Kawasan Industri Rentan Bencana, Mitigasi Perlu Libatkan Serikat Pekerja

176 views

Kementerian Perindustrian menyatakan 105 kawasan industri rentan bencana alam di Indonesia. Perlu mitigasi bencana, seperti halnya banjir, agar risiko kerugian bisa ditekan dan aktivitas industri tidak lumpuh. Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3) saat terjadi bencana perlu diperhatikan lebih seksama. Faktor-faktor yang bisa membahayakan ketika terjadi banjir perlu diatasi.

Reaktor.co.id – Mitigasi perlu melibatkan organisasi serikat pekerja hingga unit pabrik (PUK) agar seluruh pekerja bisa selamat baik selama perjalananan ke tempat kerja, selama bekerja hingga pulang kerja.

Kawasan Industri yang menyebar di Indonesia sebagian belum memiliki sistem mitigasi atau upaya dalam mengurangi potensi bencana alam di wilayahnya. Mitigasi bencana di kawasan industri bisa mengatasi kerugian produksi.

ANTARA FOTO/Novrian Arbi.

Peringatan Dini BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini terkait dengan perubahan cuaca ekstrem. Berdasarkan prediksi BMKG, cuaca dalam dua pekan ke depan yaitu 5–10 Januari 2020 patut diwaspadai. Aliran udara basah akan masuk dari arah Samudera Indonesia, tepatnya di sebelah barat Pulau Sumatera, sehingga dampaknya akan meningkatkan intensitas curah hujan menjadi ekstrem.

Dengan demikian, potensi hujan ekstrem akan terjadi lagi antara 5–10 Januari di wilayah Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi, sampai Lampung, termasuk Jawa, tentunya Jabodetabek juga termasuk di dalamnya. Tanggal 10–15 Januari aliran udara basah itu akan bergerak ke Kalimantan Selatan, lalu ke Sulawesi bagian Selatan Tenggara.

Pengusaha Rugi

Dikutip Sindonews, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, banjir yang melanda Jabodetabek dan sekitarnya sangat merugikan pengusaha nasional.

Dari sisi pelaku usaha, banjir menyebabkan kerugian karena kerusakan aset. Sementara dari sisi penjualan, untuk produk konsumsi yang bersifat kebutuhan non-primer juga menjadi turun.

“Dari sektor-sektor yang disebutkan, kerugian karena banjir bisa dibilang yang paling parah ada di ritel karena aktivitas penjualan ritel menjadi sangat terganggu karena banjir,” ujarnya di Jakarta, Kamis (2/1/2020).Shinta melanjutkan, untuk perhotelan juga mengalami kerugian yang relatif sama. Namun, skala dampaknya lebih kecil di sisi sales karena umumnya penjualan hotel sudah terjadi sebelum masa liburan akhir tahun.

“Meski begitu, ini berdampak pada kenyamanan pengunjung dan turis sehingga dampak kerugian non-materinya menjadi besar untuk industri perhotelan,” tuturnya.

Sementara untuk logistik, diperkirakan juga mengalami kerugian yang tinggi karena perusahaan pengangkutan tidak bisa beroperasi jika sarana transportasinya tergenang air.

“Kemungkinan besar aset sektor logistik menjadi rusak karena banjir sehingga beban maintenace menjadi tinggi. Belum lagi kerugian karena harus menghentikan operasi dan kerugian kalau klien meminta ganti rugi bila consignment tidak dikirimkan tepat waktu,” jelas Shinta.

Pemetaan Kawasan Industri Rawan Bencana

Perlu pemetaan kawasan industri yang rentan bencana alam sehingga langkah mitigasi bisa tepat. Sekira 15 provinsi terdiri dari 105 kawasan industri masih harus dibenahi sistem mitigasinya. Para pengusaha dan pekerja perlu merancang Aksi Cepat Tanggap (ACT) terkait Disaster Outlook 2020.

Untuk itu diperlukan kerja sama dengan Disaster Management Institute of Indonesia (DMII) dan Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk memetakan mitigasi bencana di tahun 2020 untuk mengurangi dampak bencana di dunia industri.

Adapun potensi bencana yang akan terjadi di 2020 ini tidak lepas dari banjir, kebakaran, erupsi gunung berapi, gempa bumi dan tsunami.

Dengan adanya mitigasi dalam sektor pembangunan kawasan Industri ini dapat menekan angka kerugian di sektor tersebut.

Mitigasi bencana banjir di kawasan industri kini juga telah menjadi perhatian besar di negara lain. Seperti di Jepang yang tahun lalu telah memakan lebih dari 100 korban jiwa dan 50 orang hilang. Bencana akibat hujan lebat yang mengguyur Jepang hingga berhari-hari itu juga telah menghentikan produksi di pabrik-pabrik otomotif yang terletak di wilayah barat Hiroshima, Kyoto, Yamaguchi, dan kota terdekat Osaka.

Produsen kendaraan seperti Mazda, Nissan, Mitsubishi, dan Daihatsu sempat menghentikan produksi dalam waktu yang cukup lama.Mereka menghentikan produksi atas alasan keselamatan, gangguan lalu lintas, dan tersendatnya pasokan suku cadang akibat bencana.

Banjir besar di kawasan Industri Jepang

Hiroshima, pusat pabrik Mazda, disebut menjadi wilayah yang paling parah terkena dampak banjir. Sebagian besar kematian dan kehancuran tercatat paling tinggi jumlahnya di wilayah tersebut.

Selain wilayah pabrik perakitan kendaraan Mitsubishi di Okayama, pabrik Daihatsu di Osaka dan Kyoto, dan pabrik Nissan di Kyushu, banjir juga menghentikan pemasokan komponen dan operasi pabrik Panasonic.

Peritel Terpukul

Banjir yang melanda wilayah Jabodetabek mengakibatkan kerugian bagi peritel. Tak tanggung-tanggung, diperkirakan kerugian peritel di wilayah Jakarta saja mencapai Rp 960 miliar.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menjelaskan, kerugian tersebut berdasarkan eskalasi perhitungan jumlah toko ritel yang tutup akibat banjir. Selain itu, perhitungan juga dibuat dengan melihat jumlah penduduk yang terdampak banjir dan pengeluaran mereka pada setiap tahun baru.

Adapun untuk area Jakarta saja tercatat ada 300 toko yang tutup akibat banjir. Dengan mengambil pengeluaran berbelanja terkecil, yakni Rp 100.000 dengan jumlah penduduk terdampak langsung sebanyak 32.000 jiwa maka kerugian mencapai Rp 960 miliar.

“Padahal, periode Natal dan Tahun Baru itu menjadi penjualan maksimal bagi peritel,” kata dia, kepada Kontan.co.id, Kamis (2/1/2019). Jika melebarkan wilayah banjir, Roy menyebutkan, ada 400 toko yang tutup dengan jumlah korban yang terdampak langsung ditambah 20.000 korban. (TS).*

bencana banjir mitigasi kawasan industri

Related Post

Leave a reply