Hilirisasi Pertambangan dan Masalah Kebutuhan Logam Dasar

94 views

Catatan Arif Minardi Arfi Minardi

Indonesia jangan terlena dengan kondisi aluminiun global yang masih lesu. Industri aluminium di tanah air justru harus lebih digenjot dan mampu berperan sebagai startup nation yang melakukan berbagai inovasi untuk pengembangan produk futuristik seperti halnya produk Alcoa yang bernama Micromill.

Reaktor.co.id – Di hadapan para pengusaha pertambangan anggota Asosiasi Pertambangan Indonesia atau Indonesian Mining Association (IMA), Presiden Joko Widodo menyatakan pentingnya hilirisasi di sektor pertambangan.

Jokowi mengaku sempat membuat sebuah skenario jika hilirisasi industri nikel bisa terjadi sepenuhnya, persoalan defisit neraca transaksi perdagangan dan neraca transaksi berjalan bisa selesai dalam kurun waktu tiga tahun.

Saat ini, potensi ekspor nikel sebesar 10 miliar dollar AS. Artinya, masih tersisa 24 miliar dollar AS lagi yang harus dioptimalisasi. Maka, langkah hilirisasi bisa mendorong minat investor terhadap investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) di Indonesia sehingga defisit neraca dagang Indonesia bisa membaik.

Saat ini, 98 persen produksi nikel mentah domestik diekspor ke Tiongkok. Padahal, jika diolah sendiri di dalam negeri bisa membantu mendorong penerimaan negara lebih besar. Dan bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak.

Proses hilirisasi adalah membuat barang tambang yang semula hanya dijual sebagai barang mentah bisa memiliki nilai tambah lebih besar karena melalui proses industrialisasi menjadi barang setengah jadi atau barang jadi.

Perlu Inovasi Besar

Tahapan hilirisasi pertambangan tidak semudah membalik telapak tangan. Hal itu bisa dilihat dari kinerja PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) yang mana penyerapam produk Inalum semakin seret karena kondisi industri hilir dan pasar global yang tidak menentu.

Selama ini PT Inalum sebagai BUMN belum fokus pada pengembangan bisnis produk turunan aluminium pada sektor industri hilir. Hal ini terkait dengan pemenuhan kebutuhan pasar domestik ditengah lesunya usaha aluminium global. BUMN ini mestinya berperan sebagai startup nation produsen komponen masa depan berbasis aluminium.

Perlu menggenjot kinerja PT Asahan Aluminium Alloys atau A3 yang berlokasi di Kuala Tanjung. Sehingga target 75% dari aluminium ingot yang dihasilkan bisa diolah menjadi produk turunan seperti billet, alloy, otopart, dan kabel.

Indonesia jangan terlena dengan kondisi aluminiun global yang masih lesu. Industri aluminium di tanah air justru harus lebih digenjot dan mampu berperan sebagai start up nation yang melakukan berbagai inovasi untuk pengembangan produk futuristik seperti halnya produk Alcoa yang bernama Micromill.

Teknologi Micromill yang telah dipatenkan Alcoa ini, mampu mengubah struktur mikro logam yang memungkinkan pabrik menghasilkan aluminium terbaik. Yaitu 40 persen lebih mudah dibentuk dan 30 persen lebih kuat dibanding aluminium yang digunakan dalam industri otomotif yang ada saat ini.

Alcoa Micromill merupakan inovasi besar dalam material aluminium. Selama ini aluminium konvensional tidak bisa dipres menjadi bentuk yang rumit karena memiliki batas kelenturan dengan tolerasi yang sangat kecil.

Dengan hadirnya teknologi diatas sangat mendukung pengembangan otomotif masa depan. Industri otomotif bisa rancang bangun ulang ulang karena lembaran aluminium Micromill lebih mudah diubah menjadi bentuk yang lebih rumit seperti pada panel-panel di dalam pintu dan fender eksternal yang saat ini hanya bisa dibuat dengan lembaran baja. Teknologi Micromill akan menjadi logam dengan proses pembentukan menjadi komponen tercepat.

Sejak 2015 PT Inalum berusaha menaikkan kapasitas produksi terpasang menjadi 300 ribu ton dari sebelumnya 225 ribu ton per tahun. Ekspansi tersebut membutuhkan dana 135 juta dollar AS.

Penambahan kapasitas produksi dilakukan dengan menaikkan daya listrik pada tungku serta meremajakan mesin-mesin produksi lama yang menimbulkan bottlenecking. Namun nilai investasi yang cukup besar untuk meremajakan mesin berpotensi membengkak karena masalah kompatibilitas dan hambatan impor permesinan. Akibatnya nilai investasi diatas kurang tepat sasaran dan lebih tepat jika langsung membangun pabrik pengolahan dan pemurnian atau smelter alumina yang baru dengan teknologi terkini.

Perlu strategi dan terobosan industri aluminium nasional yang mampu menumbuhkan produksi hingga 12 persen. Mestinya industri aluminium tumbuh signifikan seiring pertumbuhan industri otomotif dan properti, yang notabene adalah sektor terbesar pengguna aluminium.

Pertumbuhan industri aluminium idealnya dua kali lipat pertumbuhan ekonomi nasional. Strategi pengembangan industri aluminium nasional juga harus mampu memproyeksikan kebutuhan aluminium hingga 2030 dan mewujudkan mekanisme penyerapan produk PT Inalum secara ideal bagi industri hilir .

Industri aluminium adalah industri logam dasar disamping industri besi, tembaga dan lain-lain yang sangat dibutuhkan terutama pada infrastruktur dan pendukung sektor industri lainnya. Dalam rangka meningkatkan nilai tambah aluminium, perlu mendirikan pabrik aluminium alloys yang tangguh, yaitu industri antara yang menghubungkan industri primer dengan industri hilir aluminium.

 

Industri strategis

Selama ini ada kondisi yang tidak ideal dan merugikan karena industri hilir masih mengimpor produk industri antara dalam bentuk log atau alloy sebelum dilakukan proses ekstrusi untuk mendapatkan produk akhir.

Kawasan industri Kuala Tanjung harus segera digenjot perkembangannya terkait dengan pengembangan industri antara dan hilir aluminium. Kuala Tanjung memiliki keunggulan kompetitif karena potensi pembelian bahan baku aluminium cair dan biaya transportasi bahan baku yang rendah.

Selain itu dengan beroperasinya industri hilir akan meningkatkan Pendapatan Daerah Regional Bruto Kabupaten Batu Bara melalui nilai tambah dari industri pengolahan aluminium maupun dari multiflier efect investasi pada industri antara dan hilir.

Industri aluminium adalah industri logam dasar disamping industri besi, tembaga dan lain-lain yang sangat dibutuhkan terutama pada infrastruktur dan pendukung sektor industri lainnya seperti mesin, suku cadang otomotif, konstruksi pesawat terbang, konstruksi bangunan, komponen dan perangkat elektronik serta peralatan rumah tangga.

Aluminium dihasilkan pabrik peleburan aluminium melalui proses terhadap bahan baku berupa alumina didalam tungku yang dikenal sebagai pot reduksi. Produk yang dihasilkan berupa aluminium primer yang selanjutnya akan diproses lanjut menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi seperti: batangan ingot, pelet,butiran, serbuk, slab/pelat, billet/pipa pejal dan pipa berlubang. PT Inalum adalah salah satu produsen dunia aluminium primer dalam bentuk ingot.

Selama ini jenis produk sesuai kesepakatan mengikat antara pihak Jepang dan Indonesia hanya terbatas dalam bentuk ingot saja. Hal ini tentunya tidak menguntungkan pihak Indonesia karena kurang memberikan nilai tambah yang lebih besar.

Industri hilir aluminium sebagian besar berlokasi di Pulau Jawa dan sebagian di Sumatera Utara. Sebagian industri hilir aluminium tersebut melebur ingot untuk diubah bentuk menjadi billet/alloy dilanjutkan proses ekstrusi untuk mendapatkan produk akhir. Sementara sebagian lainnya mengimpor billet/alloy kemudian melakukan proses ekstrusi untuk mendapatkan produk akhir.

Pemerintah harus mampu menjadikan industri aluminium sebagai industri strategis. Untuk itu sudah mendesak pembenahan industri antara berupa pabrik paduan aluminium (aluminium alloy casthouse) dengan billet dan foundry alloy sebagai produk utamanya. Sehingga industri hilir aluminium dalam waktu yang tidak lama lagi mereka tidak kesulitan mengimpor bahan baku billet. (*)

Rumah LEM, 25 November 2019

Arif Minardi
Ketua Umum FSP LEM SPSI
Presidium Gerakan Kesejahteraan Nasional (Gekanas)

Hilirisasi pertambangan INALUM logam dasar

Related Post

Leave a reply