Gig Economy, Saat Pekerja Tetap Digeser Freelancer

407 views

Gig Economy

Reaktor.co.id — Salah satu dampak Revolusi Industri 4.0 adalah banyaknya pekerja tetap yang digantikan oleh pekerja lepas atau freelancer.  Perubahan itu digambarkan dengan istilah Gig Economy.

Istilah lain yang mendukung fenomena ini yakni on-demand workers, yakni pekerja yang “mau bekerja” saat dibutuhkan saja.

Wikipedia menyebut Gig Economy sebagai pekerjaan sementara (temporary work) yang mengacu pada situasi ketenagakerjaan di mana pengaturan kerja terbatas pada periode waktu tertentu berdasarkan kebutuhan organisasi pemberi kerja.

Melansir dari Investopedia, Gig Economy adalah kondisi perekonomian yang diwarnai terjadinya pergeseran status pekerja perusahaan yang umumnya merupakan tenaga kerja tetap (permanen) menjadi karyawan kontrak sementara (short-term contract), independent workers, ataupun karyawan tidak tetap (temporary workers).

Konsep kerja seperti ini mulai populer sekitar puncak krisis keuangan tahun 2008-2009. Sistem ini merujuk pada istilah maraknya pekerja lepas (freelancer) atau staf yang direkrut untuk proyek-proyek jangka pendek atau pada saat dibutuhkan saja.

Cara Kerja Gig Economy

Cara Kerja Gig Economy (medium.com)

Gig Economy sudah berkembang di Indonesia, namun kebanyakan saat ini berpusat pada industri transportasi online atau pekerja dengan skills (keahlian) tertentu.

Industri kreatif kelas menengah dan startup saat ini cenderung lebih efektif menerapkan Gig Economy. Dengan memanfaatkan tenaga kerja freelancer yang memiliki kemampuan tak jauh berbeda dengan pekerja tetap, mereka bisa mengurangi pengeluaran yang seharusnya diberikan kepada pekerja tetap.

Melansir dari Majalah Forbes, pada tahun 2030 mendatang, milenial diprediksi tidak akan betah bekerja dengan model pekerja tetap seperti saat ini dan lebih memilih on-demand workers.

Ternyata on-demand workers bukan hanya diminati oleh perusahaan rintisan (startup), melainkan juga oleh perusahaan besar seperti Samsung.

Selain karena menguntungkan dari segi finansial, perusahaan yang mempekerjakan freelancer juga diuntungkan dari segi inovasi. Pasalnya, mengutip dari Markerteers, pekerja freelancer lebih memiliki ide-ide segar dan baru yang out of the box.

Dari sisi pekerja, fenomena Gig Economy memberikan dampak buruk bagi mereka yang tak pandai beradaptasi dan bereksplorasi.

Bagi seorang freelancer yang terampil, mereka dapat dengan mudah bekerja di manapun dengan fleksibel dan memperoleh penghasilan yang baik.

Namun, bagi mereka yang ternyata tidak memiliki keterampilan yang mumpuni, akan merasa amat kesulitan mencari pekerjaan. Kendati demikian, sistem semacam ini dinilai dapat mengurangi ketidaksetaraan yang terjadi di pasar tenaga kerja. (Warta Ekonomi)

 

Freelancer Gig Economy Pekerja Lepas Pekerja Tetap

Related Post

Leave a reply