Bahaya Rokok Elektrik (Vape) bagi Kesehatan

126 views

Anggapan bahwa vape lebih aman ketimbang rokok biasa tidak sepenuhnya benar. Walaupun tidak menghasilkan asap berbahaya seperti halnya rokok biasa, vape ternyata menimbulkan berbagai efek samping terutama bagi kesehatan.

Ilustrasi Rokok elektrik. (Foto Flickr/Lindsay Fox)

Reaktor.co.id – Rokok elektrik (vape) sudah sangat populer dan fenomenal. Digunakan tak hanya oleh orang dewasa tapi juga oleh kalangan remaja. Ada semacam pembiaran kepada kaum milenial yang menggunakan vape. Alasannya, rokok elektrik dinilai tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan sebab asap yang dihisap bukan berasal dari tembakau yang dibakar (rokok biasa).

Rokok biasa harus dibakar secara langsung untuk menghasilkan asap. Sedangkan pada vape, pemanasannya menggunakan mekanisme penguapan dan menghasilkan uap.

Bahkan, sebagai fenomena baru, kehadiran vape memancing rasa penasaran dan rasa ingin tahu. Banyak kalangan muda dan bahkan anak-anak (yang sebelumnya bukan perokok sama sekali) mencoba-coba menggunakan rokok jenis ini. Vape direpresentasikan sebagai gaya hidup (life style) baru bagi kaum milenial.

Begitu juga di kalangan perokok, banyak yang mencoba beralih ke vape karena dianggap lebih aman dan lebih stylish tanpa mengurangi sensasi merokok seperti rokok konvensional.

Namun, anggapan bahwa vape lebih aman ketimbang rokok biasa tidak sepenuhnya benar. Walaupun tidak menghasilkan asap berbahaya seperti halnya rokok biasa, dirangkum dari berbagai sumber, vape ternyata menimbulkan berbagai efek samping terutama bagi kesehatan.

Meningkatkan risiko penyakit darah tinggi, diabetes, dan sakit jantung

Karena sebagian besar cairan untuk vape mengandung zat nikotin, penggunaan nikotin dalam jangka panjang berpotensi menaikkan tekanan darah dan denyut jantung, serta meningkatkan risiko terkena resistensi insulin, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.

Meningkatkan risiko kanker

Cairan untuk vape mengandung formaldehida dapat menyebabkan kanker, seperti kanker paru-paru.

Meningkatkan risiko kerusakan paru-paru

Aroma sedap yang dihasilkan oleh vape berasal dari zat berbahaya yang bernama diasetil. Jika terhirup, zat itu akan menyebabkan peradangan dan kerusakan pada paru-paru, dan berisiko menyebabkan penyakit bronchiolitis obliterans (paru-paru popcorn), penyakit paru-paru langka di mana bronkiolus atau saluran napas terkecil dalam paru-paru mengalami kerusakan permanen.

Menurunkan daya ingat pada anak-anak

Beberapa penelitian sejauh ini mengungkapkan bahwa kandungan nikotin dalam vape dapat membuat anak remaja menjadi lebih aktif.

Namun bila digunakan dalam jangka panjang, kandungan nikotin ini dapat mengganggu daya ingat dan konsentrasi, terutama bila pengguna vape juga menggunakan rokok biasa, atau mengonsumsi alkohol dan narkoba.

Menyebabkan kecanduan

Efek samping lain dari vape adalah rasa kecanduan. Pengguna yang berhenti menggunakan rokok elektrik bisa mengalami stres, mudah marah, gelisah, dan sulit tidur.

Dokter Agus Dwi Susanto, dokter spesialis paru-paru Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Persahabatan, Jakarta, membenarkan bahwa riset-riset medis terbaru sudah membuktikan vape mengandung zat-zat berbahaya yang bisa memicu kanker.

“Melalui tahapan kajian dari berbagai riset terbaru, bisa disampaikan bahwa rokok elektronik tetap mengandung nikotin, bahan-bahan karsinogen atau penyebab kanker, dan bahan berbahaya lainnya yang berisiko terhadap kesehatan,” ungkap  Agus dalam talkshow Ruang Publik KBR, Rabu (17/7/2019).

Pada 2015, sejumlah lembaga riset dari Inggris memang pernah mengklaim, vape 95 persen lebih aman dari rokok biasa. Tapi, menurut Agus, klaim itu sudah kedaluwarsa.

“Kajian (lembaga riset Inggris) itu dilakukan tahun 2015 kalau tidak salah. Sedangkan proses perkembangan penelitian terbaru sudah makin banyak dilakukan dalam 4 tahun terakhir, dan itu (riset baru) menunjukkan bahwa rokok elektronik berdampak pada kesehatan,” cetus Agus.

Agus menegaskan lagi, baik vape maupun rokok konvensional sama-sama berbahaya karena mengandung nikotin.

“Rokok elektronik dan rokok konvensional sama-sama mengandung nikotin. Nikotin ini selain menyebabkan adiksi atau ketagihan, bisa menimbulkan penyakit karena akumulasi jangka panjang. Penyakit khususnya adalah kanker, karena nikotin mengandung bahan karsinogen,” terang Agus.

Selain di dalam nikotin, karsinogen atau zat pemicu kanker itu juga terdapat dalam zat-zat lain hasil penguapan.

“Di rokok konvensional, karsinogen itu berada di komponen tar. Tetapi di rokok elektronik, bahan penyebab kanker ini ada dalam komponen logam yang dilepaskan karena mekanisme penguapan, seperti formaldehyde, kemudian ada acrolein dan gycerol,” imbuhnya.

Agus menambahkan, uap vape juga mengandung Particulate Matter (PM 2.5), yakni debu sangat halus yang bisa mengganggu pernapasan.

“Menurut WHO, PM 2.5 ini sangat berbahaya, sangat toksik, dapat menyebabkan iritasi, peradangan, sehingga berpotensi menyebabkan penyakit saluran napas, seperti risiko asma, penyakit paru obstruksi kronis, bahkan menyebabkan risiko kanker,” pungkasnya. (AF)*

 

gaya hidup milenial reaktor rokok elektrik vape

Related Post

  1. author

    […] Bahaya Rokok Elektrik (Vape) bagi Kesehatan […]

  2. author

    […] Jakarta — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengusulkan agar rokok elektrik dan vape dilarang pemerintah. Pasalnya, rokok elektrik dan vape yang belakangan ini banyak dikonsumsi […]

Leave a reply