Joker, Frustrasi Sosial dan Nestapa Pekerja

227 views

Film Joker memberikan peringatan yang cukup relevan dengan kondisi Indonesia kini yang disana-sini terjadi frustrasi sosial dan maraknya depresi dikalangan masyarakat. Joker juga menjadi gambaran betapa berbahaya terhadap jiwa bangsa yang tengah sakit. Bisa berakibat fatal bagi perikehidupan masa depan.

Reaktor.co.id – Film yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix ini mengisahkan bagaimana sosok pekerja seni yang baik hati bernama Arthur Fleck bisa menjadi sosok yang mengerikan.

Joaquin Phoenix memerankan Arthur Fleck alias Joker, selain itu ada pula aktor kawakan Robert de Niro yang  memerankan tokoh bernama Murray Franklin, seorang host di sebuah acara Stand-up comedy. Dia yang memiliki peran cukup signifikan akan terpuruknya hidup Arthur. Lalu ada Zazie Beetz, Frances Conroy, Bret Cullen, Marc Maron, dan masih banyak lagi.

Penulis skenario Joker patut diacungi jempol karena telah melakukan riset panjang dan penguasaan materi secara detail tentang gangguan neuropsikiatri yang menjadi benang merah film ini.

Bayangan kita sebelum menonton film bergenre phycological thriller ini, adegan-adegannya akan banyak hal-hal yang lucu sekaligus menegangkan. Ternyata film ini malah menonjolkan sosok dan masyarakat yang sedang mengalami depresi, hidupnya penuh dengan rasa kecewa, sehingga sering berhalusinasi, delusional akut. Setiap saat dendam dan amarahnya memuncak hingga menjadikannya sosok monster.

Film ini mengisahkan seorang bernama Arthur Fleck yang berprofesi sebagai pekerja seni yakni badut jalanan yang hidupnya penuh duka,nestapa, hinaan dan cercaan. Namun, dalam kenestapaan masih muncul sisi kemuliaan yang ditunjukkan dengan ketelatenan Arthur dalam merawat ibunya yang telah lansia. Walaupun dalam perjalanan waktu akhirnya membunuh ibunya setelah mengetahui rahasia masa lalu sang ibu.

Arthur mempunyai impian menjadi seorang stand-up comedian terkenal untuk merubah hidupnya yang miskin. Akan tetapi, hinaan serta bullying terus diterimanya sepanjang hidup hingga meruntuhkan mentalnya. Akhirnya membuatnya harus mengambil jalan kegelapan dan menjadi sosok yang cukup ditakuti di Gotham City.

Kini Joker menjadi film yang ditakuti oleh orang tua yang puritan. Mereka berusaha melarang anak-anaknya untuk menonton film ini. Namun, media sosial justru membuat semangat untuk menonton Joker menjadi lebih dahsyat bagi para pemuda dan pelajar.

Film Joker memberikan gambaran yang cukup relevan dengan kondisi Indonesia kini yang disana-sini terjadi frustrasi sosial dan maraknya depresi dikalangan rakyat dan elit politik.

Alur cerita dan pesan yang mencuat di dalam film Joker juga cukup relevan dengan potret atau kondisi pekerja di Indonesia yang penuh dengan nestapa dan penderitaan akibat rendahnya upah kerja. Seperti halnya Arhur, para pekerja di negeri ini juga banyak yang frustrasi akibat kompetensinya terpuruk tergilas oleh kemajuan. Kehidupan para pekerja yang masih identik dengan tempat kumuh. Kondisinya semakin relevan dengan banyaknya kaum pekerja yang tekena depresi akibat impitan ekonomi.

Hasil Riset Kesehatan Dasar oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan satu dari tujuh orang mengalami masalah kesehatan jiwa di tempat kerja.

Miskin dan tertindas dapat menciptakan seseorang menjadi seperti Joker. Bagi mereka yang memahami pengalaman hidup Joker yang penuh dengan kesengsaraan, Batman bukanlah seorang pahlawan. Menyimak hal tersebut, Maryam Jameelah dalam voxpop.id mengupas bagaimana keberadaan tokoh fiksi Joker terkait dengan cara hidup kita sehari-hari.

Berbagai jenis aksi kejahatan Joker tidaklah hadir tanpa sebab, seperti yang selama ini terlihat di permukaan. Kejahatan ini hadir dari kesintingan dan kegagalan fungsi kognisi dan afeksi seorang Joker. Kegagalan fungsi psikis ini sesungguhnya disebabkan oleh kekerasan yang ia terima terus menerus dalam periode yang panjang. Kekerasan yang tanpa disadari dilakukan oleh masyarakat maupun oleh negara.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof Jamil Salmi dalam bukunya Violence and Democratic Society, kemiskinan dan ketidakadilan sosial di suatu negara adalah bentuk jelas dari kekerasan karena pembiaran.

Joker hanyalah satu dari jutaan manusia di berbagai negara yang dibiarkan jatuh dalam kubangan kekerasan tanpa pertolongan. Ketika tokoh semacam Batman yang penuh priviledge dan gelimang harta memilih untuk menjadi pahlawan super ketimbang membereskan akar masalah.

Indonesia kini sedang marak terjadinya frustrasi sosial ditengah masyarakat. Rakyat bersedih dan prihatin karena frustrasi sosial kian merebak dimana-mana. Para pemuda yang kebanyakan putus sekolah dan para pengangguran tidak berdaya menghadapi masalah yang menghimpit lalu melampiaskan semua itu dengan caranya sendiri.

Kini masyarakat di Tanah Air terus dihimpit beban sosial yang kian berat. Lapangan kerja sulit didapat, harga-harga kebutuhan pokok terus menjepit, korupsi masih menggila hingga ke pemerintahan desa. Anak-anak muda merasa tidak punya harapan lagi. Masa depannya sudah terampas karena mereka tidak diberdayakan untuk menghadapi perubahan zaman.

Sementara program pembangunan manusia Indonesia kini belum banyak menyentuh wong cilik.Pemerintah pusat dan daerah masih menutup mata terjadinya frustrasi sosial yang bisa diibartkan sebagai bom sosial yang siap meledak setiap saat.

Frustrasi sosial semakin menekan indeks kualitas manusia Indonesia yang tergambar dalam Pembangunan Manusia (IPM). Masih terpuruknya IPM di Indonesia terungkap dalam laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNDP). Berdasarkan Laporan UNDP, IPM Indonesia berada di peringkat ke-110 dari 188 negara yang disurvei.

Masyarakat cenderung mengalami frustrasi sosial. Itu terjadi karena beberapa faktor yang saling memengaruhi. Antara lain faktor kemiskinan struktural, lonjakan pengangguran akibat sempitnya lapangan kerja, ketimpangan sistem pendidikan, dan kondisi harga kebutuhan pokok yang terus bergerak naik turun seperti rooling coaster.

Frustrasi sosial adalah tantangan nyata yang harus segera diatasi. Salah satu langkah untuk mengurangi frustrasi sosial adalah dengan jalan penyelenggaraan seluas-luasnya pendidikan vokasional nonformal untuk generasi muda yang berpendidikan rendah. (TS).*

depresi frustrasi sosial Joker

Related Post

Leave a reply