Heroik, Bocah 13 Tahun Ikut Berjibaku Padamkan Api di Riau

159 views

Farhan, sang bocah pemberani ikut membantu para Laksana FPI Pelalawan, Riau, berjuang memadamkan api Karhutla

Reaktor.co.id – Farhan, bocah berusia 1 tahun dan masih berstatus siswa SMP, ikut berpartisipasi memadamkan kobaran api yang membakar lahan di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

Sebagaimana reaktor.co.id saksikan di video yang diunggah oleh akun validnews, kehadiran Farhan membuat kaget sejumlah Laskar Front Pembela Islam (FPI) Pelalawan, Riau, yang tengah berjuang memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau, pada Senin (16 September 2019).

Mereka melihat bocah tersebut ikut membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya, bahkan tanpa mengenakan masker sama sekali untuk melindungi pernafasannya dari asap kebakaran yang berbahaya.

Para Laksana (Laskar Siaga Bencana) FPI Pelalawan lantas menghampiri dan menyapa Farhan, sang bocah pemberani itu, dan memberikannya masker. Mereka sangat mengagumi keberanian Farhan yang begitu bersemangat untuk membantu memadamkan api.

Seperti diketahui, Karhutla di Riau menimbulkan efek buruk rusaknya hutan dan lingkungan serta kabut asap yang sangat mengganggu dan berbahaya bagi kesehatan.

Ketua Tanfidzi DPW FPI Pelalawan, Habib Syaugi Shahab, menginstruksikan para Laksana FPI Pelalawan all out ikut membantu memadamkan api Karhutla itu.

“Saya menginstruksikan agar para Laskar FPI Pelalawan terus berjuang membantu memadamkan api kebakaran hutan dan lahan di Riau”, ujar Habib Syaugi, Rabu (18/9/2019).

Desakan Walhi Riau

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) berani memanggil korporasi yang dengan sengaja membakar lahan hutan atau gambut.

Menurut Deputi Direktur Eksekutif Daerah Walhi Riau, Fandi Rahman meyakini, Presiden Jokowi memiliki data-data lahan korporasi yang terbakar itu.

Ilustrasi pemadaman karhutla di Riau. (Foto Antara)

Karenanya, Fandi sangat menyayangkan kunjungan Jokowi ke Riau terkesan tak menghasilkan penyelesaian. Walhi Riau juga mengkritisi sikap Jokowi yang malah menyalahkan perangkat-perangkat daerah di sana.

“Memang seharusnya ini wilayah administrasi pemerintahan, gubernur. Tetapi bagaimana sikap investasi yang berada di sana. Kalau kita harapannya ketika memang ditemukan area yang terbakar di wilayahnya atau tanda-tanda bekas terbakar, kenapa tidak dipanggil? Itu kenapa masih terbakar? Ya gak mungkin negara gak bisa mantau,” kata Fandi kepada wartawan, dalam konferensi pers di Kantor Walhi, Jakarta,
Rabu (18 September 2019).

Tak berhenti di situ. Fandi juga mengkritik lokasi kunjungan Jokowi yang tak tepat. Jokowi dinilai berkunjung ke lahan bekas terbakar yang tak jelas wilayah kepemilikannya siapa.

“Padahal dengan data yang ada, harusnya Jokowi berani mendatangi wilayah lahan terbakar milik korporasi,” katanya.

Walhi Riau juga menyebut titik api (hot spot) di Riau justru makin bertambah setelah dikunjungi Jokowi. Hot spot di Riau kini mencapai angka 300-an titik.

Dua hari sebelum dikunjungi Jokowi, hot spot di Riau berkisar di angka 70-an. Namun usai dikunjungi Jokowi, hot spot malah bertambah menjadi berkisar di angka 151.

“Hari ini 300 lebih hot spot di Riau. Dan bahkan setelah kunjungan Presiden, hot spot di Riau ternyata bukan semakin berkurang tapi semakin bertambah. Kondisi ini kenapa, karena memang kondisi lapangan sendiri tidak ada sumber air untuk memadamkan apinya,” tutur Fandi.

Meski tak mengaitkan secara langsung kondisi itu dengan kunjungan Jokowi ke Riau, Walhi Riau merasa aneh karena, jika suatu daerah sudah dikunjungi kepala negara, maka seharusnya penanganannya asap akibat karhutla di lokasi itu menjadi lebih baik. (AF)*

FPI Pelalawan hot spot Karhutla laskar siaga bencana pemadaman api titik panas api walhi riau

Related Post

Leave a reply