Kasus Rio Wijaya, Kriminalisasi terhadap Aktivis Buruh

99 views

Rio Wijaya

Reaktor.co.id, Jakarta — Aktivis Serikat Pekerja JICT (SP JICT), Rio Wijaya, dipenjara oleh Polres Pelabuhan (KP3) karena adanya pengaduan manajer sekuriti atas tuduhan melanggar UU ITE. Sebelumnya, Rio diduga dikeroyok tiga orang sekuriti JICT pada 20 Agustus 2019, namun dirinya yang diproses hukum dan masuk penjara.

Dengan bekal bukti visum, Rio melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya. Selang beberapa minggu, dua pelaku (YA) dan (A) telah ditangkap dan ditahan.

Saat ini, satu pelaku (SA) masih dalam pencarian. Namun, Rio dilaporkan balik oleh manajer sekuriti JICT (LIM) di Polres Pelabuhan (KP3) terkait dengan tuduhan penghinaan facebook (UU ITE) dan tuduhan penganiayaan kepada (YA).

Rio akhirnya ditahan di Polres Pelabuhan pada Kamis (21/11/2019) pukul 21.30 WIB dan dikenakan pasal 45 Ayat 3 jo Pasal 27 ayat 3 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 Tentang ITE, dan Pasal 351 KUHP dan 352 KUHP tentang penganiayaan.

Menurut Ketua Serikat Pekerja (SP) JICT, Hazris Malsyah, pihaknya menduga ada kriminalisasi lewat laporan balik manajemen terhadap Rio. Oleh karena itu, laporan balik terhadap Rio bisa dikatakan sebagai bentuk serangan balik yang sistematis terhadap aktivis serikat pekerja.

“Suara kritis pekerja dibungkam dan iklim pemberangusan serikat di JICT telah mengancam hak-hak dan keamanan pekerja,” ujar Hazris.

Hazris mengungkapkan, adanya dugaan kriminalisasi tersebut maka menjadi alasan pekerja pelabuhan dan gerakan buruh bersama rakyat (GEBRAK) serta Federasi Pekerja Transportasi Internasional (ITF) untuk menyuarakan keadilan untuk Rio Wijaya dan mendesak. Oleh karena itu pihaknya mendesak segera bebaskan Rio Wijaya dan hentikan kriminalisasi.

“Selain itu hentikan serangan terhadap aktivis serikat pekerja baik di JICT maupun di tempat kerja lainnya,” tandasnya.

Hazris menyebut, beberapa fakta kejanggalan kasus kriminalisasi Rio antara lain, dari bukti visum, Rio dicekik dan ada luka benda tumpul di belakang kepala serta retak di rusuk kiri.

Kekerasan apalagi pengeroyokan dalam lingkungan kerja seharusnya tidak boleh terjadi. Dengan kata lain, manajemen JICT gagal dalam menjamin lingkungan kerja tanpa kekerasan.

“Rio dilaporkan balik atas tuduhan penghinaan di facebook dan penganiyaan. Tidak ada bukti kuat karena Rio tidak menyebutkan nama siapa pun di facebook. Selain itu, menjadi tanda tanya bagaimana Rio bisa melakukan penganiayaan, sementara dari bukti visum, Riolah yang dikeroyok secara brutal,” paparnya.

“Dari UU yang dikenakan kepada Rio, seharusnya tidak bisa dijadikan alasan penahanan. Kecuali ditentukan oleh Jaksa lewat dakwaan,” tambahnya.

Hazris juga meminta manajemen JICT untuk menjamin lingkungan kerja tanpa kekerasan dan anti-serikat. Oleh karena itu, ia mendesak polisi segera menangkap dan mengadili pelaku pengeroyokan Rio Wijaya.

Elemen buruh yang menuntut Rio dibebaskan antara lain Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK), Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), dan Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).

Selain itu, dukungan bagi pembeasan Rio juga datang dari Konfederasi Serikat Nasional (KSN), Sentral Gerakan Buruh Nasional (SGBN), Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia (FPPI), Jaringan Komunikasi SP Perbankan, Sekolah Mahasiswa Progresif, Pergerakan Pelaut Indonesia, Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI), Aksi Kaum Muda Indonesia (AKMI), Perempuan Mahardhika, LMND-DN, Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEEER), Serikat Mahasiswa Progresif Universitas Indonesia (SEMAR UI), dan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA).

Dukungan Meluas

Dukungan untuk Rio Wijaya meluas. Tagar #FreeRioWijaya sempat trending topic di Twitter.

Aksi unjuk rasa untuk membebaskan Rio juga mulai mendapat dukungan nasional dan internasional. Sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan Rio, buruh pelabuhan dunia mengirimkan pesan dan dukungan kepada Rio, Rabu (27/11/2019).

Aksi solidaritas global ini diawali di Sydney, Perth, Brisbane, oleh buruh pelabuhan maritim Australia dan diikuti oleh ribuan anggota Federasi Buruh Transportasi Internasional (ITF) di Inggris, Polandia, Kanada, India, Nepal, Afrika dan juga buruh konstruksi dunia (BWI).

Mereka menggelar aksi solidaritas sambil membawa poster “Bebaskan Rio Sekarang Juga“ dan “Keadilan untuk Rio”.

Presiden Federasi Buruh Transportasi Internasional (ITF) Paddy Crumlin mengutuk keras upaya pengeroyokan sekuriti perusahaan terhadap Rio dan upaya manajemen Hutchison di JICT untuk melaporkan Rio.

“Bebaskan Rio sekarang juga jika Hutchison masih ingin melakukan bisnis di Australia, Inggris, Polandia, dan pelabuhan manapun. Kali ini Anda sudah keterlaluan. 18,5 juta buruh pelabuhan dunia bersama Rio,” ujar Paddy.

Senada dengan Paddy, Presiden buruh pelabuhan Belanda (FNV) Nik Stam tidak bisa menerima alasan apa pun atas kekerasan di lingkungan kerja yang terjadi di JICT.

“Kami akan melakukan rapat dengan CEO ECT Hutchison Rotterdam minggu depan dan akan mengultimatum saudara Leo Ruijs sebagai CEO perwakilan Hutchison agar segera melepaskan Rio. Kami tidak akan berhenti sampai pekerja mendapatkan keadilan,” kata Nik.

Meski penahanan berbau kontroversial, Rio tetap ditahan. Dukungan Rio berkembang menjadi gerakan anti-kekerasan di lingkungan kerja JICT yang sahamnya dimilikinoleh Pelindo II dan Hutchison Hong Kong.

Buruh pelabuhan Indonesia mendirikan posko solidaritas di depan kantor kepolisian pelabuhan (KP3) untuk menggalang dukungan publik yang lebih besar agar Rio mendapatkan keadilan dan dibebaskan.  (jpnn)

 

Aktivis Buruh Rio Wijaya

Related Post

Leave a reply