Hikmah Maulid Nabi: Muhammad Seorang Pekerja Keras dan Jujur

30 views

Nabi Muhammad Pekerja

Reaktor.co.id —  Nabi Muhammad Saw adalah seorang pekerja, sebelum diangkat menjadi nabi dan utusan Allah (Rasulullah). Dalam Sirah Nabawiyah disebutkan, sejak kecil Muhammad bekerja sebagai penggembala.

Saat dewasa, Muhammad bekerja sebagai pedagang hingga diangkat menjadi Rasulullah Saw dan disibukkan dengan kegiatan menyebarkan agama Islam (dakwah).

Nabi Muhammad Saw sangat menghargai pekerja, bahkan pernah mencium tangan seorang pekerja kasar.

Suatu ketika, ada sahabat yang menyembunyikan tangannya dari pandangan Rasulullah SAW Rasul heran dan bertanya. Sahabat itu beralasan, ia malu karena sebagai penebang kayu tangannya kasar dan tidak halus.

Rasulullah Saw memegang tangan orang tersebut, lalu menciumnya, seraya bersabda bahwa tangan seperti inilah tidak akan disentuh api neraka.

Ungkapan Rasul SAW sebagai penghormatan betapa Islam sangat menghargai kemandirian dan mencela perbuatan meminta-minta dan menjadi beban orang lain.

Profesi mencari kayu bakar dengan segala faktor kesulitan, kerendahan perolehan hasilnya lebih baik daripada menganggur dan menjadi beban orang lain. Rasulullah Saw sangat mengecam umatnya yang malas bekerja.

Dalam sebuah haditsnya ditegaskan, “Yang sangat menakutkan atas umatku adalah banyak makan, lama tidur, serta malas.. Pengangguran hanya akan menjadikan seorang manusia menjadi keras hati. ” (HR Al-Syihaab)

Sebaiknya Rasulullah menganjurkan umat untuk bekerja keras dan ,mandiri.

“Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang berkarya. Dan barang siapa yang bekerja keras untuk keluarganya maka ia seperti berjuang dijalan Allah Azza Wa Jalla. “(HR Ahmad). Dalam hadist lain ditegaskan: “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil keterampilan tangannya sendiri. “(HR Bukhari).

Nabi Muhammad Seorang Pekerja Keras

Dilansir Republika, Rasulullah Saw sendiri dikenal sebagai pekerja keras. Namanya sudah dikenal sebagai seorang saudagar sejak usia muda.

Muhammad baru berusia 12 tahun ketika pertama kali melakukan perjalan ke Suriah bersam pamannya, Abu Thalib. Dalam perjalanan ini pula, ia bertemu seorang pendeta, Bahira, yang memberitahu rombongannya bahwa kelak Muahammad menjadi seorang nabi.

Dari berbagai perjalanan perniagaaan yang dilakukan, Nabi berhasil membina dirinya sebagai pedagang profesional, yang memiliki reputasi dan Integritas yang luar biasa. Ia berhasil mengukir namanya di kalangan kaum Quraisy pada umumnya dan masyrakat bisnis pada khususnya, jauh sebelum ia dipekerjakan oleh saudagar terpandang saat itu, Khadijah, yang kelak menjadi istrinya. Ia saat itu biasa disapa dengan sebutan Siddiq (jujur) dan Amin (terpercaya).

Buku Muhammad sebagai Seorang Pedagang karya Afzalurrahman menyebut, berdasar riwayat Ma’amer yang mengutip Imam Zahri disebutkan, ketika mencapai usia dewasa, Nabi telah menjadi seorang pedagang, dengan modal orang lain.

Khadijah mempekerjakannya untuk membawa barang dagangannya ke pasar Habasyah yang merupakan kota dagang di Tahamah.

Rahasia keberhasilan dalam perdagangan adalah jujur dan adil dalam hubungan dengan para pelanggan. Kepada yang memberi kepercayaan, tak sepeserpun uang yang digelapkan dan tidak sesenpun yang di-mark up.

Dengan prinsip ini, Nabi mendapatkan keuntungan yang melebihi dugaan. Di sini, Nabi telah menunjukkan bagaimana caranya dengan tetap berpegang pada kebenaran, kejujuran, dan sikap amanah mewujudkan kemakmuran dalam

Pernah diceritakan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa suatu hari ketika Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di sebuah majelis dengan para sahabat, terlihat pemuda berbadan kekar dan kuat sedang sibuk bekerja.

Pemuda itu berlalu-lalang di sekitar rumah Rasulullah Saw.

Kemudian, salah satu sahabat berkomentar, ‘Wah, sayang sekali pemuda itu, sepagi ini sudah sibuk bekerja’. Sahabat tersebut pun melanjutkan perkataannya, ‘Seandainya saja, kekuatan tubuhnya, umur mudanya dan kesempatan waktunya digunakan untuk jihad fi sabilillah, sungguh alangkah baiknya’.

Mendengat ucapan sahabat tersebut, Rasulullah mengingatkan agar tidak berkata demikian. Teguran Rasulullah ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Qashash.

Bahwa manusia selama hidupnya memang dianjurkan untuk kerja keras dalam bekerja dan mencapai keinginannya.

Bekerja keras telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat. Rasulullah saw. bekerja keras dengan cara berdagang untuk membantu perekonomian Abu Talib.

Usman bin Affan bekerja keras hingga menjadi pengusaha yang sukses. Contoh lain dapat ditemukan dalam sebuah hadits yang mengisahkan bahwa ada seorang sahabat yang ingin meninggalkan urusan dunia agar lebih khusyuk beribadah.

Sahabat itu berniat terus-menerus berpuasa dan beribadah sepanjang hari. Mendengar kabar tersebut, Rasulullah bersabda bahwa orang-orang yang meninggalkan dunia dan lebih mengedepankan urusan akhirat, bukan termasuk golongannya.

Dalam riwayat Imam Bukhari dijelaskan bahwa Rasulullah juga pernah mengingatkan para sahabat agar tidak mencari jalan termudah dalam bekerja, misalnya dengan cara meminta-minta. Orang yang saat di dunia memilih bekerja mencari rezeki dengan cara meminta-minta, pada hari akhir akan dibalas dengan meminta-minta panasnya api neraka.

Baca Juga: Bekerja Itu Ibadah

Pekerjaan Terbaik

Pertanyaan seputar pekerjaan terbaik bagi seorang Muslim sempat ditanyakan oleh seorang sahabat kepada Nabi Muhammad SAW.

“Wahai Rasulullah, mata pencaharian (kasb) apakah yang paling baik?” Nabi kemudian bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi),” (HR.Ahmad).

Asy Syaibani mengatakan, kasb adalah mencari harta dengan menempuh cara yang halal. Sedangkan thoyyib, maksudnya adalah usaha yang berkah atau halal. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, para sahabat tidak bertanya manakah pekerjaan yang paling banyak penghasilannya.

Namun, yang mereka tanya adalah manakah yang paling diberkahi. Sehingga dari sini kita dapat memetik pelajaran bahwa tujuan dalam mencari rizki adalah mencari yang paling berkah, bukan semata-mata karena menghasilkan banyak uang. Demikian penjelasan berharga dari Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan dalam Minhatul ‘Allam, 6: 10.

“Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu bekerja pula dengan hasil kerja keras tangannya.” (HR. Bukhari)

Hadis tersebut juga menerangkan bahwa mencari kerja dengan tangan sendiri sudah dicontohkan oleh para nabi seperti Nabi Daud AS.

Mata pencaharian lain yang diberkahi adalah jual beli yang mabrur. Menurut Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan, jual beli yang mabrur adalah jual beli yang memenuhi syarat dan rukun jual beli. Proses jual beli juga harus didasari oleh kejujuran, serta menghindarkan diri dari penipuan dan pengelabuan.

Jual-beli mabrur harus memenuhi syarat dan rukun jual beli. Di antaranya, ridho antara penjual dan pembeli, barang yang dijual mubah pemanfaatannya (bukan barang haram), uang dan barang bisa diserahterimakan, tidak ada ghoror (ketidakjelasan). (dari berbagais sumber).

 

Bekerja Kerja Ibadah Nabi Muhammad Pekerja

Related Post

Leave a reply