Buzzer Pro-Pemerintah dalam Sorotan, Polisi Akan Tertibkan

104 views

Keberadaan buzzer saat ini dinilai meresahkan. Dalam opini Tempo disebut buzzer pendukung Jokowi makin membahayakan demokrasi. Para pendengung jadi bagian dari kepentingan politik jangka pendek: mengamankan kebijakan pemerintah.

Buzzer Pendukung Jokowi

Foto Buzzer Pendukung Jokowi yang beredar di media sosial.

Reaktor.co.id, JakartaBuzzer (pendengung) Presiden Joko Widodo (Jokowi) tengah menjadi perbincangan di media sosial.

Istilah “BuzzerRp” ramai diperbincangkan. Istilah itu merujuk pada pada buzzer fanatik Jokowi yang membuat geger media sosial.

Kelompok ini dengan fanatiknya rela membela “junjungannya” yang dikritik oleh masyarakat, tentu saja lewat serangan di media sosial.

Menurut warganet, ulah buzzer yang membela habis-habisan kebijakan Jokowi ini dinilai membuat sang presiden menjadi anti-kritik.

Tagar #BuzzeRpKebalHukum sempat menjadi trending topic. Warganet menyoal buzzer pro-Jokowi yang terkesan kebal hukum, bahkan dibela polisi, ketika menyebarkan hoax, seperti penyebar hoax soal ambulance pembawa batu dalam aksi demo mahasiswa.

Buzzer pro-Jokowi kian santer disorot warganet setelah beredar tangkapan layar soal postingan lawas situs Seword di fanpage Facebook-nya.

Di situ termuat informasi soal “Kakak Pembina”, sosok yang dikabarkan sebagai pemandu gerak para buzzer politik pembela Jokowi.

“Tim ini memang tak terlihat. Selain Kakak Pembina dan Presiden, tak ada yang benar-benar tahu komposisi tim ini. Seperti halnya Avengers, setiap orang saling menjaga, menahan diri untuk tidak mengambil gambar. Tapi saya pikir momen ini sayang untuk tidak dibagikan dan diceritakan,” demikian tulis Seword dalam akun Facebook-nya, 2 Mei 2019.

Dalam postingan itu memuat foto beberapa orang pegiat media sosial seperti Denny Siregar hingga Pepih Nugraha. Foto disertakan, menunjukkan banyak orang duduk di atas kursi sambil memegang ponsel atau tablet. Banyak di antara mereka berjaket model bomber dengan tempelan gambar Merah Putih di bagian lengan kanan.

Nama-nama juga disebut dalam penjelasan postingan Facebook itu, yakni Yusuf Muhammad, Denny Siregar, Katakita, Abu Janda, Aldi El Kaezzar, Pepih Nugraha, Info Seputar Presiden, Redaksi Indonesia, Eko Kuntadhi, Komik Kita, Komik Pinggiran, Habib Think, Salman Faris, dan Sewordcom.

“Semua datang dari berbagai daerah, memenuhi panggilan Kakak Pembina,” tulis Seword.

Istana Tak Lagi Butuh Buzzer

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengimbau para buzzer pendukung Jokowi agar menyebarkan emosi positif, bukan sebaliknya, menciptakan narasi kebencian.

Ia juga mengklaim para buzzer itu tidak dalam satu komando, tetapi bergerak masing-masing. Ia meminta para pendukung Jokowi menggunakan pilihan kata yang sejuk dan tidak saling menyakiti di media sosial.

“Secara administrasi kami tidak membuat itu (buzzer), mereka berkembang masing-masing. Namun demikian yang perlu kita pahami bersama, bahwa bernegara perlu suasana yang nyamanlah,” ucap Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Moeldoko menilai, kemunculan para buzzer itu bertujuan untuk menjaga muruah pemimpinnya. Namun, dalam kondisi sekarang, dia memandang para buzzer tersebut sudah tidak diperlukan lagi. Termasuk para pendengung politik.

“Dalam situasi ini bahwa relatif sudah enggak perlu lagi mereka (buzzer). Karena yang diperlukan adalah dukungan-dukungan politik yang lebih membangun, bukan dukungan politik yang bersifat destruktif,” tegasnya dikutip Jawa Pos.

“Semangat untuk mendukung idolanya tetap dipertahankan, tapi semangat untuk membangun kebencian harus dihilangkan,” tegasnya.

Polisi Akan Tertibkan Buzzer

Aparat kepolisian akan menertibkan buzzer. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono mengaku, pihak kepolisian akan segera melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemKominfo) untu menertibkan buzzer di media sosial.

“Nanti kami koordinasi dengan Kominfo ya (untuk menertibkan buzzer),” kata Argo.

Namun, Argo mengaku polisi masih mendalami unsur pidana ataz aksi para buzzer ini. Kata dia, pihaknya terlebih dulu akan melihat konten yang disebarkan para buzzer di media sosial. “Ya kita cek dulu seperti apa,” ujarnya.

Dibayar Hingga Rp50 Juta

Penggunaan pasukan siber dunia maya (cyber troop) untuk mempengaruhi opini masyarakat dan menyudutkan lawan politik merupakan fenomena global.

Hasil laporan Universitas of Oxford bertajuk ‘The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation” menyebutkan, penggunaan pasukan siber untuk kegiatan memanipulasi telah meningkat sebesar 150% dalam dua tahun terakhir.

Tujuannya, menciptakan disinformasi, menekan hak dasar manusia, mendiskreditkan oposisi politik dan membenamkan pendapat yang berlawanan.

Dalam aksi ini media sosial Facebook masih menjadi pilihan pertama sebab media sosial ini dengan pengguna terbesar di dunia dan daya jangkau yang cukup luas hingga ke kerabat dan pertemanan.

“Kami telah mengumpulkan bukti pasukan cyber kini menjalankan kampanye di WhatsApp. Kami memperkirakan platform ini akan semakin penting dalam aktivitas ini dalam beberapa tahun mendatang karena semakin banyak orang menggunakan WhatsApp untuk komunikasi politik,” tulis laporan tersebut seperti dikutip CNBC Indonesia, Jumat (4/10/2019).

Dalam melakukan aksinya, para pasukan dunia maya ini kebanyakan menggunakan akun palsu. Mereka aktif berkomunikasi dengan target.

Selain itu, pasukan siber ini juga melakukan aksi peretas akun dari orang-orang terkenal di media sosial untuk melakukan propaganda atau membungkam pemilik akun di media sosial.

Soal strategi komunikasi, ada beberapa strategi yang biasa digunakan para cyber army ini. Yakni, pembuatan disinformasi atau memanipulasi media agar pembaca bingung, melaporkan akun atau akun secara massal, trolling, doxing (penyebaran identitas pribadi ke publik untuk dilecehkan)

Di Indonesia untuk menjalankan aktivitas ini media sosial yang digunakan adalah Facebook, Twitter, WhatsApp, dan Instagram.

Aktivitas mempengaruhi opini publik, menyerang dan menjatuhkan lawan politik dilakukan oleh para politisi dan partai serta kontraktor pribadi.

Dalam laporan Oxford disebutkan, pasukan cyber dunia maya Indonesia tergolong pasukan dengan kapasitas rendah. Mereka biasanya mengeluarkan biaya mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 50 juta.*

 

Buzzer media sosial Pendukung Jokowi

Related Post

  1. author

    […] Jakarta — Buzzer (pendengung), yaitu orang yang mempromosikan atau mempopulerkan sebuah produk, jasa, sosok, dan ide […]

Leave a Reply to Media Mainstream Berperan Populerkan Buzzer | Reaktor.co.id Cancel reply