Beban Kerja Antara Petugas Pemilu India dan Indonesia

127 views

Oleh Hemat Dwi Nuryanto   *)

> Hemat Dwi Nuryanto

Sistem demokrasi kita perlu dirombak agar pelaksanaan pemilu lebih efektif dan jurdil. Undang-undang Pemilu perlu direvisi supaya proses pemungutan suara dan penghitungan tidak  melelahkan dan banyak memakan korban. Dengan demikian pemilu tidak lagi dituding penuh modus kecurangan. Revisi UU juga dimaksudkan supaya tirani tukang survei yang menyelenggarakan quick count tidak terus terulang saat pemilu.

Petugas TPS menghitung suara ( Foto Republika)

Ratusan petugas Kelompok Panyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Pemilu 2019 di Indonesia meninggal dunia setelah hari pencoblosan. Belum diteliti secara rinci kenapa yang meninggal sedemikian banyak dan apa penyebab kematian orang sebanyak itu. Apakah secara medis karena terjadi gagal jantung akibat kelelahan dan kurang tidur. Atau karena beragam penyakit yang lain.

Sementara ini yang dituding penyebab kematian diatas adalah beban kerja berlebih dan depresi akibat tekanan jadwal waktu yang mepet.  Jika kita lihat lebih dalam beban kerja diatas adalah proses penghitungan suara yang sebenarnya hanya melibatkan matematika yang sangat sederhana.

Tahap pemilu India

Dalam waktu yang hampir bersamaan dibelahan dunia yang lain juga diselenggarakan Pemilu serentak yang diikuti oleh pemilih yang jumlahnya jauh lebih besar dari Indonesia, namun petugas pemilu di sana tidak banyak yang meninggal akibat beban kerja.

Negara yang dimaksud diatas adalah India yang memulai pemilu nasional pada Kamis (11/4/2019). India selalu sukses menggelar pemilihan umum terbesar di dunia yang diikuti sekityar 900 juta pemilih yang digelar selama enam pekan. Tahapan Pemilu di India sangat praktis,efektif dan murah. Dan bisa terlaksana secara jurdil dan bebas dari tudingan adanya fraud atau kecurangan.

Proses transformasi metode pemilu di negeri ini tidak bisa dihindari. Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika Serikat harus sekuat tenaga membenahi tatakelola demokratisasi. Kondisi di India dengan pemilih sekitar 900 juta orang dihadang kesulitan besar jika tidak menerapkan pemilu elektronik.

 Dengan perbandingan kedua negara diatas maka Indonesia perlu merancang sistem pemilu elektronik yang lebih canggih. Sistem itu sebaiknya hasil karya anak negeri sendiri yang wajib mendapat dukungan penuh dari segenap komponen bangsa.

Demokrasi biaya tinggi dan carut marut penyelenggaraan Pemilu di negeri ini sampai kapanpun akan terus terjadi jika tidak berani banting setir dengan cara mewujudkan pemilu elektronik  atau disebut e-Voting.

Tempat Pemungutan Suara di India ( Foto AFP )

Teknologi e-Voting dimulai pada 1970, biasa disebut pencatatan langsung secara elektronik atau direct recording electronic (DRE).  Pada era 80-an, e-Voting menggunakan prinsip marksense forms. Searah dengan perkembangan teknologi optical scan.

Dalam sistem tersebut pemilih menggunakan kertas suara lalu menulis didalam  kotak atau bentuk oval dengan tanda panah yang mengarah calon. Selanjutnya kertas suara itu dibaca melalui proses optical scaning dan langsung dihitung. Pada saat ini pelaksanaan e-Voting dengan prinsip marksenses forms mulai berkurang searah dengan efisiensi biaya demokrasi dan tuntutan akan green election  yang bersifat paperless.

Kinerja KPU dimasa mendatang bisa efektif dan sesuai dengan harapan rakyat jika menerapkan perangkat teknologi seperti EVM (Electronics Voting Machines) ala India atau Diebold yang dipakai Amerika Serikat. Beberapa keuntungan penggunaan perangkat teknologi diatas adalah lebih murah, praktis, aman dan sangat cepat dalam memproses hasil pemilu.

Ada baiknya kita membandingkan Pemilu di Tanah Air dengan di India. Dengan jumlah pemilih lima kali lipat dibanding Indonesia, namun hasil pemilu di India bisa diketahui dalam waktu dua hari saja dengan tabulasi suara nasional dan lokal yang lengkap serta sangat akurat sehingga tidak banyak menimbulkan kisruh atau sengketa.

Dilain pihak hitungan berjenjang hasil pemilu di Indonesia dalam waktu satu bulan belum juga tuntas. Hebatnya lagi, bangsa India bisa melantik Presiden terpilih beserta kabinetnya lebih cepat. 

Perbedaan yang paling esensial dan menjadi kunci kesuksesan sebuah pemilu adalah proses pemilihan (vote). Sungguh ironis, pemilu di Indonesia dari cara coblos menjadi contreng. Lalu kembali lagi ke sistem coblos.  Sementara tatakelola demokrasi dunia sudah terfokus kepada metode e-Voting.


EVM (Electronics Voting Machines) ala India

Terdapat dua prinsip e-Voting, di India dengan prinsip offline. Sedangkan Amerika Serikat dengan prinsip online. Mesin e-Voting Pemilu India sejak Pemilu 2009 dibuat sebanyak 1.7 juta unit untuk menjangkau seluruh negara bagian. Kini teknologi pemilu di India terus berkembang searah dengan perkembangan teknologi informasi.  Di Amerika Serikat, Diebold dikembangkan oleh perusahaan swasta Diebold AccuVote.

Pelaksanaan hari H Pemilu pada prinsipnya terdiri dari tiga proses, yakni: registrasi pemilih, proses pecoblosan dan proses perhitungan suara. Semua proses mestinya harus dapat diotomatisasi. Untuk itu dibutuhkan perangkat teknologi untuk demokrasi berupa mesin dan aplikasi yang bisa mentransformasikan Tempat Pemungutan Suara (TPS ) menjadi wahana e-Voting.

Perangkat e-Voting bisa saja dibeli, direkayasa sendiri atau disewa dari perusahaan IT seperti yang dilakukan oleh Filipina. Sekedar gambaran, harga seperangkat EVM buatan India pada saat diberlakukan sistem ini beberapa tahun lalu harganya sekitar 10 ribu Rs atau sekitar  230 dollar AS.

Harga tersebut mencakup satu control unit dan satu voting unit. Seperangkat EVM tersebut untuk satu TPS dengan kapasitas 3840 pemilih. Sedangkan EVM buatan Amerika Serikat yakni Diebold harganya sekitar 3.300 dollar AS dengan kapasitas 35.000 suara atau pemilih. Kedua jenis EVM diatas telah mendapatkan sertifikasi dan standardisasi internasional dengan sistem keamanan yang dirancang sangat baik. Sehingga berbagai modus kecurangan Pemilu bisa ditanggulangi.

            Bisa saja Indonesia tidak perlu mengimpor EVM beserta aplikasinya. Lalu membuat sendiri dengan kemampuan industri dalam negeri. Namun, hal itu harus dimulai dengan R&D serta pembuatan beberapa prototipe EVM dengan berbagai varian pilihan teknologi e-Voting.

Sebaiknya spesifikasi teknologi e-Voting bersifat three in one. Yang merupakan integrasi fungsi registrasi elektronik (aplikasi e-Registrasi), EVM, dan perhitungan elektronik ( aplikasi e-Counting).

Prinsip e-Registrasi adalah dengan menggunakan barcode pada kartu pemilih atau surat panggilan. Ketika si pemilih datang, petugas di TPS cukup meng-scan barcode di kartu itu maka secara otomatis data pemilih akan terkontrol secara cepat. E-Registrasi bisa terintegrasi dengan EVM.

e Voting di Amerika Serikat

Sistem EVM itu sebaiknya dibuat ala India terlebih dahulu baru dalam Pemilu selanjutnya melompat seperti sistem Diebold. EVM bersifat offline terdiri dari dua equipment atau alat. Alat pertama yang disebut dengan Voting Unit digunakan oleh pemilih sedangkan alat yang kedua disebut Control Unit yang dioperasikan oleh petugas Pemilu. Kedua alat tersebut tersambung satu sama lain oleh sebuah kabel dengan panjang sekitar lima meter.

Voting Unit memiliki sebuah tombol pada setiap calon yang akan dipilih. Sedangkan Control Unit memiliki tiga tombol yang memiliki fungsi masing-masing, yakni untuk konfirmasi satu suara yang dilakukan oleh satu pemilih, untuk melihat total jumlah suara yang sementara berlangsung, dan untuk menutup proses pemungutan suara.

Pada Voting Unit terdapat daftar nama-nama calon beserta gambar partai mereka sehingga pemilih tinggal menekan tombol yang terletak di sebelah nama calon yang dipilih. Proses pemungutan suara; pertama pemilih diregistrasi. Selanjutnya petugas Pemilu menekan tombol pada alat Control Unit yang menandakan satu kali hak menekan tombol bagi pemilih diberikan.

 Pemilih kemudian memasuki bilik suara dan menekan tombol yang sejajar dengan nama calon beserta lambang partainya. Penekanan tombol ini menghasilkan suara bel dan lampu menyala yang menandakan satu suara telah diberikan.

*) Lulusan UPS Toulouse Prancis. Aktivis Serikat Pekerja era gerakan reformasi. Kini Inovator Sistem dan Teknologi Pemilu.

Beban Kerja pemilu elektronik

Related Post

Comments are closed.