Menyoal Penangkapan Dua Aktivis Dandhy Dwi Laksono & Ananda Badudu

136 views

Dandhy DL dan Ananda Badudu

Reaktor.co.id –  Dalam waktu yang hampir bersamaan, dua aktivis demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) Dandhy Dwi Laksono dan Ananda Badudu ditangkap aparat kepolisian dengan sangkaan berbeda.

Dandhy,  yang juga seorang jurnalis (pengurus nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia) dan pembuat film dokumenter, ditangkap polisi pada Kamis (26/9/2019) malam sekitar pukul 23.00 WIB, di kawasan Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Sedangkan Ananda ditangkap aparat Polda Metro Jaya pada Jumat (27/9/2019) pagi, pukul 05.00 WIB.

Dandhy yang dikenal kritis dan menuangkan kritiknya melalui karya-karya dokumenter terhadap proyek-proyek pemerintah. Salah satu karya Dandhy yang fenomenal adalah film Sexy Killers yang dibuat oleh Watchdoc, wadah Dandhy berkreasi.

Dandhy sering mengkritik pemerintahan Joko Widodo. Melalui media sosial, terutama twitter dan instagram, Dandhy memprotes kebijakan pemerintah termasuk soal Papua. Belum lama ini, ia berdebat soal Papua dengan politikus PDIP, Budiman Sudjatmiko, dalam sebuah forum diskusi ilmiah.

Dandhy Laksono saat dijemput polisi (Foto Ist.)

Menurut kuasa hukum Dandhy, Algiffari Aqsa, kliennya telah diizinkan pulang dan tidak ditahan setelah diperiksa penyidik Polda Metro Jaya sekitar tiga jam sejak pukul 1.00 WIB dini hari, Jumat (27/9/2019). Namun, Dandhy telah ditetapkan sebagai tersangka.

Dandhy berstatus tersangka atas cuitan yang diunggahnya di akun twitter tentang Papua pada 23 September 2019. Dandhy dijerat pasal 45 A ayat (2) jo 28 ayat (2) UU ITE tentang ujaran kebencian terhadap individu atau kelompok sesuai.

“Status Dandhy tersangka. Hari ini beliau dipulangkan, tidak ditahan, kita menunggu proses selanjutnya dari kepolisian,” ujar Algiffari, Jumat (29/9/2019) pagi.

Menurut Algiffari, antara pasal yang dikenakan dan unggahan yang dimuat di Twitter itu tidak relevan. Apalagi banyak sudah banyak korban dari UU ITE.

Yang dilakukan oleh Dandhy, lanjutnya, adalah bagian dari kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat, menyampaikan apa yang terjadi di Papua. Pasal yang dikenakan tidak berdasar karena tidak memenuhi unsur SARA-nya.

Akan halnya Ananda, penangkapan atas diri musisi dan pegiat antikorupsi itu terkait dengan transfer uang kepada kepada mahasiswa yang mengikuti aksi di DPR RI pada Selasa (24 September 2019).

“Saya dijemput Polda karena mentransfer sejumlah dana kepada mahasiswa,” katanya seperti dikutip dari cuitan Twitter akun @AnandaBadudu, Jumat (27 September 2019).

Ananda juga mengunggah foto petugas kepolisian yang mendatangi kediamannya dengan membawa surat berwarna kuning, berisi perintah penangkapan atas dirinya.

Ananda memang menginisisasi kegiatan galang dana digital (crowdfunding) melalui Kitabisa.com dengan judul “Dukung Aksi Mahasiswa di Gedung DPR 23-24 September” untuk membantu mengirim logistik dan alat-alat kesehatan bagi mahasiswa yang berdemonstrasi.

Ia mengajak masyarakat untuk berkontribusi mendukung aksi mahasiswa lewat donasi dana yang akan digunakan untuk makanan-minuman, alat medis, bahkan sound system dan mobil komando.

Postingan crowdfunding itu menjadi viral di media sosial (medsos). Dari target hanya Rp 50 juta, Ananda berhasil mengumpulkan dana Rp175 juta untuk didistribusikan untuk aksi serta menolong mahasiswa yang luka-luka akibat tindakan represif aparat kepolisian.

Petisi untuk Dandhy dan Ananda

Menyikapi penangkapan dua aktivis tersebut, muncul dua petisi digital di laman change.org. Petisi untuk Dandhy Dwi Laksono berjudul: “Hargai Kebebasan Berpendapat: Bebaskan Dandhy Laksono dari Seluruh Tuntutan Hukum” itu dibuat oleh AJI. Sejauh ini, petisi tersebut telah ditandatangani oleh 12.498 orang.

Polda Jaya Metro Jaya menangkap Dandhy Dwi Laksono, seorang jurnalis dan pembuat film dokumenter sekaligus pengurus nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Dandhy ditangkap di rumahnya di Pondokgede, Bekasi.

Berdasarkan keterangan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Dandhy ditangkap Kamis, 26 September 2019, sekitar pukul sebelas malam di kediamannya.Dandhy ditangkap karena alasan posting di twitter mengenai Papua.

Penangkapan ini jelas bertentangan dengan kebebasan berpendapat dan berekspresi yang dijamin oleh Konstitusi Indonesia. Sebagai sebuah negara demokrasi, setiap warga negara berhak secara merdeka untuk menyampaikan isi gagasannya di muka umum, termasuk di media sosialnya.

Atas penangkapan ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mendesak polisi membebaskan Dandhy Dwi Laksono dengan segera dari segala tuntutan hukum.

Revolusi Riza Z. – Sekjen AJI Indonesia

Catatan:

AJI merupakan organisasi jurnalis yang misinya memperjuangkan kebebasan pers, kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi dan kebebasan berserikat; meningkatkan profesionalisme; serta meningkatkan kesejahteraan jurnalis. AJI menjadi anggota sejumlah organisasi internasional: International Federation of Journalists (IFJ), berkantor pusat di Brussels, Belgia: International Freedom of Expression Exchange (IFEX), berkantor pusat di Toronto, Kanada: Global Investigative Journalism Network (GIJN), berkantor pusat di Maryland, AS: Forum Asia, jaringan hak asasi manusia berkantor pusat di Bangkok, Thailand; South East Asian Press Alliance (SEAPA), yang bermarkas di Bangkok.

Petisi untuk Ananda Badudu berjudul: #KitaBersamaAnandaBadudu, dibuat oleh musisi Rara Sekar. Petisi digital untuk Ananda telah ditandatangani oleh 54.583 orang.

#BebaskanAnandaBadudu #KitaBersamaAnandaBadudu 

Nama saya Rara Sekar. Mungkin teman-teman pernah mendengar suara saya sebelumnya, dalam lagu ataupun sebuah pertunjukkan. Namun kali ini saya ingin teman-teman mendengarkan suara saya yang lain, yang saya rasa lebih penting dari apapun untuk saat ini. Saya mohon sekali perhatian teman-teman sebab pagi ini saya dibangunkan berita yang mengagetkan.

Teman dekat saya, Ananda Badudu, pagi ini ditangkap oleh pihak kepolisian. Salah satu alasannya karena membantu mengumpulkan dan menyalurkan dana dari masyarakat untuk mendukung aksi demonstrasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil pada 23-24 September 2019 lalu. Berikut kronologi singkat penangkapan teman saya, Ananda, pada Jumat 27 September 2019 jam 04.28 WIB.

Pukul 04.00 WIB, Ananda sedang tidur di losnya di wilayah Jakarta Selatan.

Pukul 04.25 WIB, ada tamu yang menggedor pintu kamar lalu dibuka oleh kawan Nanda.

Bapak Eko selaku pimpinan tamu dari Polda Metro Jaya menunjukkan kartu identitas dan lencananga. Namun, tiga orang lain yang mendampinginya tidak mengenakan seragam ataupun membawa identitas. Mereka hanya mengatakan membawa surat penangkapan Ananda atas keterlibatannya dalam aksi demonstrasi.

Pukul 04.55 WIB, tim Polda yang terdiri empat orang tersebut membawa Ananda ke kantor Resmob Polda Metro Jaya dengan kendaraan Avanza berwarna putih didampingi kawan sekamar Ananda. Proses penangkapan sendiri disaksikan oleh seorang satpam gedung dan dua orang tetangga.

Beberapa footage penangkapan juga dapat teman-teman lihat sendiri di rangkaian Instastories @anandabadudu di Instagram dan/atau di twitter @anandabadudu.

Mendengar kabar ini, saya tidak habis pikir. Ananda Badudu, hanyalah seorang warga biasa yang tergerak atas kesedihan dan keputusasaannya melihat ketidakadilan di Indonesia hari ini. Seperti yang dituliskan di laman https://kitabisa.com/campaign/aspirasimahasiswa ia hanya menjalankan tugasnya sebagai warga negara yang peduli dengan negaranya, dan ingin memastikan tidak ada peraturan-peraturan anti-demokrasi yang lolos dari perhatian masyarakat.

Sementara yang lain sibuk menuduh dan menyebarkan hoax, Ananda justru sibuk menyalurkan dana dari kita untuk tujuan kemanusiaan: memastikan bahwa ada akses ke ambulans di lokasi di mana banyak korban berjatuhan, serta air dan oksigen untuk siapapun yang sedang berada di lapangan pada saat itu. Ananda juga mengunggah laporan penggunaan dana ini di media sosialnya demi memastiakan transparansi pada publik yang telah mendonasikan uangnya — sesuatu yang justru patut dicontoh oleh pemerintah kita.

Ananda tidak sendiri, apabila Ananda sendiri, mungkin tidak akan terkumpul sekitar 175 juta dari 2.129 donatur hanya beberapa hari setelah laman donasi diluncurkan. Sebuah hasil yang melebihi target awal yang Ananda tentukan yakni 50 juta. Melihat bagaimana DPR “bekerja” menyusun, membahas hingga mengesahkan rancangan-rancangan UU bermasalah yang berpotensi merepresi masyarakat dan mengancam demokrasi di Indonesia, masyarakat mendukung aksi protes mahasiswa sebab mereka mewakili suara kita yang menyadari bahwa sistem pemerintahan Indonesia adalah sistem yang rusak: semakin represif, opresif, abai terhadap suara rakyat dan azas-azas demokrasi.

Ananda tidak sendiri, sebab Ananda Badudu adalah kita. Kita yang sudah lelah untuk dibungkam dengan segala taktik kekuasaan: UU ITE, pelarangan demonstrasi (di negara yang mengaku demokrasi?) dengan Menristekdiksi memberi sanksi pada rektor-rektor, pembahasan secara diam-diam RUU yang menyangkut kemaslahatan dan kekayaan alam Indonesia, pelanggaran HAM dan pengabaian terhadap segala tindak kekerasan struktural pada masyarakat terutama saudara-saudara kita di Papua, hingga perusakan lingkungan dan pembakaran hutan yang berkelanjutan atas nama pembangunan.

Jika teman-teman merasakan kekesalan, kekecewaan yang sama dengan Ananda, saya, dan ribuan masyarakat Indonesia lainnya, dukung, tanda tangani, dan sebarkan petisi ini. Sampaikan aspirasimu dan beritakan bahwa kita mendesak polisi untuk #BebaskanAnandaBadudu segera dan tanpa syarat. Pilih perjuanganmu dan bila tidak bisa turun ke jalan atau terlibat dalam aksi, perjuangkan dengan caramu sendiri.

Bagi teman-teman yang mengalami situasi serupa seperti Ananda, silahkan hubungi:

LBH Jakarta: @LBH_Jakarta (Twitter)
KontraS: @KontraS (Twitter)
Amnesty InternationaI Indonesia: @amnestyindo (Twitter)
LBH Pers: @lbhpersjakarta (Twitter)
Lokataru: @lokataru_id (Twitter)

Siapa saja bisa jadi target kriminalisasi berikutnya.

Namun, tetaplah berani, tetaplah saling jaga. A luta continua.

Salam,
Rara Sekar

(AF)*

Aktivis Ditangkap Ananda Badudu dandhy dwi laksono petisi digital reaktor

Related Post

Leave a reply