Kekerasan Terhadap Pekerja Medis, Hancurnya Sila Kemanusiaan

135 views

Kekerasan terhadap pekerja medis adalah indikator hancurnya sila kemanusiaan di Tanah Air. Padahal dalam perang saja, ada ketentuan dan kode etik untuk melindungi tenaga medis beserta peralatan dan kendaraan transportasinya. Pemerintah mestinya berkewajiban untuk melindungi, menjamin, dan menjaga keamanan tenaga kesehatan selama bertugas.

Pekerja medis PMI

 

Reaktor.co.id – Kekerasan semakin merajalela di Tanah Air. Sampai-sampai pekerja atau tenaga medis pun telah menjadi sasaran.

Diantaranya peristiwa yang menimpa dokter Soeko Marsetyo yang gugur dalam tugas kemanusiaan di Papua. Bahkan di ibukota negara, kekerasan terhadap pekerja medis juga sering terjadi, salah satu kasus menimpa para pekerja medis yang menyertai ambulans PMI Jakarta Timur. Saat tengah bertugas untuk kemanusiaan juga mendapat kekerasan oleh aparat, baik kekerasan fisik maupun fitnah keji.

Kekerasan terhadap pekerja medis adalah indikator hancurnya sila kemanusiaan di Tanah Air. Sangat ironis, aparat keamanan sudah tidak memahami lagi arti petugas kemanusiaan.

Padahal dalam perang saja, ada ketentuan dan kode etik untuk melindungi tenaga medis beserta peralatan dan kendaraan transportasinya (ambulans).  Nampaknya ada kekacauan doktrin dan kesalahan sistem pendidikan bagi personel keamanan sehingga tega-teganya melakukan kekerasan terhadap tenaga medis.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) selama ini mendorong pemerintah untuk mengeluarkan undang-undang (UU) perlindungan tenaga kesehatan. UU tersebut diajukan menyusul maraknya tindak kekerasan terhadap tenaga medis.

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Ilham Oetama Marsis mengatakan, pemerintah berkewajiban untuk melindungi, menjamin, dan menjaga keamanan tenaga kesehatan selama bertugas.

 

Razan al-Najjar

Kebrutalan aparat terhadap pekerja medis sudah pasti dikecam oleh dunia. Seperti kejadian Seorang perawat perempuan Palestina bernama Razan al-Najjar, yang ditembak oleh tentara zionis Israel saat berusaha menjangkau korban kerusuhan di jalur Gaza.

Menurut beberapa saksi, Razan saat itu sudah mengenakan jas putih, tanda kalau ia adalah tenaga medis yang bertugas. Ia juga sudah mengangkat tangan tinggi-tinggi, seolah minta diberi waktu untuk menolong korban yang terluka. Tapi tentara zionis Israel tak peduli dan tetap menembak perempuan 21 tahun itu. Walau sempat diberi pertolongan medis, nyawa Razan tetap tidak tertolong.

Aparat keamaman dan kelompok sipil bersenjata (separatis) mestinya memahami Konvensi Jenewa 1949. Di dalamnya jelas menyebut bahwa ada pihak-pihak yang tidak boleh dibunuh sekalipun dalam zona perang.

Menurut Konvensi tersebut, tim medis yang bertugas, seperti dokter, perawat, jururawat, dan pembawa usungan, tidak boleh dilukai, apalagi dibunuh. Mereka punya hak menjalankan tugas profesi yang diatur dalam konvensi tersebut, sehingga jelas aturannya kalau petugas medis ini harus dilindungi di area perang.

Masih banyak pihak yang tidak mengindahkan aturan ini. Salah satunya adalah Israel, yang terang-terangan menembak perawat saat sedang bertugas, Razan. Jangan sampai aparat keamanan di negeri ini dituding berperilaku biadab seperti kelakuan tentara zionis.

Bahkan, mereka yang tugasnya mendukung pekerjaan tenaga medis, seperti administrator, pengemudi, hingga juru masak di pos-pos kesehatan juga tidak boleh dilukai atau dibunuh. Aturannya jelas, ada di Pasal 11, Pasal 24-27, Pasal 36, dan Pasal 37 Konvensi Jenewa.

Pemakaman dokter Soeko Marsetiyo

Kini pekerja medis selalu terancam saat tugas, baik oleh (oknum) aparat maupun kelompok sipil bersenjata. Pekerja medis yang kehilangan nyawa saat bertugas adalah dokter Soeko Marsetiyo (53). Dokter yang hidupnya sarat pengabdian itu gugur dalam kerusuhan yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Senin (23/9).

Prosesi pemakaman dr Soeko diwarnai isak kerabat dan keluarga. Mereka tak menyangka dokter yang sudah 15 tahun bertugas di tanah Papua tersebut meninggal dalam insiden kerusuhan di Wamena. Kini almarhum telah meninggalkan istri dan tiga orang putrinya.

Sejumlah pihak mengirimkan karangan bunga berisi ungkapan duka cita yang ditaruh di sekitar lokasi pemakaman. Seperti dari Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Dinas Kesehatan DIY, IDI DIY dan Papua, serta Keluarga Besar Alumni Mahasiswa FK Undip.

Ambulans PMI diserang oknum aparat

Kekerasan Terhadap Tim Medis Ambulans PMI Jaktim

Kepala Markas PMI Kota Jakarta Timur E Komalasari menyatakan ambulans PMI Jakarta Timur yang bertugas siaga pelayanan di lokasi demonstrasi tepatnya di depan lobi Menara BNI, Pejompongan, Rabu (26/9) pukul 23.30 WIB mengaalami kekerasan.

Saat tim medis ambulans PMI Jaktim memberi pertolongan pertama kepada korban kerusuhan, tiba-tiba ada sweeping dari oknum anggota Brimob dan membuka paksa ambulans. Kemudian, terjadi pemukulan dan penarikan paksa keluar pasien dari dalam ambulans.

“Mereka beralasan mencari batu dan bensin yang disimpan dalam ambulan untuk pendemo,” katanya, Kamis (26/9), dikutip Republika.co.id.

Kemudian, ia mengungkapkan, oknum anggota Brimob melayangkan pukulan dengan tongkat kayunya kepada semua tim medis PMI yang ada di ambulans. Petugas PMI terkena pukulan di bagian kepala.

“Bahkan, salah satu perawat jatuh tersungkur ke belakang stretcher karena didorong dan kemudian diinjak oleh oknum anggota Brimob,” ujarnya.

Akibat penyerangan itu, kata dia, kaca mobil belakang ambulans PMI Jaktim pecah oleh anggota Brimob. Lalu pecahan kaca mobil berhamburan ke dalam mobil. Dua orang petugas PMI ditarik paksa keluar dan kaca samping kiri ambulans dipecahkan juga oleh oknum anggota Brimob.

“Beberapa petugas kesehatan PMI mengalami tindakan kekerasan dari oknum anggota Brimob seperti dipukul, ditendang, ditonjok, ditarik. Bahkan ada beberapa yang ditarik oleh Marinir justru diselamatkan ke belakang gedung,” ungkapnya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengakui keliru menuduh ambulans DKI mengangkut batu dan bensin untuk para demonstran. Ia mengklarifikasi terkait kabar yang beredar di media sosial tersebut.

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C)  lapor ke Mahkamah Internasional (foto istimewa)

Lapor Mahkamah Internasional

Kekerasan terhadap pekerja medis telah dilaporkan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C)  ke Mahkamah Internasional. Kekerasan oleh aparat juga telah terjadi pada saat terjadi aksi demo pada 21-22 Mei 2019.

“Kita melompat langsung keluar, karena kita mengambil sifatnya universal, jadi kalau kemanusiaan, tidak dibatasi oleh negara, bangsa,” ujar Joserizal, Pendiri dan Dewan Penasihat MER-C beberapa waktu lalu.

“Jadi kita melewati batas-batas bangsa, yang pengurusnya adalah United Nation, dan pengadilan-pengadilan yang kita kasih contoh International Criminal Court (ICC),” ujarnya.

Menurut Joserizal, masalah universal seperti kekerasan terhadap tenaga medis dan masyarakat yang terjadi pada aksi demo tidak bisa diselesaikan di dalam negeri. Oleh sebab itu, pihaknya langsung memutuskan ke Mahkamah Internasional. (TS).*

dokter Soeko Marsetyo tenaga medis

Related Post

Leave a reply