Bangkrut, Pailit dan Nasib Pekerja

94 views

REAKTOR.ID — Perkara kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sepanjang 2018 meningkat signifikan dari tahun sebelumnya. Ini merupakan salah satu indikator, bahwa ekonomi nasional terguncang. Tren kepailitan 2019 cenderung masih meingkat karena efek negatif pemilu dan merosotnya neraca perdagangan Indonesia.

Bangkrut dan pailit perlu diantisipasi sehingga nasib buruh tidak semakin terpuruk.  Organisasi serikat pekerja perlu mempelajari akar persoalan dan fenomena kebangkrutan baik dalam skala korporasi maupun negara.  Kondisi negara kaya sumber daya alam (SDA) seperti Venezuela yang kini diambang kebangkutan membuka mata kita bahwa kondisi yang serupa bisa tejadi di negeri ini.

Salah urus negara karena utang dan kutukan SDA bisa mengakibatkan kebangkrutan yang menyengsarakan kehidupan warganya. Kesombongan tukang ekonomi rezim penguasa yang sering menggembar-gemborkan kondisi ekononi dalam kondisi kokoh dan daya beli rakyat masih kuat, hal itu bisa jadi upaya menghibur diri dari kondisi sebenarnya yang memang sudah parah.

Paradoks kebangkrutan Venezuela

Berdasarkan publikasi International Monetary Fund (IMF) yang berjudul World Economic Outlook, pertumbuhan ekonomi global tahun 2019 diperkirakan hanya sekitar 3,3 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dari capaian pertumbuhan ekonomi global tahun 2018 silam yang mencapai 3,6 persen. Proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang jauh menurun dari per¬tumbuhan ekonomi tahun 2018, disebabkan belum meredanya perang dagang antara Tiongkok dan Amerika, ancaman Brexit, serta pengetatan keuangan global.

Kebangkrutan dan pailit penyebabnya bisa faktor eksternal di luar kewenangan pengusaha. Kondisi obyektif menunjukkan bahwa Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 mencapai angka 5,3 persen. Namun, dengan mempertimbangkan kon-disi perekonomian dalam dan luar negeri, publik memiliki logika hal itu  sulit direalisasikan.

Karena defisit neraca perdagangan masih menghantui Indonesia. Setelah mengalami defisit neraca perdagangan yang mencapai 8.566,4 juta dollar AS tahun 2018, kini neraca perdagangan Indonesia belum juga menunjukkan perbaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat triwulan pertama tahun 2019, neraca perdagangan Indonesia meng¬alami defisit sebesar 193,4 juta dollar AS. Angka tersebut masih berpotensi terus membengkak pada 2019.

Selama empat tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan laju ekspor hanya sekitar 5 persen setiap tahunnya. Laju pertumbuhan ekspor tersebut jauh lebih rendah dibanding pertumbuhan impor yang mencapai 11,47 persen setiap tahunnya. Berdasarkan data tersebut, mau tidak mau, pemerintah harus menggenjot ekspor. Namun, untuk menggenjot ekspor tahun 2019 tidak mudah. Karena legitimasi politik rezim pemerintahan dalam kondisi bermasalah. Kedua komoditas andalan yang menopang ekspor Indonesia nasibnya sedang berada diujung tanduk. Batu bara dan Crude Palm Oil (CPO) diprediksi akan  terus mengalami penurunan permin¬taan ekspor sepanjang tahun 2019. 

KEGAGALAN keuangan perusahaan adalah ketidakmampuan suatu perusahaan untuk membayar kewajiban keuangannya pada saat jatuh tempo yang menyebabkan kebangkrutan. Serikat pekerja mesti memahami kondisi keuangan perusahaan. Biasanya Kebangkrutan suatu perusahaan diawali dengan adanya kondisi keuangan yang buruk  atau biasa disebut financial distress. Dimana perusahaan kesulitan dalam menghasilkan laba bersih operasi usaha serta kecilnya arus kas dibandingkan dengan hutang jangka panjangnya dari tahun ke tahun, dengan kata lain kebangkrutan diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi untuk mencapai tujuannya.

Meskipun terkesan sama istilah bangkrut dan pailit ada perbedaanya. Persepsi publik masih beranggapan pailit dan bangkrut adalah dua hal yang sama. Akar kata pailit  berasal dari bahasa Prancis yaitu failite yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti kemacetan dalam pembayaran. Dalam domain hukum pengertiannya sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, pailit dapat dijatuhkan apabila debitor: Pertama;  mempunyai dua atau lebih kreditor, dan: kedua; Tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, Ketiga; baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya.

Pailit juga memiliki arti sebagai sebuah proses di mana seorang debitur yang mempunyai kesulitan keuangan untuk membayar utangnya dinyatakan oleh pengadilan. Pengadilan yang berhak menggugat di sini adalah pengadilan niaga dikarenakan debitur tersebut tidak bisa membayar utangnya.

Sedangkan bangkrut dalam KBBI, bangkrut memiliki arti; menderita kerugian besar hingga jatuh (tentang perusahaan, toko, dan sebagainya) atau dapat disebut dengan “gulung tikar”. Penyebab kebangkrutan sebuah perusahaan karena kerugian yang dialaminya, artinya perusahaan tersebut memiliki kondisi keuangan yang tidak sehat, sedangkan pailit, dalam kondisi keuangan yang sehat pun ia dapat dinyatakan pailit karena utang.

Para pengurus serikat pekerja perlu memahami penyebabnya. Ditinjau dari penyebabnya, pailit dan bangkrut juga memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Menurut Pasal 2 ayat (1), suatu perusahaan dapat dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan jika debitor mempunyai dua  atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.

Sementara Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 18/PUU-VI/2008 halaman 27 menyatakan bahwa perusahaan bangkrut bukan karena kesalahan buruh dan banyaknya kebangkrutan di Indonesia disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal di luar kewenangan pengusaha dan mismanagement.  (Arif Minardi, Totoksis)

Bangkrut pailit

Related Post

Comments are closed.