Insentif Pekerja Dirgantara

202 views

Transportasi udara merupakan faktor yang sangat penting dalam perekonomian bangsa. Menurut proyeksi yang dilansir oleh International Air Transport Association (IATA) ada lima negara yang menjadi pasar penerbangan terbesar di dunia, yaitu Tiongkok , Amerika Serikat, India, Indonesia dan Turki.

Pasar penerbangan berkembang pesat karena didorong tingginya pertumbuhan kelas menengah. Meskipun jumlah penumpang angkutan udara di Tanah Air kini sedang merosot.

Namun prediksi global menunjukkan bahwa pada 2036 Indonesia bakal menjadi pasar penerbangan terbesar keempat dunia dengan total penumpang pesawat mencapai 355 juta orang.

Pasar penerbangan di Tiongkok menempati peringkat pertama dan mengalahkan Amerika Serikat. Jumlah penumpang pesawat di Tiongkok pada 2036 mencapai 1,5 miliar orang.

Sedangkan AS berada di posisi kedua dengan jumlah mencapai 1,1 miliar orang. Sementara India berada di posisi ketiga dengan total penumpang pesawat mencapai 478 juta orang.  Di posisi kelima adalah Turki yang bakal mencapai 196 juta orang.

Dengan kondisi pasar diatas maka Boeing memproyesikan penerbangan sipil dalam dekade mendatang membutuhkan setidaknya 38.000 pesawat untuk berbagai kelas. Perkembangan transportasi udara yang sangat pesat disertai dengan tumbuhnya industri turunan dan jasa. Serta menyerap banyak tenaga kerja ahli dan terampil.

Sangat disayangkan, Indonesia belum optimal dalam menangkap peluang industri dan jasa penerbangan dengan bermacam turunannya.

Karena ekosistem industri di negeri ini belum terbentuk dengan baik.  Posisi Indonesia dalam meraup devisa dari sektor industri dirgantara dan jasa turunannya masih kalah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Thailand dan Malaysia.

Perlu terobosan untuk mewujudkan ekosistem industri dirgantara di Indonesia lewat berbagai kebijakan dan insentif.  Serta membantu pelaku industri terkait dalam meraih sertifikasi seperti yang digariskan dalam regulasi.

Industri penerbangan  yang padat regulasi dan padat teknologi membutuhkan SDM berkompetensi yang mampu bersaing secara global.

Perlu agenda nasional tahunan seperti misalnya dalam bentuk Indonesia Air Show yang mampu memberikan solusi terkait dengan tantangan pengembangan bisnis dan teknologi bagi perusahaan yang tergabung dalam kelompok industri dirgantara.

Agenda diatas sebaiknya diselenggarakan bersama oleh asosiasi usaha yang bergerak dibidang industri dirgantara seperti Indonesia Aeronautical Engineering Center (IAEC), Indonesia Aircraft Component Manufacturer Association (INACOM), Indonesia Aircraft Maintenance Service Association (IAMSA), PT Dirgantara Indonesia, GMF AeroAsia.

Bekerja sama dengan lembaga riset yakni LAPAN, BPPT, dan Perguruan Tinggi merumuskan peta jalan bagi industri terkait.

Semuanya mesti bersinergi membentuk ekosistem yang kondusif  untuk mengembangkan produk, volume usaha serta merebut potensi pasar lokal dan global yang selama ini belum berhasil diraih.

Pembangunan infrastruktur yang massive keseluruh pelosok negeri, khususnya infrastruktur yang terkait dengan transportasi udara menuntut seoptimal mungkin peran serta pelaku bisnis dan pekerja dirgantara yang tergabung dalam asosiasi.

Sayangnya belum  ada  kepastian  dukungan  kontrak  jangka  panjang  dengan  volume  order  yang  secara  skala  ekonomi  memadai.

Aspek kebijakan dan dukungan  pemerintah  selama ini belum  optimal. Baik dalam hal pendanaan  jangka  panjang  maupun langkah pemberdayaan  industri  turunanya.

Selain itu, aspek  pembiayaan  R&D  masih tersendat.  Padahal pada  fase development dibutuhkan  investment  fund  dari  Pemerintah  (equity  financing/PMN)  untuk produk  baru  maupun  produk  pengembangan  yang  dilaksanakan  melalui  anggaran  tahun  jamak.

Dalam  penguasaan  teknologi  penerbangan,  pemerintah  melalui  Bapenas  dan  LAPAN  telah  menggulirkan  3  program  pesawat  terbang  nasional   yakni pesawat N-219,  N-219 Amphibi  dan  N-245.

Program nasional itu merupakan  momentum  yang  harus  dimanfaatkan  untuk  membentuk  ekosistem  supply  chain  component yang mengedepankan peran industri lokal.

Keniscayaan bagi para pelaku aerospace industry untuk mewujudkan ekosistem Industri 4.0.

Ada beberapa persyaratan untuk mewujudkan ekosistem tersebut,  antara lain, kemampuan untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model manufakturing digital dengan bermacam sensor.

Indonesia mesti mempersiapkan pekerja dirgantara di dalam negeri untuk menghadapi era Industri 4.0 dalam jumlah yang memadai.

SDM tersebut untuk menguasai teknologi pendukung, yakni bidang teknologi Internet of Things (IoT), Cybersecurity, Cloud Computing, Additive Manufacturing, Augmented Reality, Big Data, Autonomous Robots, Simulation, dan platform integration.

Keniscayaan, stake holder industri dirgantara perlu sinergi mewujudkan ekosistem Industri 4.0 lewat portofolio usaha dan kompetensi SDM masing-masing lewat forum atau workshop yang berkesinambungan.

Dengan sinergi tersebut terjadi integrasi kompetensi teknologi yang menjadi modal dasar untuk mewujudkan ekosistem baru.  (Totoksis)

 

Industri Dirgantara Insentif Pekerja Pekerja

Related Post

Leave a reply