Dipikat Investasi ‘Murah’ ala Jateng, 33 Pabrik Garmen di Jabar Potensial PHK 33.000 Pekerja

160 views

Buruh garmen (ilustrasi)

Reaktor.co.id, Cibinong – Sebanyak 33 pabrik garmen yang telah lama beroperasi di wilayah Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat (Jabar), berpotensi besar hengkang dan merelokasi usahanya ke wilayah Jawa Tengah (Jateng).

Usut punya usut, ternyata hal itu dipicu kebijakan memikat yang ditawarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng, berupa kemudahan berinvestasi dengan tingkat upah yang jauh lebih murah ketimbang standar UMK (upah minimum kabupaten/kota) yang berlaku tak hanya di Kabupaten Bogor, tetapi juga di kabupaten/kota di Jabar lainnya.

Hal itu dikemukakan Adang Suherman selaku Kasi Norma UPTD Pengawasan Ketenagakerjaan Wilayah I Bogor. Adang mengungkapkan, 33 pabrik garmen di Kabupaten Bogor sangat rawan hengkang ke Jateng.

Pasalnya, setelah pihaknya telusuri, Pemprov Jateng menawarkan segenap kemudahan investasi dengah UMK bagi pekerja/buruh hanya sebesar Rp 1,8 juta per bulan. Besaran UMK tersebut hanya setengah dari UMK Kabupaten Bogor yang saat ini di angka Rp 3,9 juta perbulan.

“Dari jumlah 33 pabrik garmen tersebut, setidaknya ada 33.000 tenaga kerja baik warga Kabupaten Bogor maupun sekitar rawan akan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),” imbuh Adang dikutip dari radarbogor, Rabu (31/7/2019).

Seperti diberitakan reaktor.co.id sebelumnya, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Pemprov Jabar, M. Ade Afriandi menggarisbawahi, kenaikan UMK di Jabar sepanjang 2015-2018 sebagai  salah satu faktor penyebab turunnya kinerja eksportir manufaktur di Jabar.

BACA JUGA: 130.000 Pekerja di Jawa Barat Terancam PHK, Pemprov Konsultasi ke ILO

“Data Apindo dan Disnakertrans Jabar mencatat setidaknya sepanjang tiga tahun ke belakang, terdapat 21 pabrik relokasi keluar Jawa Barat, sementara 143 pabrik lainnya ditutup,” cetus Ade.

Pemprov Jabar menilai, kondisi serupa juga tengah mengancam sejumlah daerah, di antaranya Kabupaten Bogor, Kabupaten Subang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat.

Ade mengemukakan, ancaman penutupan pabrik dan relokasi pada saat ini terjadi terutama di Kabupaten Bogor, Subang, Purwakarta, Bandung, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat (KBB). Di Kabupaten Bogor, jumlah pabrik yang terancam sejumlah 54 pabrik meliputi 64 ribu pekerja, di Subang terdapat 31 pabrik garmen, 5 pabrik telah tutup awal tahun 2019, meliputi 70 ribu pekerja.

“Setidaknya 130 ribuan pekerja dapat kehilangan pekerjaannya dalam waktu dekat, hanya di dua kabupaten saja. Inilah yang saya maksud dengan dilematika upah minimum di Jawa Barat. Di satu sisi berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, di sisi lain telah mengancam eksistensi industri, terutama industri manufaktur padat karya,” paparnya. (AF)*

 

buruh garmen kemudahan investasi pabrik hengkang Pengupahan upah minimum

Related Post

Leave a reply