Gelombang PHK Landa Pekerja Industri Otomotif

412 views

PHK

Reaktor.co.id — Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) melanda industri otomotif dunia. Ribuan pekerja di sektor industri otomotif kehilangan pekerjaannya akibat sulitnya perekonomian, penjualan melemah, tergerusnya laba, hingga tren beralih ke mobil listrik.

Berkembangnya bisnis digital ride hailing atau ride sharing macam transportasi online turut menjadi pemicu gelombang PKH.

Laporan South China Morning Post (SCMP) menyebutkan, diprediksi akan ada 80.000 pekerja di industri otomotif yang terancam kehilangan pekerjaan dalam beberapa tahun ke depan.

“Meskipun pemotongan (jumlah pekerja diperkirakan) terkonsentrasi di Jerman, Amerika serikat (AS) dan Inggris, ekonomi yang tumbuh lebih cepat belum kebal dan produsen mobil diperkirakan akan mengurangi operasi di sana,” tulis SCMP.

Sebelumnya, sepanjang tahun ini, berbagai perusahaan mobil dunia juga telah melakukan pemangkasan jumlah karyawannya sejak awal 2019.

General Motors (GM) merumahkan 14.000 karyawan, Ford Motor mem-PHK 12.000 pekerja, dan Nissan Motor akan memangkas 12.500 karyawannya hingga 2023 dengan dalih penghematan dalam biaya operasi.

Industri otomotif telah banyak merugi sepanjang 2019 ini akibat perang dagang yang sudah berlangsung lama antara berbagai negara dunia, terutama AS dengan China.

Selain di Amerika dan Eropa, pemangkasan jumlah pekerja juga dilakukan perusahaan mobil China. Startup kendaraan listrik NIO, yang telah merugi hingga miliaran dolar dan mencatatkan kinerja saham yang buruk di Bursa New York, telah mem-PHK sekitar 20% tenaga kerjanya pada akhir September atau sekitar 2.000 orang.

“Perlambatan yang terus-menerus di pasar global akan terus mengurangi margin dan pendapatan produsen mobil, yang telah dirugikan oleh peningkatan pengeluaran Penelitian dan Pengembangan (R&D) untuk teknologi mobil otonom,” kata Gillian Davis, analis Bloomberg Intelligence.

“Banyak produsen mobil sekarang fokus pada rencana penghematan biaya untuk mencegah erosi margin,” katanya

Berikut ini sejumlah perusahaan otomotif yang dikabarkan melakukan PHK terhadap karyawannya:

1. Nissan

Nissan Motor Co akan memangkas 12.500 karyawannya. Pengumuman disampaikan perusahaan pada Juli 2019 lalu.

Rencananya PHK akan berlangsung hingga Maret 2023. Perusahaan pembuat merk Rogue dan Datsun ini memiliki 138.000 karyawan pada Maret 2018.

Jatuhnya laba hingga 98,5% menjadi 1,6 miliar yen (US$ 14,80 juta) di Q1 2019 menjadi penyebab. Ini merupakan performa terburuk perusahaan sejak Maret 2009.

2. Daimler

Daimler, induk merk Mercedes-Benz, memutuskan melakukan PHK sekitar 10.000 karyawan di seluruh dunia. Jumlah ini setara 3% dari total pekerja Daimler saat ini di berbagai negara.

Reuters mengungkapkan, PHK dilakukan secara bertahap selama 3 tahun ke depan. “Industri otomotif saat ini dalam transformasi besar-besaran dalam sejarahnya,” tulis Daimler.

Daimler melakukan hal ini karena mereka harus berinvestasi dalam kendaraan listrik dan di sisi lain karena ada penurunan penjualan.

Menurut pejabat Daimler, Wilfried Porth, perusahaan saat ini memiliki sekitar 304.680 pekerja.

3. Audi

Audi yang dimiliki oleh Volkswagen menyebut akan melakukan PHK terhadap 9.500 karyawan hingga 2025 mendatang. Jumlah itu sekitar 10% dari total tenaga kerjanya di seluruh dunia.

PHK yang dilakukan Audi diperkirakan bisa menghemat operasional perusahaan hingga 6 miliar euro atau US$6,6 miliar selama 10 tahun. Kendati begitu, produsen mobil premium tersebut berjanji bakal menyediakan 2.000 pekerjaan baru untuk sektor mobil listrik.

4. Ford

Ford Motor Co dikabarkan bakal mem-PHK pada 12.000 karyawan dan menutup sejumlah pabriknya. Penyebabnya adalah kerugian akibat melambatnya penjualan.

Sekitar 2.300 karyawan berasal dari AS. Selain memangkas pekerja, Ford juga memotong 10% gaji karyawan secara global.

Di Brasil misalnya dengan rekan barunya CAOA, Ford berencana melakukan efisiensi besar-besaran pada perusahaan. Bahkan akan ada 1.300 karyawan yang di PHK. Perusahaan hanya akan mempertahankan 800 karyawan.

“Tujuannya untuk membuat perusahaan meraih profit dan produktif,” kata pendiri CAOA.

5. Volvo

Pembuat mobil asal Swedia Volvo yang dimiliki Geely asal China memangkas ratusan ribu karyawan pada Mei 2010. Volvo memiliki 43.000 tenaga kerja.

“Sebagai perusahaan yang tengah tumbuh, Volvo ingin secara konstan meninjau biaya,” kata perusahaan dalam sebuah pernyataan.

Alasan mereka mengurangi pekerja adalah untuk melakukan lebih banyak penghematan dalam biaya operasi perusahaan. Industri otomotif telah banyak merugi sepanjang 2019 ini akibat perang dagang yang sudah berlangsung lama antara berbagai negara dunia, terutama AS dengan China.

Tarif yang diterapkan kedua ekonomi terbesar di dunia ini telah meningkatkan biaya perusahaan dan menghambat investasi.

Selain di Amerika dan Eropa, pemangkasan jumlah pekerja juga dilakukan perusahaan mobil China. Startup kendaraan listrik NIO, yang telah merugi hingga miliaran dolar dan mencatatkan kinerja saham yang buruk di Bursa New York, telah mem-PHK sekitar 20% tenaga kerjanya pada akhir September atau sekitar 2.000 orang.

“Perlambatan yang terus-menerus di pasar global akan terus mengurangi margin dan pendapatan produsen mobil, yang telah dirugikan oleh peningkatan pengeluaran Penelitian dan Pengembangan (R&D) untuk teknologi mobil otonom,” kata Gillian Davis, analis Bloomberg Intelligence.

“Banyak produsen mobil sekarang fokus pada rencana penghematan biaya untuk mencegah erosi margin,” katanya. (CNBC Indonesia)

 

Industri Mobil industri otomotif PHK

Related Post

Leave a reply