Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air Pecah Kongsi, Serikat Pekerja Bereaksi Keras

134 views

Kerja sama maskapai penerbangan antara Garuda Indonesia dengan Sriwijaya Air akhirnya berantakan. Sriwijaya Air yang selama ini terlilit utang dalam jumlah besar diselamatkan oleh Garuda Indonesia Group dengan cara memasang direksi dari unsurnya. Namun direksi dari unsur Garuda dicopot sepihak oleh komisaris dan pemegang saham PT Sriwijaya Air.

Kerja sama Garuda Indonesia-Sriwijaya Air

Reaktor.co.id – Tindakan pemegang saham PT Sriwijaya Air itu ibarat sudah ditolong tapi kok malah “mentung”, air susu dibalas air tuba. Keruan saja Pihak PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) bersama Kementerian BUMN, BNI, GMF langsung ambil tindakan tegas.

Dilayangkan surat panggilan bernomor : Citilink/JKTDZQG/LRT-20243/0919 yang ditujukan kepada Hendry Lie, Chandra Lie, Johanes Bundjamin, Andy Halim, dan Fandy Lingga sebagai perwakilan pemegang saham Sriwijaya Air.

Di dalam surat, dijelaskan bahwa pemanggilan juga didasarkan atas arahan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Rencananya, rapat tersebut juga akan dihadiri perwakilan dari BNI, Pertamina, dan GMF. Pihak GIAA ingin diberikan penjelasan soal pencopotan beberapa pejabat Sriwijaya Air.

Pasalnya tak hanya Direktur Utama, Joseph Andriaan Saul yang dicopot. Selain Joseph ada pula, Harkandri M. Dahler yang menjabat Direktur Sumber Daya Manusia dan Layanan, serta Joeph K. Tendean selaku Direktur Komersial juga diberhentikan.

Aksi unjuk rasa karyawan Sriwijaya Air

Reaksi Keras Serikat Pekerja

Saat ini karyawan was-was jika Sriwijaya Air berhenti beroperasi akibat pecah kongsi. Nasibnya terancam pengrumahan hingga PHK massal. Pihak serikat pekerja bereaksi keras dengan kondisi yang terjadi hingga kini.

Asosiasi Serikat Pekerja Sriwijaya Air (Aspersi) mengancam akan segera membawa kasus pencopotan pejabat Garuda di susunan direksi Sriwijaya ke pengadilan. Karyawan yang tergabung dalam Serikat pekerja merasa sangat tertolong dengan adanya kerja sama manajemen (KSM) dengan pihak Garuda Indonesia. Selama ini para pekerja Sriwijaya Air selalu terancam PHK masal akibat krisis akut yang mendera perusahaan tempat mereka bekerja.

Aspersi menilai kasus itu melanggar perjanjian KSM karena diputuskan sepihak. “Kami siap melakukan tindakan industrial apabila kekisruhan yang terjadi di PT Sriwijaya Air tidak dapat terselesaikan,” jelas Ketua Umum Aspersi, Pritano Ade Saputro.

Selain itu pecah kongsi GIAA dengan Sriwijaya Air mencuatkan persepsi publik bahwa standar pelayanan maskapai penerbangan hingga kini bermasalah. Standar pelayanan Garuda Indonesia tidak mampu diikuti oleh pihak Sriwijaya. Hal itu dinilai bisa menurukan citra GIAA.

Tindakan pertama pecah kongsi adalah pihak GIAA Group memutuskan untuk mencabut logo “Garuda Indonesia” pada seluruh armada Sriwijaya Air.

“Pencabutan logo Garuda Indonesia pada armada Sriwijaya Air tersebut merupakan upaya dalam menjaga brand Garuda Indonesia Group, khususnya mempertimbangkan konsistensi layanan Sriwijaya Air Group yang tidak sejalan dengan standardisasi layanan Garuda Indonesia Group sejak adanya dispute (sengketa) KSM tersebut,” ujar VP Corporate Secretary Garuda Indonesia M Ikhsan Rosan dalam keterangan resminya (25/9).

Ia mengungkapkan pencabutan logo perusahaan untuk memastikan penggunaan logo mampu mencerminkan standar keselamatan dan layanan penerbangan yang diberikan perusahaan.

“Hal tersebut tentunya sangat kami sayangkan, khususnya, mengingat perkembangan atas situasi yang terjadi tidak sesuai dengan komitmen KSM antara Garuda Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group”, jelasnya.

Sebagai informasi, KSM antara kedua perusahaan terjalin sejak 19 November 2018 lalu.
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari upaya perbaikan kinerja keuangan Sriwijaya Air Group yang menanggung utang kepada sederet perusahaan pelat merah di antaranya ke anak perusahaan Garuda PT GMF AeroAsia, PT Pertamina (Persero), dan PT Angkasa Pura I dan II.

Pihak PT Sriwijaya Air Group (Sriwijaya Air dan NAM Air) membantah pemberitaan setop beroperasi. Hingga Kamis ini (26/9/2019), maskapai penerbangan itu masih tampak melayani penerbangan sesuai rute yang sudah ada. Pemberitaan diatas menimbulkan keraguan dikalangan pengguna jasa penerbangan.

Sebelumnya diberitakan bahwa sejumlah penumpang Sriwijaya Air tidak dilayani sesaat setelah pecah kongsi dengan Garuda Indonesia Group.

Pesawat Sriwijaya Air

Terlilit Utang

Dalam persetujuan KSM dijelaskan, bahwa setiap kebijakan atau langkah yang akan dilakukan oleh Sriwijaya harus sesuai izin dari Garuda Indonesia Group.

Isi KSM sangat jelas, bahwa KSM itu menyerahkan semua manajemen itu kepada Garuda Indonesia Group. Dengan mencopot sejumlah direksi, pemegang saham dinilai telah melanggar kontrak KSM.

Dampak pecah kongsi dengan pihak GIAA akan semakin sulit bagi Sriwiyaja Air melunasi utang yang cukup besar kepada sejumlah BUMN. Hal ini tentunya mengarah kepada pengurangan jumlah pekerja.

Sebelum bermitra dengan Garuda, Sriwijaya terlilit utang sangat besar. Kreditur Sriwijaya di antaranya adalah Garuda Indonesia Group. Per September 2018, utang Sriwijaya ke Garuda mencapai 9,33 juta dolar AS.

Selain Garuda, Sriwijaya juga berutang ke Pertamina senilai Rp 942 miliar dan BNI Rp 585 miliar. Per Juni 2019, utang Sriwijaya ke Garuda melonjak menjadi 118,79 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,68 triliun (asumsi Rp14.152 per dolar AS).

Pengangkatan direksi Garuda dalam kepengurusan Sriwijaya Air sebenarnya bertujuan untuk menyelamatkan piutang Garuda Indonesia Grup di Sriwijaya senilai 55,39 juta dolar AS per 31 Desember 2018. (TS).*

Aspersi Garuda Indonesia Sriwijaya Air

Related Post

Leave a reply