BPOM Usulkan Pemerintah Larangan Rokok Elektrik Vape

58 views

rokok elektrik vape

Reaktor.co.id, Jakarta — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengusulkan agar rokok elektrik dan vape dilarang pemerintah. Pasalnya, rokok elektrik dan vape yang belakangan ini banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia itu berbahan baku yang mengandung senyawa kimia yang berbahaya.

Menurut Kepala BPOM, Penny Lukito, usulan tersebut akan masuk dalam revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.

“Ya harus ada payung hukum. Kalau belum ada BPOM tidak bisa mengawasi dan melarang. Payung hukumnya bisa revisi PP 109,” kata Penny saat dihubungi detikcom, Jakarta, Senin (11/11/2019).

Penny mengungkapkan, ada beberapa fakta ilmiah yang sudah ditemukan BPOM sekaligus menjadi dasar usulan pelarangan electronic nicotine delivery system (ENDS) di Indonesia. Bahkan, BPOM menemukan bahwa bahan baku vape mengandung senyawa kimia yang berbahaya.

“Fakta ilmiah BPOM menemukan bahwa rokok elektronik mengandung senyawa kimia berbahaya bagi kesehatan, di antaranya: nikotin, propilenglikol, Perisa (Flavoring), logam, karbonil, serta tobacco specific nitrosamines (TSNAs), dan diethylene glycol (DEG),” jelasnya.

Ditambahkan Penny, klaim dari sisi kesehatan yang menyatakan vape aman dan menjadi metode terapi berhenti merokok, merupakan studi yang subjektif.

“WHO (badan kesehatan dunia) menyatakan tidak ada cukup bukti untuk menunjukkan rokok elektronik dapat digunakan sebagai terapi berhenti merokok,” ungkapnya.

Kandungan dan Bahaya Rokok Elektrik

Dilansir laman hellosehat, rokok elektrik –sering disebut juga vape– awalnya diciptakan di China tahun 2003 oleh seorang apoteker untuk mengurangi asap rokok.

Awalnya, vape juga diciptakan dengan tujuan untuk membantu orang-orang berhenti merokok.

Vape terdiri dari sebuah baterai, sebuah cartridge yang berisi cairan, dan sebuah elemen pemanas yang dapat menghangatkan dan menguapkan cairan tersebut ke udara.

Produk ini mengandung nikotin, yaitu zat adiktif yang juga ditemukan dalam tembakau. Nikotin yang terdapat di dalam vape merupakan zat yang juga terdapat pada rokok tembakau.

Cairan vape biasanya mengandung nikotin, propilen glikol, gliserin, perasa, dan bahan kimia lainnya. Namun, sama seperti rokok, asap vape atau aerosolnya mengandung zat-zat yang bahaya untuk kesehatan.

Uap yang keluar ini bukanlah uap air biasa. Namun, uap pada vape punya berbagai zat yang biasanya membuat ketagihan dan dapat menyebabkan penyakit paru, jantung, hingga kanker.

Dilansir American Cancer Society, berbagai bahan yang umumnya terkandung dalam vape dan asapnya yaitu nikotin.

Orang yang menggunakan vape juga berisiko mengalami ketergantungan. Ini karena tabung dengan tegangan tinggi pada vape dapat mengalirkan nikotin dalam jumlah besar ke dalam tubuh.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan oleh Truth Initiative, hanya sekitar 37 persen remaja dan dewasa yang tahu bahwa vape mengandung nikotin.

Vape juga mengandung volatile organic compounds (VOC), yaitu senyawa organik yang mudah menguap, contohnya propilen glikol.

Pada tingkat tertentu, VOC bisa menyebabkan iritasi mata, hidung, paru-paru, dan tenggorokan. Selain itu, VOC juga bisa menyebabkan sakit kepala, mual, dan berpotensi merusak hati, ginjal, serta sistem saraf.

Sejak tahun 2009, Food and Drugs Administration (BPOM Amerika Serikat) menunjukkan bahwa vape mengandung karsinogen dan bahan kimia beracun.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memberi peringatan kepada seluruh negara di dunia untuk melarang anak-anak, ibu hamil, dan wanita usia produktif untuk mengisap rokok elektrik.

Oleh karenanya, vape atau rokok tembakau sama-sama punya bahaya yang tak bisa diabaikan. Akan jauh lebih baik jika Anda menjauhi vape dan rokok tembakau demi kesehatan yang lebih baik.*

 

BPOM rokok elektrik vape

Related Post

Leave a reply