Joker: Antara Tragedi dan Komedi Kehidupan

118 views

Jakarta (VOXPOP) – Dalam film The Dark Knight, Batman menggambarkan bahwa baik dan buruk itu dinamis. Kamu nggak harus menjadi begitu menderita, tersingkirkan, dan direndahkan untuk menjadi seorang pahlawan. Tumpukan uang dan privilese bisa menjadi senjata terkuat untuk menolong orang lain.

Di sisi lain, miskin dan tertindas dapat menciptakan seseorang menjadi penjahat seperti Joker. Bagi mereka yang memahami pengalaman hidup Joker yang penuh dengan kesengsaraan, Batman bukanlah seorang pahlawan. Menyimak hal tersebut, Maryam Jameelah dalam voxpop.id mengupas bagaimana keberadaan tokoh fiksi Joker terkait dengan cara hidup kita sehari-hari.

Berbagai jenis kejahatan Joker tidaklah hadir tanpa sebab, seperti yang selama ini terlihat di permukaan. Kejahatan ini hadir dari kesintingan dan kegagalan fungsi kognisi dan afeksi seorang Joker. Kegagalan fungsi psikis ini sesungguhnya disebabkan oleh kekerasan yang ia terima terus menerus dalam periode yang panjang. Kekerasan yang tanpa disadari dilakukan oleh masyarakat maupun negara.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof Jamil Salmi dalam bukunya Violence and Democratic Society, kemiskinan dan ketidakadilan sosial di negara kapitalis adalah bentuk jelas dari kekerasan karena pembiaran.

Joker hanyalah satu dari jutaan manusia di berbagai negara yang dibiarkan jatuh dalam kubangan kekerasan tanpa pertolongan. Ketika tokoh semacam Batman yang penuh priviledge dan gelimang harta memilih untuk menjadi pahlawan super ketimbang membereskan akar masalah.

Nah, film Joker yang bakal tayang pada Oktober 2019 tampaknya tidak akan terlalu banyak mengubah alur cerita komik Batman: The Killing Joke. Joker tetaplah komedian miskin yang tak mampu terserap oleh pasar dalam pertarungan dunia hiburan, yang pada akhirnya terpaksa merampok demi menghidupi istrinya.

Sialnya, setelah kematian sang istri, Joker harus berhadapan dengan Batman yang membuatnya tercebur ke dalam lautan kimia. Sementara Batman, alih-alih mencari tahu mengapa begitu banyak perampokan terjadi di kota Gotham, malah lebih memilih memberantas pelaku kejahatan daripada akar masalah.

Yah, kalau nggak gitu, nggak kelihatan heroik kan? Kalau nggak heroik bin dramatis, nggak laku filmnya atau bahkan nggak bakal ada film Batman maupun Joker.

Namun, sesungguhnya ada begitu banyak Batman dalam hidup kita. Dengan kekayaan yang berlimpah, mereka bisa lebih mudah menjadi pahlawan. Bukan dengan main hakim sendiri, melainkan turut memberantas kemiskinan dan memberi kesempatan bagi orang-orang yang tidak beruntung.

Sementara itu, masyarakat kita terkadang cenderung seperti penduduk Gotham yang membentuk para Joker. Tatapan sinis kita kepada para pencopet dan maling yang dipukuli warga sama menyedihkannya dengan penduduk Gotham. Kita seolah-olah menjadi superhero yang menghantam sedemikian rupa. Kita lupa, mengapa begitu banyak orang miskin yang mencuri daripada bekerja?

Ya bahkan mendengar kata kemiskinan saja terkadang membuat kita membayangkan yang hina-hina. Bukankah hidup seperti yang diungkapkan oleh penggemar Maudy Ayunda? Bahwa keberhasilan adalah buah dari usaha. Maka, Joker hanyalah penjahat pemalas di mata kita.

Padahal, lebih dari itu, Joker mengajarkan kita satu hal. Ini bukan membela penjahat, tapi coba lihatlah lebih dalam. Cobalah menanggalkan privilese kita sejenak dan memahami pengalaman orang lain. Mengapa manusia bisa menjadi jahat? Bahkan, iblis pun tidak terlahir sebagai makhluk jahat sampai ia berseteru dengan Adam.

Kejahatan tidak terjadi begitu saja. Kejahatan cenderung hadir pada mereka yang merasa gagal. Pada mereka yang jatuh dan tidak mampu bangkit lagi.

Ada begitu banyak Joker yang kita kenal di dunia nyata. Mereka tercipta bukan karena faktor genetik, tapi justru kita lah yang terkadang ikut andil dalam melahirkan dan membentuk Joker-Joker dalam hidup ini. Ya betul, karena hidup adalah komedi tragedi.

Related Post

Leave a reply