Agar Tak Stres Kerja, Ambil Hak Cuti dan Istirahat Anda

99 views

Reaktor.co.id — Tatkala kejenuhan sudah menghampiri, para pekerja/karyawan disarankan memanfaatkan jatah cuti atau istirahat di luar jam kerja. Tujuannya agar kesehatan fisik pulih dan supaya pikiran pun menjadi rileks dan refresh.

Isi masa cuti misalnya dengan berpelesiran atau melakoni hobi yang sempat terabaikan akibat terlalu asyik bergulat dengan pekerjaan.

Mengambil cuti atau istirahat di luar jam kerja sangat dianjurkan untuk pekerja/karyawan, apalagi buat yang workaholic. Kerja keras bagai kuda tidak baik untuk kesehatan mental dan psikis Anda.

Hak setiap pekerja/karyawan untuk mendapatkan cuti dan istirahat ini diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan). Bahkan, tak hanya cuti, UU Ketenagakerjaan menetapkan bahwa pekerja/karyawan juga berhak mendapatkan waktu istirahat.

Nah,jika jatah cuti dan waktu istirahat itu dipakai, perusahaan tetap diwajibkan membayar gaji/upah pekerja/karyawan bersangkutan. Jadi, jangan sia-siakan hak cuti dan waktu istirahat tersebut.

Ketentuan Pasal 79 Ayat (1) UU Ketenagakerjaan berbunyi: “Pengusaha wajib memberi waktu istirahat dan cuti kepada pekerja atau buruh.”

Jenis Cuti dan Istirahat bagi Pekerja/Karyawan

Hak Cuti

1. Cuti Tahunan & Cuti Bersama

UU Ketenagakerjaan menetapkan, lama cuti yang bisa diambil oleh seorang pekerja/karyawan sebanyak 12 hari/tahun. Ketentuan ini hanya berlaku bagi pekerja/karyawan (tetap atau kontrak) di perusahaan yang telah memiliki masa kerja lebih dari 12 bulan (1 tahun).

Selain itu, cuti tahunan juga terdiri dari cuti bersama di hari raya tertentu. Hari cuti bersama ditentukan sesuai peraturan dan ketetapan pemerintah, seperti cuti bersama Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Natal.

 

Cuti bersama ini bagian tak terpisahkan dari cuti tahunan. Jadi, jika cuti bersama diambil, maka jatah cuti tahunan yang 12 hari kerja akan terpotong.

2. Cuti Khusus (Alasan Penting)

Cuti khusus adalah cuti diberikan kepada pekerja/karyawan karena alasan penting tertentu, misalnya: menikahkan anak, pembaptisan anak, khitanan anak, orang tua meninggal dunia atau sakit, menemani istri bersalin atau keguguran. Lama cuti khusus ini tiga hari.

Untuk kasus, keluarga batih (keluarga inti seperti ayah, ibu, anak) meninggal dunia, pekerja/karyawan diberi jatah cuti selama 2 hari.

Selain itu, ketentuan Pasal 82 ayat (1) dan (2) UU Ketenagakerjaan membolehkan pekerja/karyawan wanita untuk mengambil cuti selama 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan lagi setelah melahirkan.

Jika mengalami keguguran, pekerja/karyawan wanita tersebut juga berhak untuk cuti istirahat selama 1,5 bulan. Walaupun mengambil cuti tersebut, pekerja/karyawan wanita ini tetap berhak menerima gaji. Sebagai catatan, cuti tersebut tidak termasuk ke dalam cuti tahunan.

Hak Istirahat  

1.Istirahat antara Jam Kerja

Ketetuan Pasal 79 Ayat (2) huruf a UU Ketenagakerjaan menetapkan, pekerja/karyawan berhak memperoleh hak istirahat antara jam kerja, minimal setengah jam setelah bekerja selama 4 jam terus menerus. Biasanya dimanfaatkan oleh para pekerja/karyawan untuk santap siang. Jadi, waktu istirahat ini tidak termasuk jam kerja.

2.Istirahat Mingguan

Selain itu, pekerja/karyawan juga berhak mendapatkan jatah istirahat mingguan yakni libur minimal satu hari untuk 1 minggu. Jadi, jatah istirahat mingguan ini bisa libur 1 hari untuk 6 hari kerja atau libur 2 hari untuk 5 hari kerja dalam seminggu.

 3.Istirahat Sakit dan Haid

Pekerja/karyawan berhak mendapatkan Istirahat Sakit dan Istirahat Haid. Istirahat sakit dengan izin dan disertai surat keterangan sakit dari dokter. Sejumlah perusahaan memasukkan cuti ini ke dalam cuti tahunan, sebagian perusahaan lain tidak, jadi sangat bergantung pada kesepakatan antara pekerja/karyawan dan perusahaan.

Khusus pekerja/karyawan wanita, mereka berhak atas cuti haid di hari pertama dan kedua apabila merasa sakit atau nyeri haid (ketentuan Pasal 81 dan Pasal 93 ayat (2) UU Ketenagakerjaan).

 4.Istirahat Panjang

Pekerja/karyawan yang telah memiliki masa kerja selama 6 tahun dan kelipatannya di perusahaan yang sama bisa mengambil istirahat panjang selama dua bulan. Aturan tersebut tertuang dalam ketentuan Pasal 79 Ayat (2) huruf d UU Ketenagakerjaan. Namun, istirahat panjang ini tidak bisa diambil secara berturut-turut.

 

Jadi, teknisnya, pekerja/karyawan mengambil istirahat panjang ini pada tahun kerja ke-7 dan ke-8 dengan jumlah masing-masing 1 bulan. Jadi tidak boleh langsung 2 bulan penuh.

Pekerja/karyawan yang mengambil jatah istirahat panjang ini tidak berhak lagi atas cuti tahunan dalam 2 tahun berjalan. Selanjutnya berlaku untuk setiap kelipatan masa kerja 6 tahun.

Hak istirahat panjang hanya berlaku bagi pekerja/karyawan yang bekerja pada perusahaan tertentu, yang diatur dengan Keputusan Menteri. (AF)*

 

cuti cuti mingguan cuti tahunan istirahat reaktor UU Ketenagakerjaan work hard

Related Post

Leave a reply