Arif Minardi, Kendalikan Semangat Zaman Bersama Serikat Pekerja

239 views

Tiada hari tanpa pergerakan ( Foto Istimewa )

Lelaki renta setengah baya, geram ditrotoar jalan,
Saat panas tikam kepala,
Seorang buruh disingkirkan.
Pesangon yang engkau kantongi, tak cukup redakan gundah,
Tajam pisau kepalan tangan,
Ajak kau kepintu penjara

Reaktor.co.id – Cuplikan sepotong bait lagu Iwan Fals yang berjudul PHK diatas maknanya sangat relevan dengan gejolak ketenagakerjaan di Tanah Air sepanjang masa.

Peringatan HUT Kemerdekaan ke-74 RI bertema ‘SDM Unggul Indonesia Maju’. Berbicara masalah SDM bangsa identik dengan kaum pekerja/buruh. Kapasitas nasional mustahil bisa optimal tanpa peran buruh. Negeri ini masih tumbuh dibawah kapasitasnya. Ibarat raksasa yang lagi bingung,akibatnya kapasitas nasional yang idle masih besar. Perlu memperbarui konsep kemajuan yang berkeadilan sosial sesuai dengan semangat zaman. Dimana buruh sebagai SDM bangsa yang terbarukan niscaya harus terus dikembangkan kompetensi dan ditingkatkan terus kesejahteraannya.

Paragraf diatas merupakan pesan Hari Kemerdekaan RI dari tokoh nasional serikat pekerja/buruh Arif Minardi, yang saat ini tengah mempersiapkan agenda besar untuk kemaslahatan bangsa utamanya kaum pekerja. Tiada hari tanpa pergerakan, demikian semboyan Insinyur Teknik Mesin lulusan Universitas Brawijaya, Malang.

Arif Minardi dalam forum pergerakan aktivis nasional (foto pribadi)

Arahkan Tinjumu

“Aksi serikat pekerja/buruh setelah gerakan reformasi tinjunya semakin menggebu tetapi belum efektif jika ditilik dari aspek tujuan bersama,” tutur Bung Arif.

Ketua Umum FSP LEM SPSI itu mengajak seluruh elemen serikat pekerja/buruh untuk mengefektifkan aksi. Setiap aksi yang diawali dengan tangan yang mengepal atau meninju hendaknya diarahkan sepenuhnya kepada sasaran bersama.

“Arahkan tinjumu ! ,” seruan Arif dalam berbagai kesempatan dengan kawan-kawan buruh. Mengarahkan tinju sekuat tenaga dengan sasaran yang sudah ditentukan bersama tentunya bisa merebut kemenangan bersama.
Mengarahkan tinju kaum buruh tentunya tidak gampang. Pengalaman dan dialektika perjuangan Arif Minardi sejak gerakan reformasi bersama para buruh sangat menarik untuk disimak.

Kepalan tinju Arif Minardi berawal saat PT Dirgantara Indonesia (PT DI) bergolak saat BJ Habibie menjadi Wakil Presiden RI. Gejolak buruh pabrik pesawat terbang membuat BJ Habibie menugaskan Letjen Sintong Panjaitan yang terkenal sebagai perwira tinggi pasukan khusus anti teror untuk ikut mengantisipasi.

Sintong melihat bahwa gerakan karyawan PT DI yang melakukan aksi ambil alih perusahaan strategis rezim orde baru tersebut tidak bertendensi politik praktis dan tidak mengancam kedudukan BJ Habibie sebagai pimpinan nasional.

Aksi hanya murni masalah ketimpangan pendapataan karyawan dan amburadulmya sistem karir. Ada jurang yang lebar terkait dengan sistem penggajian yakni tunjangan fungsional yang disebut dengan ausser tarif (AT) antara karyawan bagian produksi dengan elit engineer.

Berdiskusi dengan pakar psikologi Universitas Indonesia tentang pengembangan SDM dan kepemimpinan korporasi (Foto Totoksis)

Pada saat puncak kekuasaan orde baru dibawah kepemimpinan Soeharto itu tidak ada aksi serikat pekerja yang demikian masif dan berani. Keberanian Serikat Pekerja Forum Komuniaksi Karyawan PT DI ( SP FKK PT DI ) melakukan aksi demonstrasi besar-besaran yang menutup seluruh kegiatan perusahaana bahkan mengambil alih Gedung Pusat Manajemen telah menjadi model dan inspirasi bagi serikat pekerja BUMN yang lain seperti Sekar PT Telkom, SP KAI, PT Garuda.

Sejak saat itulah terjadi aksi unjuk rasa besar-besaran di jalanan oleh pihak SP FKK. Hampir tiga tahun aksi unjuk rasa terjadi di Bandung dan Jakarta dalam bentuk orasi dan long march. Aksi unjuk rasa PT DI pada 2003 menjadi pusat perhatian media masa mainstrean baik cetak maupun elektronik.

Sepanjang tahun pihak serikat pekerja berhasil menempatkan kasusnya menjadi head line media massa cetak seperti Kompas, Media Indonesia, Tempo, Pikiran Rakyat, dan lain-lain. Begitu juga dengan media TV, bahkan MetroTV paling banyak melakukan siaran langsung terkait dengan aksi unjuk rasa karyawan industri pesawat terbang nasional itu.

 

Head line media massa mainstreaam terkait aksi Serikat Pekerja PT DI

Belum ada dalam sejarah Indonesia terjadi peliputan media massa yang begitu panjang dan sering terhadap aksi serikat pekerja. SP FKK berhasil mendominasi pemberitaan nasional pada 2002 hingga 2004. Itu karena pengurus serikat pekerja di bawah kepemimpinan Arif Minardi juga rajin melakukan press release dan safari ke kantor redaksi memberikan penjelasan dan makalah berbagai aspek terkait PT DI.

Sebagai pengurus SP FKK PT DI Arif Minardi telah melakukan pendekatan dan perundingan dengan pihak pemerintah dan DPR untuk mencari jalan terbaik menyelamatkan puluhan ribu karyawan yang nota bene merupakan SDM teknologi yang andal di negeri ini yang dipersiapkan untuk transformasi teknologi dan industri dengan jargon tinggal landas bangsa Indonesia.

Sudah ratusan kali diadakan pertemuan dengan pihak DPR dengan surat dan kertas kerja yang jika di kumpulkan mencapai satu lemari arsip. Begitu juga dengan pihak pemerintah dalam hal ini Menteri Tenaga Kerja yang waktu itu dijabat Jacob Nuwa Wea dan Menteri BUMN Laksamana Sukardi.

Puluhan kali diadakan pertemuan dengan Menteri Jacob Nuwawea, baik di Jakarta maupun di Bandung. Sebagian besar pertemuan dipimpin langsung oleh Jacob sendiri dengan agenda membahas secara detail masalah krusial yang ada di PT DI baik terkait dengan aspek ketenagakerjaan antara lain sistem pengupahan hingga masalah kompetensi dan jenjang karir yang waktu itu sangat amburadul.

Pertama melihat sistem pengupahan Jacob Nuwa Wea geleng-geleng kepala sembari mengurut dadanya. Dia sangat heran mengapa industri pesawat terbang yang melibatkan teknologi canggih ternyata tidak didukung dengan tatakelola ketenagakerjaan yang baik. Tidak ada bedanya dengan pabrik kaleng selorohnya. Satu persatu Jacob membedah sistem pengupahan bersama pihak serikat pekerja, direksi dan komisaris perusahaan.

Mobil komando Serikat Pekerja generasi pertama untuk orasi Arif Minardi yang kini jadi monumen (Foto Totoksis)

Struktur upah, tunjangan dan hak-hak normatif karyawan PT DI satu persatu dibedah lalu direkomendasikan kepada direksi untuk dijalankan. Jacob juga mencabut SK PHK terhadap Ketua Umum SP FKK PT DI Arif Minardi dan Sekjen Andi Masopeng Bone. Sebelum Jacob datang ke Bandung, pihak Direksi PT DI memang telah melakukan union busting terhadap serikat pekerja serta melakukan kontra aksi yang melibatkan pasukan khusus TNI AU ( Paskhas) dan pengisian jabatan Direktorat Umum dan pengamanan kepada Mabes TNI AU.

Langkah Chappy Hakim selaku Komut PT DI telah menjerumuskan Pemerintahan Megawati yang melahirkan pengangguran intelektual. Pemerintah terlihat berdarah dingin menjadikan SDM yang profesional dan terdidik dibunuh karirnya serta dibekukan lahan profesinya. Bertolak belakang dengan cita-cita Bung Karno, yang tidak sudi melihat bangsanya menjadi bangsa kuli. Bersamaan dengan kekisruhan PT DI juga terjadi hal yang sama terhadap para teknolog atau SDM teknologi di PT Garuda Indonesia, Kodja Bahari, Texmaco, dll.

Telah terjadi brain loss atau hilangnya tenaga ahli berkompetensi. Ironisnya Pemerintah membiarkan begitu saja terjadinya peristiwa brain loss SDM teknologi. Banyak Doktor dan Master terbaik lulusan Luar Negeri yang terbengkalai dan terbuang.

Postur SDM PT Dirgantara Indonesia yang kompetensinya terdiri atas kelompok enginering 141 job title, produksi 65 job title, Human Resource 82 job title, niaga 21 job title adalah SDM teknologi yang harusnya dikembangkan bukannya dibinasakan. Dari segi komposisi pendidikan SDM Dirgantara terdiri atas strata S-3 berjumlah 19, S-2 berjumlah 138 orang, S-1 berjumlah 2.607 orang, D-3 berjumlah 666 orang dan SLTA plus Diklat khusus aeronautika berjumlah 5.587, sedangkan rata-rata masa kerja mereka telah mencapai 15 tahun.

Transformasi Serikat Pekerja

Sepanjang bertugas di DPR RI Arif Minardi waktu dan pikirannya tersita oleh masalah ketenagakerjaan. Masalah implementasi undang-undang BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan telah dia selesaikan dan disosialisasikan kepada para buruh. Sayangnya penerapan dilapangan hingga saat ini masih sarat dengan masalah dan sangat mengecewakan buruh. Bisa jadi UU diatas menjadi bom waktu yang bisa meledak setiap saat.

Ketua Komisi IX DPR RI saat itu dr. Ribkha Tjiptaning  menjadikan Arif sebagai ujung tombak komisi terkait dengan persoalan buruh yang bersifat eskalatif dan krusial. Seperti kasus outsourcing BUMN yang sangat complicated karena melibatkan beking oknum berbintang. Masalah kepailitan perusahaan yang berdampak terhadap karyawan, seperti PT Merpati Nusantara Airliner. Hingga masalah unjuk rasa karyawan PT Freeport Indonesia yang sempat mengguncang bangsa.

Dari Komisi IX Arif dialihtugaskan oleh fraksinya ke Komisi VI yang membidangi masalah perindustrian, perdagangan, BUMN, BKPM. Di komisi VI dirinya semakin mendapatkan gambaran bahwa saalah urus perusahaan linear dengan gejolak ketenagakerjaan. Hal itu bisa dilihat dari kasus-kasus beberapa BUMN seperti Pelindo, PLN, Angkasa Pura, PT KAI dan lain-lain.

Pada 2014 Arif terpilih sebagai Ketua Umum FSP LEM SPSI dan terpilih kembali pada Munas “Mahatma Persatuan” di Ungaran, Semarang tahun 2018. Arif melakukan transformasi terhadap federasi sehingga kondisinya tidak mirip kereta senja.

Arif memiliki obsesi agar seluruh organisasi pekerja/buruh perbarui tata kelola organisasi dari PUK hingga pengurus pusat. Organisasi buruh mesti bisa menjadi wahana penggemblengan kepemimpinan bangsa dalam berbagai tingkatan. (Totoksis).*

Arif Minardi Transformasi Serikat Pekerja

Related Post

Leave a reply