Filosofi Secangkir Kopi

212 views

secangkir-kopi

Reaktor.co.id — Filosofi secangkir kopi yang diungkap di acara reuni berikut ini viral di Grup BBM (pada masa jayanya) dan di Grup WhatsApp. Media sosial Facebook dan blog juga banyak yang mempubliksikannya.

Ada dua versi, namun makna dan pesan pesan moral keduanya sama, yakni tentang hakikat pangkat, jabatan, harta, karier, dan kebahagiaan hidup. “Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.”

Versi Satu

Sebuah acara reuni, beberapa alumnus Univesitas Barkeley, California, menjumpai dosen (profesor) kampus mereka dulu.

Melihat para alumnus tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, profesor tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda. Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin , hingga cangkir plastik.

Profesor menyuruh alumni yang hadir untuk mengambil cangkir dan mengisinya dengan kopi.

Setelah masing-masing alumnus mengisi cangkirnya dengan kopi, profesor berkata, “Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik.”

Suasana hening. Alumni saling berpandangan. Profesor melanjutkan “wejangannya”.

“Memilih hal yang terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus, perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya.”

Hidup kita seperti secangkir kopi. Cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki. Pesan moralnya, jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati.

Cangkir bukanlah yang utama, tapi kualitas kopi itulah yang terpenting. Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus,  dan pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagian.

Itu konsep yang sangat keliru. Kualitas hidup kita ditentukan oleh “apa yang ada di dalam” bukan “apa yang kelihatan dari luar”.

Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai dan kebahagian di dalam kehidupan kita?

Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal. Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya.

Versi Kedua

Dalam sebuah acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu. Mereka menceritakan kisah sukses masing-masing.

Ada yang menjadi pejabat, direktur, pengusaha sukses, PNS, guru, dokter, arsitek, pengacara, anggota parlemen, dan sebagainya.

Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, sang guru segera ke dapur, kemudian mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda. ‎Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin, hingga plastik.

“Sudah, sudah! Ngobrolnya berhenti dulu. Ini Bapak sudah siapkan kopi buat kalian,” seru sang guru memecah keasyikan obrolan mereka.

Hampir serempak, mereka kemudian berebut cangkir terbaik yang bisa mereka dapat. Akhirnya, di meja yang tersisa hanya satu buah cangkir plastik yang paling jelek.

Lantas, setelah semua mendapatkan cangkirnya, sang guru pun mulai menuangi cangkir itu dengan kopi panas dari teko yang telah disiapkannya.

“Mari, silakan diminum!” ajak sang guru, yang kemudian ikut mengisi kopi dan meminum dari cangkir terakhir yang paling jelek.

“Bagaimana rasanya? Nikmat kan? Ini dari kopi hasil kebun keluarga saya sendiri.”

“Wah, enak sekali Pak.. Ini kopi paling sedap yang pernah saya minum,” timpal salah satu murid yang langsung diiyakan oleh teman yang lain.

“Nah, kopinya enak ya? Tapi, apakah kalian tadi memperhatikan. Kalian hampir saja berebut untuk memilih cangkir yang paling bagus hingga hanya menyisakan satu cangkir paling jelek ini?” tanya sang guru.

Murid-murid itu pun saling berpandangan.

“Perhatikanlah, bahwa kalian semua memilih cangkir yg bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik.”

“Memilih hal yg terbaik adalah wajar dan manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yg bagus perasaan kalian mulai terganggu.”

“Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain dan mulai membandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya.‎”

“Hidup kita, baik kehidupan dunia maupun kehidupan ibadah, seperti kopi dalam analogi tersebut di atas, sedangkan cangkirnya adalah sarana, pekerjaan, jabatan, atau harta benda yang kita miliki.”

Semua alumni tertegun mendengar penjelasan dari sang guru yang menyentak kesadaran mereka.

“Anak-anakku tercinta…” lanjut sang guru. “Jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati. Cangkir bukanlah yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting.”

“Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, sarana yang mewah, karier yang bagus dan pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagian hidup. Itu konsep yang sangat keliru.”

Kualitas hidup kita ditentukan oleh  “Apa yang ada di dalam” bukan “Apa yang kelihatan dari luar.”

“Status, pangkat, kedudukan, jabatan, kekayaan, kesuksesan, popularitas, adalah sebuah predikat yang disandang. Tak salah jika kita mengejarnya. Tak salah pula bila kita ingin memilikinya.”

“Namun, semua itu hanya sarana. Sarana hanya bermanfaat apabila bisa mengantarkan kita pada tujuan. Apa gunanya  memiliki segala sarana, namun tidak pernah merasakan kedamaian, ketenteraman, ketenangan, dan kebahagian sejati di dalam kehidupan kita?”

“Itu sangat menyedihkan. Karena hal itu sama seperti kita menikmati kopi kualitas buruk yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal.”

Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya. Selamat menikmati secangkir kopi kehidupan!

Sumber: WhatsApp Group

 

Gaya Hidup Kebahagiaan Makna Hidup Secangkir Kopi

Related Post

Leave a reply