Berantas PNS Radikal, Pemerintah Bentuk Satgas Anti-Radikalisme

57 views

pengertian radikalisme

Reaktor.co.id, Malang — Pemerintah akan membentk satgas anti-radikalisme di setiap lembaga negara dan kementerian untuk memberantas radikalisme di kalangan pegawai negeri sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN).

Rencana tersebut dikemukakan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi usai mengisi kuliah umum di UIN Malang, Kamis (21/11/2019).

“Perlu saya garis bawahi, pertama, keputusan 11 menteri dan kepala lembaga negara. Betul-betul untuk pegawai negeri sipil, mereka harus menjadi garda terdepan untuk meningkatkan wawasan kebangsaan dan melakukan langkah-langkah deradikalisasi. Jadi sama sekali tidak boleh seorang pegawai negeri sipil ketularan sifat-sifat radikal,” tegas Fachrul dikutip detikcom.

Menurut Fachrul, satgas khusus itu akan dibentuk oleh setiap kementerian dan lembaga negara untuk menindaklanjuti keputusan yang sudah disepakati tersebut.

“Ada pembentukan satgas nanti untuk menampung laporan-laporan. Satgas dibentuk oleh kementerian dan lembaga negara masing-masing,” tuturnya.

Jika ditemukan ada PNS terpapar paham radikal, Fachrul memastikan tentunya akan langsung dilakukan penindakan.

“Pasti akan dipanggil, tidak kami apa-apakan. Kami hanya memberi nasihat karena sudah ancaman nyata radikalisasi di Indonesia saat ini,” ucap Fachrul.

Dalam kuliah umumnya, Fachrul Razi memaparkan radikalisme sudah menjadi ancaman nyata bagi Indonesia.

“Agak sedikit keras memang, karena kita tidak boleh membiarkan. PNS adalah garda terdepan melindungi negara dari radikalisme. Kita tidak ingin ada musuh dalam selimut, masa PNS digaji negara malah melawan negara,” tegasnya.

Menag Fachrul Razi

Menag Fachrul Razi

Sebelumnya, menteri yang ditugasi khusus mengatasi radikalisme saat pelantikan kabinet oleh Presiden Jokowi ini mengungkap unsur radikalisme.

Menurutnya, ada empat unsur radikalisme atau ciri-ciri orang terpapar radikalisme, mulai sikap intoleran hingga suka mengkafirkan orang lain.

“Jadi ada empat unsur radikalisme, yaitu, pertama, intoleran dengan orang lain yang berbeda, mengingkari fakta sosiologis kebinekaan. Kedua, adanya konsep takfiri, yang mengkafir-kafirkan atau menyalahkan pihak lain di luar kelompoknya. Ketiga, memaksakan kehendak dengan berbagai dalil, termasuk dalil agama yang disalahtafsirkan, dan keempat, cara-cara kekeraaan, baik verbalistik maupun fisik,” jelasnya.

Dia menyampaikan kesepemahamannya dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengenai definisi radikalisme.

Dia mengatakan, radikalisme diartikan sebuah pandangan yang mendambakan perubahan secara total dan revolusioner dengan menjungkirbalikkan nilai-nilai yang ada secara drastis melalui aksi-aksi teror dan kekerasan.

Menag menyebutkan tiga kriteria seseorang atau organisasi yang dapat dikatakan radikal.

“Pertama, mereka merasa paling benar dan intoleran, tidak bisa menerima orang lain yang berbeda identitas dan pendapat. Padahal, Allah SWT menegaskan bahwa ciptaannya dibuat dalam kondisi keberagamaan. Mohon maaf, kalau dalam agama Islam, dalam Alquran Surah Al-Hujurat ayat 13 Allah berfirman: Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal,” katanya.

Fachrul mengatakan, keberagaman atau kebinekaan dan pandangan adalah suatu keniscayaan. Fachrul menyebut kebenaran yang hakiki hanya berada di tangan Tuhan.

“Kedua, mereka memaksakan kehendaknya dengan berbagai cara, menghalalkan cara apa pun, bahkan memanipulasi agama untuk mencapai keinginan duniawinya. Mereka yang radikal ini tak segan-segan menjustifikasi perilaku kriminalnya, melukai, atau membunuh orang misalnya dengan penafsiran sekehendaknya dengan ayat suci,” ucap Fachrul.

Fachrul juga menyampaikan kriteria seseorang atau organisasi disebut radikal jika melakukan kekerasan verbal atau fisik untuk mencapai tujuannya.

“Ketiga, mereka yang radikal juga menggunakan cara-cara kekerasan, baik verbal maupun tindakan, dalam mewujudkan apa yang diinginkannya. Mereka tak segan melakukan ujaran kebencian atau menyampaikan berita bohong. Sebagian dari mereka juga melakukan tindakan-tindakan kekerasan fisik, mempersekusi kelompok lain, atau meledakkan diri di kerumunan orang banyak,” tuturnya.*

 

Menteri Agama radikal Radikalisme satgas anti radikalisme

Related Post

Leave a reply