Dosen Unimed Medan Simpan 7 Pucuk Surat BJ Habibie

35 views

Dosen Unimed, Ichwan Azhari, menunjukkan 7 Pucuk Surat Milik Mantan Presiden ke-3 Indonesia, BJ Habibie. (Foto: Tribun Medan)

Reaktor.co.id – Perasaan hati Ichwan Azhari gundah gulana. Sampai sang idola BJ Habibie tutup usia, keinginan dosen dan sejarahwan dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Medan, Sumatera Utara, ini tak jua kesampaian.

Apa pasal? Rupanya, Ichwan memiliki 7 pucuk surat yang diperuntukkan bagi Presiden ke-3 Republik Indonesia itu. Surat-surat berusia hampir 50 tahun itu ditulis dan dikirim oleh ibunda dari kota Bandung, Indonesia kepada putra tercinta, BJ Habibie, yang bermukim di Jerman.

Pada musim dingin 1997, Ichwan yang sehari-hari berkuliah di kota Hamburg Jerman, menuju kota Stutgart untuk menghadiri ‘Briefmarken Internasional Messe’ (Pameran Internasional Prangko/Filateli).

Komen Sie hier. Ich habe viele Briefumslag fuer Habibie aus Indonesien (Tuan, kemarilah, saya memiliki banyak sampul surat yang dikirim untuk Habibie dari Indonesia),” ucap seorang pedagang pasar antik di kota Stuttgart, Jerman, kepada Ichwan Azhari muda, sembari menunjuk satu kardus penuh barang dimaksud.

Sebagian besar surat itu berasal dari R.A Habibie, ibunda tercinta BJ Habibie. Surat-surat itu berasal dari Ibunda Habibie di Bandung yang dikirim ke Hamburg  sepanjang kurun waktu 1967-1970.

Pedagang itu ternyata sudah lama mencari Ichwan, sosok yang ia kenal sebagai pengumpul benda-benda filateli asal Indonesia di berbagai bursa dan lelang (auction) perangko di Jerman.

“Pedagang prangko orang Jerman ini tahu nama Habibie. Nama yang juga jadi legenda bagi banyak orang Jerman yang mengenal Indonesia,” kata Ichwan, di Museum Sejarah Al Quran, GOR Pemprov Sumut, Jumat (13 September 2019), kepada tribunnews.com.

Kala itu, aku Ichwan, mengingat uangnya sangat terbatas, hanya 10 pucuk surat dari ibunda Habibie untuk Habibie dan Ainun yang mampu dibelinya.

“Saya lihat ada satu kardus lagi surat surat yang dikirim ke Habibie yang jatuh pada pedagang itu,” kenang Ichwan.

Liebste Rudy, Ainon, Ilham En Thareq” demikian sapaan awal dari sang ibu kepada belahan jiwa yang berada nun jauh di negeri seberang dan sangat ia rindukan.

“Surat-surat ibunda Habibie selalu menyapa dengan cinta dan sayang,” tutur Ichwan dengan nada haru.

Ichwan muda tentu saja terkejut alang kepalang. Ia bertanya ke pedagang, bagaimana bisa mendapatkan begitu banyak surat milik BJ Habibie tersebut.

Pedagang prangko Jerman itu sambil tertawa, dengan enteng menjawab bahwa itu didapatnya dari tukang botot atau tukang barang bekas di Hamburg.

“Hah?” reaksi Ichwan tak percaya.

Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa surat-surat penting ibu Habibie itu bisa jatuh ke tukang botot? Ichwan lalu menyadari, bahwa hal ini mungkin saja terjadi di Jerman.

Ia menduga, pembantu di rumah Habibie di Hamburg mungkin ingin membersihkan keller (tempat khusus yang biasa ada di rumah di Jerman yakni ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai gudang).

Saat gudang penuh dengan berbagai koran, majalah dan juga mungkin kumpulan surat-surat untuk Habibie terikut di dalam keller. Biasanya orang menelpon tukang barang bekas untuk mengangkut tumpukan barang di keller itu dengan imbalan sekadarnya.

Nah, dari tukang barang bekas itu lah pedagang perangko Jerman tadi mendapatkan surat-surat itu, kemudian menjadikannya sebagai barang dagangan di bursa prangko internasional di Stuttgart.

Ichwan kemudian menunjukan 10 pucuk surat yang ia beli itu kepada sahabatnya, seorang filatelis Jerman, Dr. Herbert Kaminski, yang kebetulan menjadi dosen di Universitas Hamburg.

Kaminski terkejut, dan berulang kali membujuk Ichwan untuk bisa memiliki surat-surat itu. Dia rupanya sangat terkesan surat dari Ibunda Habibie itu.

Apalagi, dalam surat-surat itu Ibunda Habibie selalu menyebut nama kedua cucu tercinta, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie, yang notabene anak Habibie-Ainun. Kebetulan saat bersekolah tingkat dasar di Hamburg, Ilham dan Thareq adalah anak murid dari Margaret, istri Dr.Kaminski.

“Berulangkali dia datang dengan berbagai cara merayu dan ingin membeli surat surat itu untuk diberikan kepada istrinya, guru SD Ilham dan Thareq di Hamburg. Akhirnya tiga dari sepuluh surat itu saya berikan kepadanya,” tukas Ichwan.

Usai menyelesaikan pendidikan di Jerman, Ichwan kembali ke Indonesia dan menjadi sejarawan dan tenaga pengajar di Unimed, Medan, sampai sekarang.

Pernah satu waktu, Ichwan berkesempatan ke Jerman dan menemui kembali pedagang perangko itu. Niat hati Ichwan ingin memborong semua surat untuk BJ Habibie yang tersisa.

Namun, hatinya kembali nelangsa. Semua surat itu ternyata sudah tidak ada pada si pedagang. Entah siapa yang memborongnya.

Sampai saat ini, selama lebih dari 20 tahun, Ichwan masih menyimpan tujuh pucuk surat yang sempat tercecer di Jerman itu.

Sewaktu masih jadi mahasiswa di Jerman, sekitar tahun 2.000, Ichwan pernah mengirim fotokopi surat itu ke alamat rumah Habibie di Hamburg dan berharap bisa mengembalikannya.

Sayangnya, staf Habibie tidak menindaklanjutinya. Dia juga pernah menghubungi sekretaris Habibie di Jakarta, melalui seorang wartawan yang kebetulan pernah meliput keberadaan surat-surat itu.

“Tapi tidak berlanjut karena saya katakan saya hanya mau menyerahkan surat-surat mengharukan ini langsung ke Pak Habibie,” imbuh Ichwan.

Pun saat pembuatan Film Habibie Ainun, Ichwan juga pernah dihubungi untuk meminta surat ini, tapi tidak berlanjut.

“Ingin saya, satu hari nanti menyerahkan sifat surat ini ke Pak Ilham Habibie atau Pak Thareq Habibie yang banyak disebut oleh eyang mereka,” sebutnya.

Menurut Ichwan, surat-surat yang ia pegang mengungkapkan kerinduan, cinta seorang ibu kepada anaknya Habibie, juga kepada Ainun, Ilham dan Tareq, dua cucu yang disayanginya.

Dalam surat-surat yang dituliskan dalam bahasa Belanda bercampur bahasa Indonesia dan bahasa Jawa itu banyak kata nasehat, saran dan di atas segalanya adalah kerinduan.

“Sungguh mengharukan getar-getar tarikan tulisan tangan sang ibu dengan tinta biru di atas kertas amplop aerogram (amplop yang berfungsi sebagai lembar surat),” tandas Ihwan. (AF)*

dosen unimed Ichwan Azhari pedagang loak reaktor surat bj habibie

Related Post

Leave a reply