Ditanya Presiden “Apakah tidak dihitung?” Direksi PLN “Mingkem”

81 views
presiden tegur direksi pln

Presiden Tegur Direksi PLN (Foto: merdeka.com)

Reaktor.co.id — Listrik di sebagian besar wilayah di Pulau Jawa padam sekitar 7 jam, Minggu (4/8/2019). Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyambangi kantor PT PLN (Persero) di Jakarta Selatan, Senin (5/8/2019) pagi untuk mendengarkan penjelasan dari direksi PT PLN.

Plt Dirut PT PLN Sripeni Intan Cahyani menjelaskan penyebab terjadinya pemadaman listrik masal di sebagian wilayah di Pulau Jawa.

Setelah Intan menjelaskan secara teknis perihal padamnya listrik secara massal, Presiden Jokowi merespons dengan pertanyaan yang membuat direksi PLN “mingkem” (terdiam).

Jokowi menyebut, apa yang dijelaskan Intan sangat panjang dan teknis. Ia menyinggung balik latar belakang direksi PLN.

“Penjelasannya panjang sekali. Pertanyaan saya bapak ibu semuanya kan orang pinter-pinter, apalagi urusan listrik dan sudah bertahun tahun,” ujar Jokowi.

“Apakah tidak dihitung? Apakah tidak dikalkukasi kalau akan ada kejadian-kejadian? Sehingga kita tahu sebelumnya. Kok tahu-tahu drop? Artinya pekerjaan yang ada tidak dihitung tidak dikalkulasi dan itu betul-betul merugikan kita semuanya,” tanyanya.

Sebagaimana disiarkan langsung Kompas TV, pertanyaan Jokowi tidak bisa dijawab Direksi PLN, padahal Jowoki cukup lama terdiam, menantikan jawaban.

Kompensasi

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta PLN memberikan kompensasi kepada konsumen. Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi dalam rilisnya menyatakan, banyak masyarakat yang merugi akibat pemadaman massal tersebut.

Kerugian masyarakat terjadi secara material, khususnya para pelaku usaha. “Bukan hanya merugikan konsumen residensial saja tetapi juga sektor pelaku usaha,” katanya.

Pemadaman yang mengganggu para pelaku usaha, sambungnya, bisa jadi berdampak pada investasi Jakarta. “Kalau di Jakarta saja seperti ini, bagaimana di luar Jakarta, dan atau di luar Pulau Jawa?” tegas Tulus dikutip Antara.

Direktur Pengadaan Strategis 2 Djoko Raharjo Abumanan menjelaskan, pihaknya harus melakukan perhitungan dalam waktu sebulan untuk mengetahui apakah pelanggan PLN berhak mendapatkan ganti rugi.

“Nanti dihitung, ada aturannya. Belum bisa (dipastikan apakah akan mendapat ganti rugi). Itu aturannya sebulan,” ujar Djoko.

Dia menjelaskan, dalam waktu sebulan pihaknya akan mengukur Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) untuk menyimpulkan ganti rugi akan diberikan atau tidak.

Hal itu mengacu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) Nomor 27 Tahun 2017 tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya Yang Terkait dengan Penyaluran Tenaga Listrik Oleh PT PLN (Persero).

Indikator yang dilihat sebagai pertimbangan ganti rugi adalah lama gangguan serta jumlah gangguan. Ganti rugi yang diberikan berupa kompensasi pengurangan tagihan listrik kepada konsumen.

Ia menyebutkan, kompensasi tersebut bervariasi, yaitu 35 persen dari biaya beban atau rekening minimum untuk konsumen pada golongan tarif yang dikenakan penyesuaian tarif tenaga listrik atau tariff adjustment.

Berikutnya, kompensasi 20 persen untuk konsumen pada golongan tarif yang tidak dikenakan penyesuaian tarif tenaga listrik alias pelanggan bersubsidi.

“Jadi aturannya apabila PLN melebihi daripada sekian itu, maka kalau dia pelanggan non-subsidi ada 35 persen biaya beban dikembalikan, (begitu) formulanya. Kalau dia subsidi lebih rendah lagi,” tandasnya.

Bukan Sabotase

Plt Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani membantah padamnya listrik karena adanya sabotase dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Menurutnya, kejadian ini murni kesalahan teknis.

“Padamnya listrik (black out) ini murni ketekhnisan. Kami tidak melihat adanya sabotase,” katanya dalam konferensi pers di Gandul, Minggu (4/8/2019).

Inten mengatakan, pihaknya akan melakukan investigasi terkait penyebab dari padamnya listrik hari ini. PLN bakal menunjuk pihak independen untuk melakukan investigasi.

“Kami akan lakukan investigasi secara internal. Kami akan menunjuk pihak independen untuk melakukan investigasi. Kami sudah ada tim dalam struktural untuk menangani masalah ini,” kata Inten.

Investigasi akan memakan waktu 2-3 bulan ke depan agar mendapat hasil komprehensif. Selain menginvestigasi, Inten menjelaskan PLN akan melakukan perbaikan secara signifikan, salah satunya dengan menggandeng perguruan tinggi untuk meningkatkan kapasitas kesisteman listrik.

“Kami juga punya kerjasama dengan perguruan tinggi untuk meningkatkan kapasitas kesisteman listrik kami,” ungkap Inten.

Diketahui, investigasi ini dilakukan untung mengungkap penyebab pasti sistem aliran listrik PLN mengalami black out. Akibat black out ini, listrik di wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Akibatnya, listrik pun mati sejak pukul 11.45 WIB siang tadi. Namun, listrik diperkirakan telah kembali normal di seluruh wilayah pukul 19.30 WIB hingga pukul 00.00 WIB dini hari.*

 

Listrik Mati Listrik Padam Mati Lampu PLN

Related Post

Leave a reply