Bukan Hoax! Siber Polri Pantau Media Sosial dan Grup WhatsApp

94 views
internet, whatsapp, smartphone

Ilustrasi Media Sosial. Foto: Pixabay

Patroli Siber Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri bukan hanya memantau media sosial, tapi juga grup WhatsApp (WA). Hal itu dilakukan karena peredaran hoaks lebih dominan di WA Group ketimbang medsos seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Menurut Kasubdit II Dittipidsiber Bareskrim Polri, Kombes Pol Rickynaldo Chairul, para penyebar hoaks lebih memilih Grup WA daripada medsos karena dinilai lebih aman dari pantauan kepolisian.

“Mereka kan berpikir menyebarkan hoaks di grup Whatsapp itu lebih aman dibandingkan di media sosial, karena itu kami melakukan patroli siber di grup-grup Whatsapp juga selain di media sosial,” ujar Rickynaldo dikutip tribunnews.com, Jumat (14/6/2019).

Dijelaskan, peredaran hoaks melalui medsos mulai menurun secara perlahan seiring meningkatnya persebaran hoaks di WA Group. Meski demikian, masih ditemukan sejumlah akun yang menyebarkan hoaks.

Ia juga menegaskan, patroli siber di Grup WA tidak melanggar UU mana pun, sehingga kepolisian dapat menangkap penyebar hoaks di WA Group.

“Coba dibaca lagi, UU apa yang dilanggar kami ini. Kan belum ada yang mengatur itu. Lagi pula hoaks ini masif beredar di Grup Whatsapp,” jelasnya.

“Kami kan tidak bisa langsung main masuk ke grup saja. Untuk melakukan itu, kami tetap harus ada laporan dulu dari masyarakat,” imbuhnya.

Rickynaldo menuturkan, patroli siber di WA Group sudah dilakukan sejak masifnya peredaran hoaks saat Pilpres 2019. Tak menutup kemungkinan patroli siber di WA Group akan terus dilakukan usai pelantikan Presiden dan Wakil Presiden nanti.

“Bisa saja setelah Pilpres nanti, ada hoaks-hoaks lain yang beredar yang menyerang pemerintah atau menyerang secara personal. Itu akan jadi pertimbangan kami untuk diteruskan nanti,” katanya.

Laporan “2019 CIGI-Ipsos Global Survey on Internet and Security Trust” menyebut dua dari tiga orang atau 67% masyarakat dunia menyetujui penyebaran berita bohong (hoaks) terbesar terdapat di Facebook.

Sebanyak 65% responden menyebut penyebaran hoaks terbanyak kedua ditemukan di media sosial secara umum. Sebanyak 60% responden menyebut hoaks ditemukan di situs-situs internet.

Dilansir katadata.co.id, survei CIGI melibatkan 25.229 pengguna internet dari 25 negara dan diselenggarakan pada 21 Desember 2018-4 Januari 2019.

Di Indonesia, sebanyak 84% responden menyebut pernah menemukan kabar bohong di Facebook. Hanya 12% yang tidak pernah menerima penyebaran hoaks di media sosial tersebut. Sebanyak 4% responden lainnya tidak pernah menggunakan Facebook.

Survei Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) tahun 2017 menyebutkan, media sosial menjadi sumber utama peredaran hoax.

Sebanyak 62,8 persen responden mengaku sering menerima hoax dari aplikasi pesan singkat seperti Line, WhatsApp atau Telegram. (R1).*

 

Berita hoax media sosial whatsapp

Related Post

Leave a reply