Demo Hong Kong: Ratusan Ribu Pekerja Migran Indonesia Diawasi

84 views
Pekerja Migran Indonesia Hong Kong

Hong Kong, China – September 25, 2011: Crowd of indonesian immigrant workers on sunday at Victoria Park in Hong Kong. The indonesian and philippines community are the main immigrants in the city, mostly women that work as domestic helpers and other works with a limited permit. Sunday is their day off and they come together in many places of the city like Victoria park where mainly the indonesian gather.

Reaktor.co.id — Warga Hong Kong menggelar aksi demonstrasi besar-besaran non-stop sejak 9 Juni 2019 hingga kini. Kabar terbaru, ribuan pengunjuk rasa melumpuhkan Bandara Internasional Hong Kong sehingga ratusan penerbangan dibatalkan.

Dua bulan lalu, pemerintah Hong Kong mengajukan usulan rencana undang-undang ekstradisi. Dengan RUU Ekstradisi itu mengatur setiap pelanggar hukum atau pelaku kriminal dari Hong Kong bisa diekstradisi ke China daratan.

Warga Hong Kong meyakini RUU itu akan membuat orang berisiko diekstradisi ke China. Isu itu kemudian memicu protes. Pada 9 Juni 2019, sekitar setengah juta orang turun ke jalan-jalan Hong Kong guna menyuarakan penolakan.

Koordinator aksi mengatakan, jumlah massa yang turun ke jalan melampaui demonstrasi pada 2003, ketika 500.000 orang turun ke jalan untuk menantang rencana pemerintah terkait penerapan hukum keamanan nasional yang lebih ketat.

Reuters melaporkan, jalanan di Hong Kong penuh sesak di sepanjang rute unjuk rasa. Seruan “No China extradition, no law evil” bergema di jalan-jalan kota. Massa demonstran juga menyerukan Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam yang pro-Beijing dan pejabat senior lainnya untuk mundur.

Perlindungan Pekerja Migran

Aksi demo besar-besaran membuat khawatir banyak pihak akab nasih Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong. Jumlah PMI di Hong Kong menurut data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong tahun 2017 mencapai 159.355 orang.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dan Konsulat Jenderal (Konjen) RI di Hong Kong telah memiliki rencana kedaruratan (contingency plan) dalam mengantisipasi memburuknya situasi di wilayah yang dulu dikuasai Inggris itu.

Menurut Acting Konjen RI Hong Kong, Mandala Purba, piaknya membentuk Tim Satgas Perlindungan WNI. Tim ini secara rutin melakukan patroli dan melakukan penyisiran di Bandara Hong Kong jika ada WNI yang memerlukan bantuan.

Menurut Mandala, sejauh ini dengan bantuan KJRI Hong Kong, para WNI yang terhambat perjalanannya itu masih dapat melakukan penjadwalan ulang penerbangannya dan melanjutkan perjalanan ke Indonesia atau negara tujuan lain.

“Saat ini pihak KJRI Hong Kong sudah mengerahkan staf di lokasi untuk mengurus WNI yang terjebak di bandara. Staf dikerahkan untuk membantu logistik, mencarikan akomodasi, hotel dan lainnya,” ungkap Mandala dikutip tempo.co.

WNI di Hong Kong yang berjumlah lebih dari 165 ribu –sebagian besar merupakan Pekerja Migran Indonesia– sejauh ini masih dapat bekerja dengan dan melakukan aktivitas sehari-hari secara normal.

KJRI Hong Kong melalui situs resminya menyampaikan imbauan bagi WNI/PMI di Hong Kong. Berikut ini isi imbauannya:

Mencermati demonstrasi yang sporadis, dan berkelanjutan serta dan tidak menentu untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan, KJRI Hong Kong menghimbau seluruh WNI / Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong hal – hal sebagai berikut : ​

  1. Tetap tenang dan selalu berhati – hati dalam melakukan aktivitas serta waspada pada saat berpergian2. Menghindari tempat – tempat demonstrasi. 
  2. Utamakan keselamatan pribadi dan hindari beraktivitas di luar jika tidak diperlukan. 
  3. Taati peraturan dan perintah, serta arahan dari petugas penegak hukum Hong Kong
  4. Hindari aktivitas yang mergugikan diri sendiri, termasuk bijak dalam bermedsos
  5. Monitor dan pantau terus Facebook KJRI Hong Kong dan lapor via WA KJRI Hong Kong jika terkena masalah.

Seruan Migrant Care

Sebelumnya, Direktur Migrant Care, Wahyu Susilo, meminta pemerintah Indonesia segera mengambil langkah dan rencana kedaruratan untuk melindungi pekerja migran Indonesia di Hong Kong.

“Situasi tersebut pasti akan mempengaruhi rasa aman mereka untuk bekerja dan bermobilitas,” kata Wahyu, dalam rilisnya, Senin (12/8/2019).

Menurutnya, pemerintah perlu menghentikan keberangkatan calon pekerja migran Indonesia ke Hong Kong dalam jangka waktu tertentu.

Selain itu, pemerintah perlu berkonsolidasi untuk menjamin keselamatan pekerja migran dengan negara-negara yang memiliki pekerja migran dengan tujuan ke Hong Kong, seperti Filipina, Nepal, India, dan lain-lain.

Wahyu mengatakan, bila situasi keamanan di Hong Kong makin memburuk, maka perlu ada evakuasi bagi pekerja migran Indonesia, terutama mereka yang bekerja di kawasan-kawasan dengan potensi konflik yang tinggi.*

 

BMI Hong Kong Demo Hong Kong Hong Kong PMI Hong Kong

Related Post

  1. author

    […] — Aksi demonstrasi warga Hong Kong untuk menentang RUU Ekstradisi menimbulkan kekhawatiran akan nasib ribuan pekerja migran Indonesia […]

  2. author

    […] Turun ke jalan (demo) untuk menyampaikan aspirasi, protes, atau unjuk rasa memang bukan monopoli buruh. Warga negara maju seperti Hong Kong pun memilih turun ke jalan untuk menentang RUU Ekstradisi. […]

Leave a reply