Festival Geopark Ciletuh 2019 : Menikmati Surga Ekowisata yang Tiada Duanya

211 views

Terlalu indah untuk dikenang, sungguh sayang jika dilewatkan. Festival Geopark Ciletuh akan kembali digelar pada 15 September 2019 – 25 September 2019 di Kecamatan Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.  Festival itu sebagaimana tercantum dalam daftar top 100 event pariwisata nasional.

Reaktor.co.id – Festival Geopark Ciletuh 2019 merupakan acara yang kelima kali digelar sejak tahun 2015. Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dan didukung sepenuhnya oleh Kementerian Pariwisata, Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Badan Pengelola Geopark Nasional Ciletuh-Pelabuhanratu.

Objek wisata Geopark Ciletuh sangat lengkap untuk kategori ekowisata atau wisata alam, mulai dari garis pantai yang meliuk terpadu batu dan karang, beberapa air terjun, patahan lapis Bumi, hingga puncak bukit Darma yang memiliki sudut pandang yang sangat eksotik.  Selain itu ombak lautan yang perkasa, tebing curam, dan pemandangan lainnya bisa pengunjung nikmati.

Pengunjung juga akan disuguhi pemandangan sawah yang amat memesona hingga membelai sukma jika melintasi sepanjang perjalanan ke puncak Darma. Amat beragam dan setiap sudut mata memandang terlihat eksotime sebagai gatra destinasi ekowisata.

Seperti tahun sebelumnya Festival Geopark Ciletuh 2019 akan melibatkan ratusan seniman dan seniwati yang akan menampilkan kebudayaan daerah, kesenian dan kuliner khas Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang akan berkolaborasi dengan masyarakat lokal sehingga acara ini semakin semarak dan sarat pesona.

Kesenian yang akan ditampilkan antara lain rengkak penyadap jipeng, gondang, tutunggulan, suligar, pencak silat, dan wayang golek.

Ekowisata Geopark Ciletuh terkenal hingga manca negara sebagai destinasi yang menawarkan paket komplit yang memadukan pesona pantai, air terjun sampai bukit cantik yang menjadi surga bagi para pemburu sunrise dan sunset.

Para pengunjung festival ini juga dapat menikmati keindahan Pantai Karang Hawu, sejuknya Pemandian Air Panah Cisolok dan berselancar di Pantai Cimaja selama gelaran festival ini. Semuanya dihadirkan bak potongan surga yang jatuh ke bumi.

Di Ciletuh waktu begitu cepat berlalu meskipun mata ini enggan berkedip karena menikmati lukisan Tuhan yang sangat luar biasa. Hingga menjelang malam tiba, pengunjung bisa mendapatkan penginapan menurut selera masing-masing, apakah di hotel, penginapan rakyat, atau di tenda-tenda yang bisa membuat kita menyatu dengan semesta.

Mitigasi Risiko

Pesona luar biasa Ciletuh Geopark membutuhkan mitigasi risiko kebencanaan. Tak bisa dimungkiri, bahwa bentang alam yang menakjubkan itu juga mengandung potensi kebencanaan, seperti longsor, kecelakaan transportasi hingga gempa bumi.

Pada masa depan pola kunjungan para wisatawan akan menuju ke obyek ekowisata yang ada di daerah. Hal itu sebaiknya disertai dengan antisipasi sistemik untuk penanggulangan bencana. Mengingat banyak destinasi pariwisata secara geografis terletak pada kawasan yang rentan bencana alam. Selain itu infrastruktur jalan menuju destinasi juga perlu terus dibenahi.

Dibutuhkan manajemen risiko bencana untuk sektor pariwisata yang andal. Manajemen risiko ini memerlukan peta tematik kebencanaan sebagai informasi kebencanaan spasial. Peta tematik kebencanaan ini juga merupakan informasi yang sangat dibutuhkan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pariwisata.

Dari peta tematik kebencanaan tersebut bisa dimanfaatkan badan kebencanaan di tingkat lokal maupun nasional serta para pelaku pariwisata di daerah yang bersangkutan untuk menyusun rencana aksi dalam rangka mitigasi bencana.

Mitigasi destinasi juga juga menyangkut eksistensi kedokteran wisata. Pemerintah daerah mesti menyiapkan aspek kedokteran wisata sebaik-baiknya. Penataan kedokteran wisata di daerah sangat terkait dengan pemahaman dan kemampuan para pemangku kepentingan pariwisata dalam penanggulangan bencana.

Dengan demikian diperlukan sistem mitigasi yang lebih detail, seperti latihan dan simulasi skala penuh jika terjadi bencana alam yang memerlukan aktivitas koordinasi, evakuasi dan identifikasi, distribusi logistik dan kesiapan lokasi.

Desa Tertinggal Jadi Maju

Ekowisata berbasis masyarakat merupakan usaha ekowisata yang menitikberatkan peran aktif komunitas. Ekowisata berbasis masyarakat dapat menciptakan kesempatan kerja lewat jasa pemandu, penyedia transportasi, homestay, menjual kerajinan, dan sebagainya.

Dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Educational and Community Needs Assessment for Integrated in Indonesia Ecotourism Management (INTEM) di Gedung LMFE Universitas Padjadjaran, Jalan Hayam Wuruk, Kota Bandung, Jumat, 13 September 2019.

Dikutip pikiran-rakyat.com, Asep Supriatna dari Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI) yang mengembangkan Geopark Ciletuh menyebutkan, pariwisata di sana telah mengentaskan Ciletuh dari desa tertinggal menjadi desa maju.

Masyarakat setempat mulai mengembangkan homestay, usaha kuliner, juga menjadi pemandu wisata di obyek wisata yang telah diakui sebagai Geopark dunia oleh UNESCO. Tingkat kunjungannya sendiri saat ini mencapai 32.000 orang per bulan.

“Meski pesantren sempat ketakutan Ciletuh akan seperti Bali,” ujarnya. Ia berharap, ada keterlibatan mahasiswa lewat KKN untuk membantu masyarakat setempat mengembangkan potensi desanya, “Memang terlihat sudah bagus, tapi di lapangan kami masih keteteran padahal 2021 ada evaluasi oleh UNESCO,” katanya.

Ketua Program Studi Manajemen Resort & Leisure UPI Galih Kusumah mengatakan, keberhasilan desa wisata ditentukan oleh aktornya, yaitu masyarakat itu sendiri. “Sehebat-hebatnya pendamping, tidak akan maju kalau aktornya tidak,” ujarnya.

Terbukti dari pengalamannya mendampingi di Kabupaten Bandung, dari 10 desa wisata hanya satu yang berhasil. Keberhasilan yang dimaksud ialah masyarakat setempat bisa menikmati manfaat ekonomi dari pengembangan desa wisata itu.  (Totoksis).*

ekowisata Festival Geopark Ciletuh

Related Post

Leave a reply