Jam Kerja Ideal Pekerja & Peningkatan Produktivitas

56 views

Penambahan jam kerja bukan solusi peningkatan produktivitas. Jam kerja ideal di bawah 40 jam per minggu. Pekerja religius yang sering mengambil waktu istirahat singkat untuk beribadah jauh lebih produktif.

Jam Kerja Ideal

Reaktor.co.id — Pengusaha melalui Asosiasi Pengusaha Tekstil Indonesia (API) mengusulkan agar ketentuan jam kerja dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan ditambah dari 40 jam per pekan menjadi 48 jam per pekan.

Penguasa berdalih, tujuan penambahan jam kerja agar pekerja Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara tetangga, khususnya Vietnam.  Jam kerja jadi 48 jam itu setara dengan 9,6 jam per hari.

Pasal 77 UU No 13 menyebutkan:

(1) Setiap pengusaha wajib melaksanakan ketentuan waktu kerja.
(2) Waktu kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. 7 (tujuh) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau
b. 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.

(3) Ketentuan waktu kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku bagi sektor usaha atau pekerjaan tertentu.

Menurut Wakil Ketua API, Anne Sutanto, rata-rata pabrik saat ini beroperasi selama 5 hari dalam seminggu. Beberapa ada yang beroperasi selama 6 hari dalam seminggu.

Usulan penambahan jam kerja kontradiktif dengan hasil studi yang menunjukkan makin lama jam kerjanya justru kian turun produktivitas.

Pasalnya, pikiran dan tenaga manusia juga punya batasan. Memperpanjang durasi jam kerja justru akan meningkatkan faktor kelelahan dan stres yang ujung-ujungnya akan justru mengganggu produktivitas.

Peningkatan jam kerja lebih lama juga menyebabkan permasalahan kesehatan, seperti tingkat stres dan potensi kecelakaan kerja. Semua itu tentu akan berdampak pada penurunan produktivitas dan ongkos kesehatan yang membengkak.

Cara terbaik meningkatkan produktivitas adalah perbaikan infrastruktur, peningkatan kualitas pekerja melalui pendidikan dan pelatihan, serta pengembangan teknologi.

Mengutip data studi yang dilakukan oleh Our World in Data, negara-negara yang lebih maju ekonominya cenderung memiliki jam kerja yang lebih rendah.

Amerika Serikat misalnya dalam seminggu menghabiskan waktu untuk bekerja sekitar 34 jam. Inggris lebih rendah lagi, dalam seminggu rata-rata orang Inggris bekerja selama 32 jam.

Menurut hasil studi yang dilakukan oleh peneliti Stanford University, John Pencavel, jam kerja yang tepat untuk mengoptimalkan produktivitas pekerja dan waktu kerja yang optimal adalah 7 jam per hari.

Dilansir laman Forbes, pakar emotional intelligence, Travis Bradberry, mengatakan jam kerja selama 8 jam per hari sudah basi dan tidak efektif lagi untuk diterapkan di dunia kerja.

Menurutnya, jam kerja 8 jam per hari dimulai di abad ke-18 sebagai upaya untuk mengurangi jam kerja manual para pekerja pabrik. Saat itu, kebijakan tersebut memang merupakan terobosan di masa revolusi industri. Namun demikian, sistem ini dinilai kurang begitu relevan untuk dipergunakan saat ini.

Penelitian lain tentang jam kerja ideal dilakukan professor psikologi Florida State University, Karl Ericsson. Menurutnya, bekerja selama 40 jam selama seminggu tidak dapat mengoptimalkan produktivitas pekerja.

“Kami menemukan bahwa pekerja akan bekerja dengan performa tinggi apabila bekerja selama 21-35 jam per minggu, namun tidak lebih dari 3-5 jam per hari,” ungkapnya.

Studi Draugiem Group menegaskan, durasi kerja bukanlah faktor satu-satunya yang memengaruhi produktivitas. Yang lebih berpengaruh adalah bagaimana pekerja mengelola waktu mereka.

Berdasarkan studi tersebut, pekerja religius yang sering mengambil waktu istirahat singkat untuk beribadah, ternyata jauh lebih produktif dibanding pekerja yang bekerja pada durasi yang lebih lama.

Sistem kerja dengan mengkombinasikan waktu kerja selama 52 menit, diikuti dengan waktu istirahat selama 17 menit, diklaim sebagai sistem ideal untuk mengoptimalkan produktivitas.

Alasannya, dengan adanya waktu istirahat, pekerja akan dapat mengoptimalkan 100 persen kemampuan mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas.

Waktu istirahat yang diberikan dapat membuat pekerja untuk sementara waktu terbebas dari tugas-tugas guna menyegarkan otak kembali.

Menurut studi yang sama, otak manusia akan bekerja dengan energi maksimal selama sekitar satu jam yang diikuti dengan penurunan energi selama 15-20 menit.

Dilansir US News, hasil penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti di Australia National University (ANU) menunjukan, jam kerja ideal adalah 39 jam per minggu.

“Jam waktu bekerja yang terlalu lama menganggu kesehatan fisik dan mental pekerjanya. Bekerja terlalu lama pasalnya membuat seseorang kurang perhatian terhadap pola makan serta kesehatannya secara menyeluruh. Jam waktu makan serta beristirahatnya pun kurang,” ujar salah satu peneliti, Huong Dinh.

Mempersingkat waktu jam bekerja juga sangat penting khususnya bagi kalangan wanita. Wanita bahkan dianjurkan untuk bekerja hanya 34 jam per minggu agar bisa membagi waktu untuk mengurus urusan rumah tangga serta memperbesar potensi kesuburan memiliki keturunan.

“Wanita yang terlalu lelah tentunya berisiko alami masalah kesehatan yang bisa menghambatnya memiliki keturunan,” tutup Dinh.

Hasil-hasil studi di atas menegaskan, penambahan jam kerja bukan solusi untuk meningkatkan produktivitas. Lamanya jam kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap produktifitas kerja. Peningkatan produktivitas kerja bisa diukur berdasarkan peningkatan keterampilan kerja. (Diolah dari berbagai sumber).*

 

Jam Kerja Produktivitas Kera

Related Post

Leave a reply