Hari Pangan Sedunia, Urgensi Pemenuhan Gizi Pekerja

67 views

Peringatan Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober sangat relevan dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan gizi para pekerja di tempat kerjanya. Masih banyak pekerja yag terpaksa makan seadanya yang tidak begizi karena upah mereka tidak mencukupi. Masih banyak perusahaan yang belum memberikan fasilitas atau tunjangan makan yang layak kepada pekerjanya.

Reaktor.co.id – Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) pada 16 Oktober ditetapkan oleh Food Agriculture Organization (FAO) Day melalui Resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Roma Italia. Di Indonesia, puncak peringatan Hari Pangan Sedunia akan digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara. Namun, puncak peringatan dindur menjadi November 2019. Pasalnya, menunggu usai pelantikan Presiden Jokowi pada 20 Oktober.

Kebutuhan gizi para pekerja mesti diperhatikan. Pentingnya gizi yang cukup untuk kesehatan secara umum dan produktivitas kerja perlu diperluas. Perihal pentingnya nutrisi/gizi pekerja terus mendapatkan perhatian dari International Labour Organization (ILO).

Organisasi dunia tersebut telah membuat beberapa rekomendasi dan buku panduan tentang pemberian makanan pada pekerja. Panduan tersebut cukup penting bagi negara berkembang yang memiliki perusahaan dengan pekerja yang pola makannya kurang bernutrisi.

Tempat kerja merupakan tempat yang logis untuk melakukan intervensi kesehatan karena pekerja akan berada di tempat kerja dalam waktu yang lama. Menyediakan makanan bernutrisi pada pekerja, atau bahkan biaya makan, dapat meningkatkan kualitas hidup dan kerja dari para pekerja. Selain itu para pekerja kemudian bisa membawa kebiasaan makan di kantor yang sehat ke rumah tempat keluarganya.

Presiden Jokowi menikmati makan siang bersama pekerja

Pekerja membutuhkan energi untuk bekerja, energi yang cukup bisa membuat pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Energi tersebut dikonsumsi sebagai makanan dan jika tidak digunakan untuk bekerja maka akan tersimpan dalam tubuh sehingga tubuh bertambah berat.

Kekurangan makanan dari kebutuhan energi akan mengakibatkan berkuranganya berat dan sering menyebabkan masalah dalam tubuh manusia. Dalam permasalahan tersebut, baik obesitas dan kekurangan nutrisi dapat menyebabkan kurangnya kemampuan untuk bekerja dan melawan penyakit.

Kebutuhan energi dan kandungan energi di makanan diukur dalam kalori atau joules. Satu kalori sama dengan 4.187 joules, meskipun secara ilmiah unit tersebut hanya sebagai pembanding.

Kebutuhan energi dari berbagai individual berbeda-beda tergantung dari ukuran tubuh, usia dan tingkat aktivitas mental dan fisik. Rata-rata, laki-laki dewasa pada usia kerja membutuhkan 2.500 kcal dan wanita dewasa membutuhkan 2.000 kcal.

Pekerja perlu mendapatkan makronutrisi dalam jumlah yang cukup. Makronutrisi terdiri atas protein, karbohidrat, lemak, minyak dan juga air. makronutrisi kadang-kadang disebut sebagai makanan penghasil energi.

Protein dibutuhkan untuk tumbuh dan mengatur otot, tulang, kulit, dan organ, serta untuk sintesis dari enzim, hormon, dan antibodi. Protein terbuat dari kombinasi dari 20 asam amino. Di antara 20 tersebut, 8 di antaranya merupakan asam amino “essential” dan harus dihadirkan dalam pola makan. Protein dari hewan kebanyakan komplit dan berkualitas tinggi yang artinay mengandung semua asam amino essential.

Lemak, meskipun sering dianggap tidak sehat namun dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang cukup. Lemak menyediakan asam lemak esensial yang tidak dapat dibuat oleh tubuh dan harus disediakan dari makanan. Asam lemak tersebut merupakan bahan mentah yang membantu mengendalikan tekanan darah, penggumpalan darah, peradangan, dan fungsi tubuh lainnya.

Karbohidrat merupakan sumber utama energi dari makanan. Fungsi utama mereka untuk menyediakan energi bagi tubuh terutama otak dan sistem syaraf. Karbohidrat terbuat dari gula, oligosaccharides, starches, dan serat, yang terdiri dari karbon yang pada molekul air.

Selain itu para pekerja juga perlu mendapat mikronutrisi yang baik. Mikronutrisi merupakan vitamin dan mineral essential untuk pertumbuhan dan metabolisme yang baik.

Vitamin merupakan senyawa organik yang ditemukan di tanaman dan hewan yang penting bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia. Ada banyak sekali vitamin yang telah diketahui. Variasi pola makan dapat menyediakan vitamin secara alami, tapi suplemen direkomendasikan untuk individu yang kekurangan vitamin.

Mineral merupakan senyawa anorganik essential untuk pertumbuhan dan kebugaran. Mineral penting yang dibutuhkan oleh tubuh antara lain kalsium, fluoride, iodine, zat besi, sodium, dan zinc. Pekerja dewasa membutuhkan zinc yang biasanya kurang didapat dari pola makan vegetarian dan juga zat besi.

Zat besi merupakan sangat penting untuk membawa oksigen dalam sel darah merah. Penyakit anemia dapat menyerang pekerja yang kekurangan zat besi tersebut. Pekerja yang menderita anemia tentu akan mengalami masalah dalam bekerja seperti produktivitas yang menurun.

Berdasarkan kebutuhan dasar tersebut, maka perusahaan bisa menyediakan makanan yang bernutrisi. Pekerja yang diberi makanan yang bernutrisi dapat membuat produktivitas mereka menjadi lebih baik. Pekerja akan merasa bahwa perusahaan memberikan perhatian lebih melalui makanan tersebut sehingga mereka cenderung akan bekerja lebih giat lagi. Perusahaan yang memberikan pekerjanya kebutuhan yang mereka butuhkan akan memperoleh imbalan yang berupa tingkat produktivitas yang meningkat.

Hubungan pemenuhan gizi dan tingkat produktivitas sangat erat.Hasil riset menunjukan bahwa Human Development Index (HDI) bangsa Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti: Jepang, dan Malaysia. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa penyebab utamanya adalah tingkat kesehatan bangsa Indonesia yang masih rendah, termasuk masalah gizi, seperti: Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA) dan Obesitas.

Dari berbagai penelitian di lingkungan kerja menunjukkan bahwa 30-40% tenaga kerja di sektor perkebunan menderita KEP dan KVA. Selain itu penelian Bardosono dan Amri tahun 2009 di salah satu pabrikdi Jakarta menunjukkan bahwa 36,4% karyawan memilki status gizi lebih, dan 8,3% status gizi kurang.

Munculnya masalah gizi pada karyawan oleh berbagai hal. Di antaranya penyebab langsung seperti: kurang asupan energi dan zat gizi tertentu dan melewatkan waktu sarapan atau makan siang. Kemudian penyebab tidak langsung, seperti: gangguan penyerapan makanan, penyakit infeksi, faktor stress dan lain-lain.

Produktivitas kerja suatu perusahaan dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya kecukupan gizi.Sesorang karyawan yang kecukupan gizinya kurang akan memiliki angka kesakitan yang tinggi. Selain itu karyawan yang kecukupan gizinya kurang memiliki daya fisik yang rendah sehingga tidak akan dapat berkerja dengan maksimal dibandingkan dengan karyawan yang sehat.

Rata-rata seeorang karyawan menghabiskan waktu 40 jam per minggu atau 8-10 jam per hari untuk bekerja. Sehingga diperkirakan 1 sampai 2 waktu makan berlangsung di tempat kerja.

Saat seseorang karyawan memenuhi kebutuhan sarapan, makan siang dan makan malamnya dengan cara membeli di luar rumah, maka saat itulah mulai terjadi masalah gizi. Berdasarkan penelitian mahasiswa gizi menunjukkan sebagian besar jajanan mempunyai kandungan lemak tinggi dan rendah serat. Ketidakseimbangan zat gizi tersebut akan berdampak terhadap munculnya masalah gizi.

Contoh KHL makanan dan minuman pekerja lajang

KHL Sebagai Proteksi Pemenuhan Pangan Pekerja

Dalam upaya menata ulang sistem pengupahan, konsep KHL sebagai proteksi sosial bagi standar upah pekerja perlu ditetapkan dengan pola yang lebih sederhana sehingga para pihak mudah untuk negosiasi. Formula penghitungannya adalah, KHL cukup dibagi dua komponen saja. Komponen pangan dan komponen non pangan.

Komponen pangan ditentukan dengan menghitung kebutuhan konsumsi makan dalam sehari dikalikan 30 hari. Maka, jika di suatu daerah konsumsi sehari dihitung sebesar Rp 50 ribu maka komponen pangan dalam KHL nilainya Rp 1,5 Juta. Lalu, komponen non pangan dapat ditetapkan berdasarkan rasio dari komponen pangan.

Misalkan kita ambil rasio perbandingan 1:1,5, artinya jika komponen pangan Rp 1,5 juta maka komponen non pangannya 1,5 kali lipatnya atau Rp 2,25 juta. Sehingga total upah yang diterima pekerja sebesar Rp 3,75 juta.

Perhitungan komponen pangan bisa ditambahkan upah bagi pekerja berkeluarga dengan penambahan komponen pangan 20-25 persen tanpa menambah rasio non pangan. Itu berarti pekerja yang sudah bekeluarga mendapat tambahan upah Rp 300.000 – 375.000. Hal ini sudah diterapkan oleh beberapa pemda melalui Peraturan Daerah Ketenagakerjaan dengan memberikan tambahan 10 persen pada nilai UMK bagi pekerja yang sudah berkeluarga.

Ratio non pangan juga bisa dijadikan pola negosiasi untuk menentukan UMSK dan upah berdasarkan skala usahanya, misalnya sektor yang memiliki nilai tambah besar didorong untuk menetapkan ratio non pangan mencapai dua kali lipat atau lebih. Sedangkan yang padat karya rationya bisa 1:1 tergantung kemampuan masing-masing sektor usaha.

Beberapa riset menunjukan 40-60 % konsumsi kelompok 40 % terbawah dihabiskan untuk kebutuhan pangan, artinya jika konsumsi pangannya Rp 1,5 juta kita perlu mengalokasikan setidaknya 40% lainnya untuk non pangan dan jika ditambah tabungan minimum paka wajar jika ditetapkan 1:1 sebagai standar paling rendah dari ratio non pangan.

Adapun untuk penentuan upah berdasarkan skala usaha bisa diberi rentang ratio non pangan di masing-masing sektronya, misalnya 15-20 % lebih rendah untuk skala menengah dan 30-35 % lebih rendah untuk usaha kecil. Namun, pengusaha menengah dan kecil yang hendak mengajukan skema ini wajib memberikan laporan keuangan tahunannya yang diketahui oleh serikat pekerja atau LKS bipartietnya.

Dimana setiap tahun, komponen pangan dan ratio komponen non pangan dapat dinegosiasikan secara terbuka di dewan pengupahan maupun di tingkat sektoral. Dengan begitu proses penentuannya lebih mudah baik bagi kalangan pekerja, pengusaha dan pemerintah. (TS).*

gizi pekerja hari pangan sedunia KHL makanan dan minuman

Related Post

Leave a reply