Digempur Impor dari China, Pabrik Tekstil Mulai Megap-Megap

46 views

tekstil

Reaktor.co.id — Gempuran produk tekstil impor dari China membuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) tidak berdaya. Stok dalam negeri menumpuk dan tidak bisa terjual. Dampaknya pada arus kas perusahaan-perusahaan TPT hingga ke persoalan kemampuan membayar upah pekerja/buruh.

Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI) Suharno Rusdi memperkirakan, saat ini ada sekitar 1,5 juta bal benang dan 970 juta meter kain stok yang menumpuk di gudang-gudang industri tekstil karena tidak bisa terjual.

“Kira-kira senilai Rp 30 triliun atau setara dengan 2-3 bulan stok,” kata Rusdi dalam keterangan tulis, Kamis (29/8/2019).

Tingginya stok ini membuat industri tekstil kesulitan memutar modal kerja. Ini dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.

“Kalau dibiarkan berlarut dan stoknya lebih banyak maka dalam 2-3 bulan ke depan akan ada perusahaan yang tidak mampu membayar upah karyawan bahkan tidak mampu bayar pesangon,” jelasnya.

IKATSI telah menyampaikan secara resmi kepada beberapa menteri terkait agar sementara ini menghentikan izin dan rekomendasi impor.

“Intinya kami meminta pemerintah mengubah kebijakan perdagangan agar lebih pro produk dalam negeri dan bisa menguasai pasar domestik, sambil kita tingkatkan dayasaing agar bisa lebih bersaing untuk ekspor,” kata Rusdi.

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Federasi Kesatuan Serikat Pekerja Nasional (DPN-FKSPN), Ristadi mengatakan kondisi ini dapat mengancam nasib tenaga kerja di sektor ini. Ada tiga juta pekerja di industri tekstil.

“Ini sektor padat karya yang bisa berdampak buruk jika masalahnya tidak segera diatasi, akan banyak pengangguran,” jelasnya.

Menurutnya, berdasarkan laporan yang diterima dari masing-masing pengurus daerah, saat ini sekitar 40 ribuan karyawan yang sudah dirumahkan.

“Kita minta impor sementara distop dulu sampai pemerintah punya kebijakan yang tepat untuk kembali menyehatkan industri tekstil dalam negeri,” katanya.

Impor Berlebih

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengakui ada impor berlebih pada produk tekstil dan produk tekstil (TPT). Dampaknya memukul produsen dalam negeri, hingga ada aksi merumahkan pekerja hingga PHK, seperti yang terjadi di industri TPT Bandung, Jawa Barat.

“Tentu kita melihat ada impor yang berlebihan. Kita akan review lagi karena sekarang ada importir umum melalui PLB (Pusat Logistik Berikat). Kita mau dorong para produsen tidak terganggu. Apalagi perang dagang China-AS dan devaluasi China sehingga produk dari China akan kompetitif,” kata Airlangga di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (14/8/2019).

PLB selama ini memudahkan bagi eksportir maupun importir dalam menyimpan barang mereka, sebagai kawasan berikat. Namun, Airlangga tak merinci persoalan apa yang terjadi pada PLB dan kaitannya dengan impor TPT yang berlebihan.

“Tentu pemerintah melindungi. Amerika kan memberi (tarif) 10 persen untuk produk China. Nah, kita akan lihat, beberapa sudah kita lakukan di keramik, nanti kita lihat di industri lain-lain,” katanya.

Wakil Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat, Rizal Tanzil mengklaim tengah terjadi gelombang merumahkan pekerja dan PHK di industri tekstil Jawa Barat khususnya di wilayah Bandung Raya.

“Laporan dari anggota kami per Juli kemarin, total sudah 36 ribu karyawan yang dirumahkan (2017-2019),” kata Rizal Tanzil dilansir CNBC Indonesia, Senin (12/8/2019).

Menurutnya, langkah PHK diambil lantaran perusahaan berupaya bertahan dengan cara menurunkan produksi.

Dijelaskannya, kondisi industri TPT saat ini turut dipengaruhi banyaknya produk impor yang beredar dengan harga murah sehingga permintaan terhadap produsen lokal menurun.*

 

Impor China Industri Tekstil PHK

Related Post

Leave a reply