Ciri-Ciri Hoaks, Pembuat dan Penyebarnya Diancam Penjara

92 views

Hoax

Reaktor.co.id — Hoaks (hoax) atau kabar bohong menjadi salah satu penyebab kerusuhan di Manokwari, Papua, Senin (19/8/2019).

Kapolri menegaskan, ada hoax korban tewas yang picu mobilisasi massa di Manokwari. Polisi pun memburu penyebar hoax pemicu bentrokan di Manokwari.

Hoax foto mahasiswa Papua tewas dipukul aparat di Surabaya dirilis website resmi Kemenkominfo, Senin (19/8/2019). Disebutkan, beredar foto dan informasi adanya seorang mahasiswa Papua di Surabaya yang meninggal dunia akibat dipukul aparat TNI-Polri.

“Mabes Polri melalui akun media sosial Divisi Humas Polri memberikan klarifikasi. Menurut Polri, foto itu hoaks. Mereka menjalaskan bahwa foto tersebut adalah foto korban kecelakaan lalu lintas yang meninggal di TKP laka lantas, di Jalan Trikora tepatnya di depan TK Paut DOK V Atas Distrik Jayapura Utara, Selasa (19/2) pukul 07.30 WIT,” tulis Kemenkominfo.

Ciri-Ciri Hoaks

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Bidang Hukum, Henri Subiakto, memaparkan ciri-ciri pesan hoaks atau berita bohong serta ujaran kebencian (hate speech) yang sering menyebar di media sosial.

Menurutnya, masyarakat harus mampu mengenali hoaks karena konsekuensi hukum pun menanti bagi penyebar maupun yang hanya sekadar membagikan.

“Pesan hoaks dirancang untuk menciptakan kecemasan, kebencian, kecurigaan atau ketidakpercayaan hingga permusuhan,” ujar Henri dalam forum grup diskusi di KPU, Selasa (20/8/2019), dikutip Republika.

Henri mengingatkan masyarakat tidak ikut menyebarkan informasi begitu saja yang diterima di media sosial. Biasanya, kata Henri, informasi hoaks sering kali menggunakan bahasa-bahasa yang dapat menimbulkan kebencian maupun amarah.

Henri menuturkan, ciri-ciri hoaks di antaranya sumber informasi atau media tidak jelas identitasnya. Konten hoaks juga sering mengekspolitasi fanatisme suku, agama, ras, antargolongan (SARA).

Hoaks juga tidak memiliki pesan yang lengkap sehingga menimbulkan fakta yang berbeda. Jika berita itu dikeluarkan media resmi oleh wartawan, ada unsur 5W dan 1H. Ia mencontohkan sering kali ada gambar atau yang beredar di media sosial, tetapi dengan keterangan yang salah.

“Biasanya juga diminta untuk memviralkan dengan kata-kata ‘minta diviralkan, minta disebarkan, jangan berhenti di sini kalau berhenti di sini tidak masuk surga’. Itu justru ciri-ciri hoaks yang seharusnya jangan sampai disebarkan lebih luas lagi,” kata Henri.

Berdasarkan riset, sasaran hoaks adalah masyarakat mayoritas. Orang perkotaan juga lebih banyak kena hoaks daripada orang desa. Sebab, orang kota dinilai ekonominya lebih baik sehingga waktu senggangnya dapat dimanfaatkan menggunakan media sosial.

“Masyarakat yang berpendidikan lebih banyak terkena hoaks dan masyarakat yang beragama fanatik juga,” kata Henri.

Ciri-ciri hoaks lebih detail pernah dikemukakan Dewan Pers, meliputi 12 ciri berikut ini:

  1. Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan.
  2. Sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi.
  3. Pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah.
  4. Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal.
  5. Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat.
  6. Judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya.
  7. Memberi penjulukan.
  8. Minta supaya di-share atau diviralkan.
  9. Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya.
  10. Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya.
  11. Berita bohong ini biasanya ditulis oleh media abal-abal, di mana alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.
  12. Manipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.

 

Ilustrasi hoax

Hoaks Kejahatan Siber

Hoax kebanyakan beredar di media sosia dan aplikasi pesan WhatsApp (WA). Survei menyebutkan, media sosial menjadi sumber utama penyebaran hoaks.

Survei Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menunjukkan, media sosial menjadi sumber utama peredaran hoaks. Sebanyak 62,8 persen responden mengaku sering menerima hoax dari aplikasi pesan singkat seperti Line, WhatsApp, atau Telegram.

Saluran penyebaran hoax lainnya adalah situs web 34,9 persen, televisi 8,7 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen dan radio 1,2 persen.

Pembuatan dan penyebarluasan hoax merupakan tindak kriminal dan menjadi bagian dari kejahatan siber (cyber crime).

Dilansir laman Kominfo, pelaku penyebar berita bohong, meski hanya iseng, diancam dengan denda Rp1 miliar. Jika tak mampu membayar, terpaksa kurungan penjara enam tahun wajib dijalani.

Pelakunya bisa dijerat Pasal 28 Ayat 1  Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Pada pasal tersebut diuraikan, setiap orang sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan, ancamannya pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar. Pesan hoax bisa dilaporkan pidana karena sudah masuk dalam delik hukum.

Pembuat dan penyebar hoax juga bisa melanggar Undang-Undang No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.*

 

Berita Bohong Hoaks hoax Informasi Palsu

Related Post

Leave a reply