Ancaman bagi Kaum Muslim di Jerman Meningkat

75 views
Demo Anti Masjid di Jerman

Demo Anti Masjid di Jerman

Reaktor.co.id, Jerman — Sebuah rumah ibadah kaum Yahudi (sinagoga) di Halle diserang kelompok ekstremis kanan. Hal itu menempatkan kaum minoritas Muslim di Jerman dalam kewaspadaan.

Meski sudah terbiasa diludahi atau dipelototi, ancaman bagi kaum muslim justru meningkat.

“Percobaan serangan terhadap sinagoga di Halle tidak mengejutkan. Orang-orang sudah memperkirakannya sejak lama,” ujar Ketua Dewan Sentral Muslim, Aiman Mazyek.

Serangan terhadap komunitas Yahudi di kota Halle itu bisa juga menyerang komunitas Muslim di sana.

“Baik orang Yahudi maupun Muslim sama-sama menjadi target para pelaku. Karena itu, orang-orang saling mendukung. Umat Muslim pun melakukan kunjungan solidaritas ke komunitas Yahudi Halle,” kata Mazyek.

Para anggota komunitas di Dewan Pusat sejak lama mengalami serangan terhadap tempat-tempat ibadah mereka.

“Masyarakat muslim di Halle, misalnya, telah menjadi sasaran serangan selama bertahun-tahun. Ada pengrusakan, ada coretan Nazi. Dalam dua serangan terakhir, senapan angin ditembakkan ke arah kerumunan orang di komunitas,” jelasnya.

Dikatakannya, diam-diam telah terjadi perubahan atsmofer. Situasi sekarang ini mendorong para pelaku untuk tidak sekadar berbicara, tetapi juga bertindak.

“Mereka berperilaku persis seperti apa yang dijabarkan beberapa teroris ekstremis sayap kanan seperti di Christchurch – dalam manifesto mereka sendiri. Tulisan-tulisan mereka menggerakkan para peniru untuk bertindak serupa. Ini adalah bencana yang sebelumnya seperti telah diumumkan. Itulah hal yang mengejutkan.”

Tinggi, pelanggaran hukum terkait Islamofobia

Menurut data Kementerian Dalam Negeri Federal, tahun 2018 terjadi 910 delik kebencian terhadap Islam. Jumlah ini sedikit menurun dibandingkan dengan tahun 2017. Tercatat 1.075 kejahatan dengan latar belakang sama.

Akan tetapi, serangan terhadap perorangan kian meningkat. Sebagai contoh, pada 2018 ada 40 orang terluka dalam serangan Islamofobia, dibandingkan dengan 32 orang tahun 2017.

Menurut laporan media Neue Osnabrücker Zeitung, Dewan Pusat Muslim mengasumsikan bahwa tidak semua pelanggaran dicatat dalam statistik dan ini hanya mencerminkan separuh dari kondisi yang sebenarnya.

Pihak-pihak yang menjadi korban sering kali menahan diri untuk tidak berbicara. Beberapa kejahatan juga diklasifikasikan secara tidak benar oleh polisi dan jaksa penuntut.

Islamofobia eksis di tengah masyarakat

Penelitian cendekiawan Islam, Kai Hafez, yang mengajar di Universitas Erfurt, menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen orang Jerman rentan terhadap Islamofobia (ketakutan tanpa alasan terhadap Islam).

Di beberapa daerah di Jerman, seperti di Thuringen dan Sachsen, angka ini bahkan mencapai hingga lebih dari 70 persen. Kekhawatiran kuat tentang Islam ada tidak hanya di pinggiran masyarakat di Jerman, tetapi telah menembus jauh ke tengah-tengah mereka.

Anggota dewan Asosiasi Anti-Diskriminasi Jerman, Birte Weiß, juga mengamati meningkatnya rasa ketidaksukaan terhadap kaum muslim. Seringkali ini adalah kebencian sederhana, seperti ungkapan “Dasar muslim, yang laki-laki agresif semua,” ujarnya kepada surat kabar Handelsblatt.

“Rasisme anti-Muslim dalam kehidupan sehari-hari tumbuh,” ujar Weiß.

Sebagai contoh, sejumlah siswa berulang kali diminta untuk mengomentari “negara Islam” karena teman sekelas mengenali mereka sebagai muslim.

Peningkatan rasisme di kehidupan sehari-hari

Secara khusus, tindakan rasisme dalam kehidupan sehari-hari juga meningkat, kata Aiman Mazyek dalam wawancara dengan DW.

“Meludah dan memelototi masih merupakan pengalaman yang agak tidak berbahaya, tetapi di jalan-jalan umum kami juga mengalami kekerasan verbal dan fisik yang cukup terbuka.”

Mereka yang mungkin sebelumnya telah memiliki keberatan atau ketidaksukaan terhadap muslim, kini secara terbuka mengartikulasikan ketidaksukaan mereka.

Dahulu mereka tidak berani, tetapi sekarang mereka melakukannya. Tindakan ini menyasar orang-orang muslim dan Yahudi, juga secara umum untuk orang-orang yang terlihat berbeda dari masyarakat mayoritas. Yang terpengaruh adalah orang-orang yang berbeda atau yang berpenampilan asing.

“Beberapa anggota Asosiasi Dewan Pusat Muslim juga telah mengalami sejumlah agresi,” lanjut Mazyek.

“Di komunitas kami, anak-anak dan perempuan khususnya takut untuk pergi ke masjid. Mereka pergi salat Jumat dengan perasaan was-was. Sementara yang lain tidak lagi pergi ke komunitas karena merasa takut atau tidak yakin.”

“Ini tidak boleh terjadi di dalam negara konstitusional dan negara bebas dan terbuka seperti ini, di mana sebagian besar orang bertindak dan berpikir dengan cara ini.”

Apa yang bisa dilakukan terhadap ekstrimisme sayap kanan?

Mazyek berpikir untuk memanggil perwakilan masyarakat untuk menentang kebencian terhadap kaum muslim.

“Selain itu, kita harus mengintensifkan dialog dan pada saat yang sama berinvestasi dalam hal keamanan. Siapa pun yang ingin memerangi ekstremisme sayap kanan akhirnya harus juga berjuang melawan kebencian terhadap muslim.”

Jumlah Muslim di Jerman

Dilansir laman Goethe Institute, sekarang ini sekitar 5% atau sekitar 4.100.000 penduduk Jerman adalah umat Islam.

Kota-kota seperti Berlin, Cologne dan Hamburg selain memiliki bangunan-bangunan masjid yang representatif juga merupakan pusat dari kehidupan umat dan budaya Islam di Jerman.

Muslim di Jerman merupakan bagian dari kelompok minoritas beragama di tengah-tengah keberadaan masyarakat mayoritas sekuler.

Kaum Muslim pertama kali tiba di Jerman sebagai tawanan dari Pengepungan Wina yang dilancarkan oleh Kesultanan Ottoman (Khilafah Turki Utsmani) pada 1683.

Ketika hubungan menjadi lebih hangat antara Prusia dan Kesultanan Ottoman, sejumlah kaum Muslim mulai tinggal di Jerman secara reguler. Misalnya, pada 1763, pengadilan Prusia di Berlin mengizinkan posisi diplomatik Ottoman.

Mesjid pertama dibangun pada Perang Dunia I di dalam kamp tawanan Wünsdorf di pinggiran Berlin.

Jumlah penganut Islam di Jerman secara relatif tetap sedikit hingga 1960-an ketika program pekerja tamu dengan Turki memungkinkan masuknya banyak tenaga kerja Turki. Populasi Turki di Jerman sekarang menjadi etnis minoritas terbesar di negeri itu, sejumlah sekitar 3 juta orang.

Pada 1994, Cem Özdemir menjadi Muslim pertama yang terpilih masuk ke parlemen Jerman, Bundestag, setidaknya seperti yang diketahui oleh Dewan Pusat Muslim Jerman.

Islam di Jerman berkembang pesat dalam dua dekade terakhir. Saat ini, Islam menjadi agama terbesar kedua di negara tersebut dengan jumlah penganut mencapai 4,7 juta orang atau sekitar 5,7 persen dari total populasi Jerman yang sebesar 83 juta jiwa.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Dalam Negeri Jerman, Muslim Suni menjadi yang terbesar dengan persentase sebesar 74,1 persen, disusul Alevi (12,7 persen), Syiah (7,1 persen), Ahmadiyah (1,7 persen), dan aliran lain-lain (4,4 persen)

“Keberadaan Islam di sini menjadi penting karena sebenarnya hampir setengah dari populasi (penduduk Jerman) tidak religius,” ujar pakar Islam di Jerman, Susanne Kaiser, di Berlin.

Sebenarnya, kata Kaiser, Islam sudah muncul di Jerman sejak 1945. Akan tetapi, saat itu Islam masih menjadi agama yang tidak terlalu banyak penganutnya dengan jumlah sebanyak 6.000 orang.Sejak 1970- an, jumlah penduduk Muslim di negara tersebut secara bertahap terus meningkat mulai dari 1,2 juta orang (1976) hingga mencapai 4,5 juta orang (2015).

Makin besarnya jumlah Muslim di Jerman ternyata menimbulkan masalah baru bagi masyarakat di negara tersebut. Saat ini, isu mengenai Islam menjadi hal yang sering diwacanakan di kalangan masyarakat Jerman.

“Awal dari semuanya adalah serangan teror 9/11 di Amerika Serikat, mes kipun itu juga bisa menjadi perdebatan,” katanya.

Sejak peristiwa aksi terorisme itu, mata masyarakat Jerman seolah-olah menjadi terbuka soal Islam. Sebelumnya, kata Kaiser, orang-orang Jerman hanya meng anggap Islam sebagai remeh-temeh.

Populernya debat mengenai Islam ini salah satunya juga diakibatkan menguatnya kalangan kelas menengah Muslim di Jerman. “Jika dulu banyak dijumpai Muslimah bekerja sebagai tenaga kerja kasar, seperti cleaning service , kini wanita Muslim bekerja sebagai guru atau hakim,” ujar Kaiser.

Meskipun perkembangan Islam di Jerman makin pesat, sayangnya umat Islam di Jerman kurang mendapatkan keberpihakan secara politik. Perlakuan terhadap umat Islam, misalnya, berbeda dengan per lakuan terhadap umat Yahudi yang diistimewakan akibat peristiwa holocaust yang hingga kini tabu dibicarakan di negara tersebut.

“Berbeda dengan Yahudi, Islam di Jerman tidak memiliki pengaruh politik dan lobi terhadap kekuasaan. Jadi, mereka harus bernegosiasi dengan mayoritas (Kris ten),” kata Kaiser.

Yang jadi masalah, selama ini para pemeluk Islam di Jerman tidak terorganisasi dengan baik. Hal itu cukup berpengaruh terhadap proses integrasi Muslim ke masyarakat Jerman.

Profesor Teologi Islam Universitas Hamburg Prof Serdar Kurnaz mengatakan, salah satu yang membuat pemerintah Jerman khawatir adalah keberadaan imam-imam masjid yang rata-rata berasal dari negara lain, seperti Mesir, Turki, Tunisia, dan Suriah. Para imam tersebut dinilai kurang mengerti mengenai kultur masyarakat Jerman (rl/dw).*

Jerman Muslim Jerman

Related Post

Leave a reply