal Filipina yang lebih besar. Mencapai 33 miliar dolar AS setahun.

The Global Knowledge Partnership on Migration and Development (KNOMAD) dalam laporan berjudul Migration and Remittances, Recent Developments and Outlook April 2018, mencatat Indonesia termasuk dalam 10 besar negara yang menerima kiriman uang remitansi terbesar di dunia dan berada di posisi ke-10.

Posisi pertama sebagai negara yang memperoleh dana remitansi terbesar dipegang oleh India dengan nilai mencapai 69 miliar dollar AS. Diikuti oleh Cina yang mereguk remitansi hingga 64 miliar dollar AS. Filipina menjadi negara terbesar ketiga yang menerima kiriman dengan nominal sekitar 33 miliar dollar AS.

India mampu mereguk remitansi dalam jumlah tinggi karena sekitar 32 juta warganya menjadi diaspora. Mayoritas dari mereka tinggal dan bekerja di AS, Arab Saudi, Kanada dan Australia. Kontribusi pekerja migran yang memiliki keterampilan tinggi menyebabkan pertumbuhan remitansi India menjadi yang teratas di dunia.

Pelatihan usaha bagi purna pekerja migran ( foto istimewa )

Bank Indonesia harus terus mendorong pengembangan Desmigratif. Program tersebut jangan hanya menjadi jargon dan sebatas program basa-basi.

Perlu mewujudkan kebijakan yang bertujuan untuk membuat para pekerja migran mandiri setelah selesai kontrak. Program diatas memiliki prinsip utama, yaitu mengubah buruh menjadi majikan, mempersatukan keluarga melalui entrepreneurship atau kewirausahaan.

Prospek usaha rintisan buruh migran saat ini mendapat perhatian serius di seluruh dunia. Saatnya bagi Indonesia untuk mendorong buruh migran dan keluarganya agar bertransformasi diri menjadi pengusaha. Ada fenomena yang sangat menarik dan bisa dijadikan contoh model yang bagus. Yakni pekerja migran dari berbagai negara yang menggeluti usaha rintisan di Jerman.

Semakin banyak pendatang di Jerman yang mendirikan startup. Menurut laporan Bank Pembangunan Jerman KfW, seperlima usaha rintisan di Jerman didirikan oleh kalangan migran. Para pekerja migran di Jerman ternyata memiliki banyak gagasan bisnis yang konkret dan berhasil meluncurkan produk baru ke pasaran.

Para migran itu menjadi pengusaha dalam usia yang muda. Sekitar 48 persen wiraswasta berlatar belakang migran berusia di bawah 30 tahun. Para migran terbesar yang tampil sebagai pendiri usaha rintisan di Jerman adalah warga Turki. (Totoksis).*

Arif Minardi desmigratif Pekerja Migran usaha rintisan

Related Post

Leave a reply