68 Ribu Buruh Tekstil Terkena PHK Akibat Impor dari China dan Relokasi

177 views

buruh tekstil

Reaktor.co.id, Bandung — Sebanyak 68 ribu buruh tekstil di Jawa Barat terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) hingga Kuartal III 2019 akibat 188 perusahaan tekstil dan produk tekstil di Jabar gulung tikar atau relokasi (pindah).

Menurut Tim Akselerasi Jabar Juara untuk Bidang Ketenakerjaan Disnakertrans Provinsi Jawa Barat, Hemasari Dharmabumi, hal itu terjadi akibat terbukanya keran impor tekstil dari Cina. Selain itu, hal ini juga disebabkan oleh ketidakmampuan industri menyesuaikan diri dengan teknologi.

“Industrinya sudah tua dan bahkan di tahun 2019 ternyata masih ada alat tenun yang dipakai oleh pabrik garmen di sana yang buka mesin,” katanya, Jumat (4/10/2019).

Mayoritas perusahaan garmen di Jabar yang gulung tikar itu berasal di wilayah Majalaya, Kabupaten Bandung. Kebanyakan, perusahaan yang relokasi berpindah ke Jawa Tengah.

Menurut Ketua Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (Ikatsi), Suharno Rusdi, saat ini industri dalam negeri terutama tekstil harus bersaing dengan serbuan produk impor yang membanjiri pasar Indonesia.

Dengan harga yang lebih murah, masyarakat lebih memilih produk tersebut padahal kualitasnya belum tentu lebih bagus dari produk buatan pabrik tekstil lokal.

Oleh karena itu, Suharsono meminta pada pemerintah agar bisa lebih giat melakukan pengawasan dan bisa tegas untuk meminimalisasi produk luar negeri.

“Jangan sampai produk yang sejenis buatan dalam negeri justru kalah bersaing dengan barang impor. Maka harus ada penjagaan ketat, kalau bisa pajak bea masuk itu dinaikan,” katanya dikutip Republika.

Sebelumnya, Ikatsi juga menyatakan, gempuran produk tekstil impor dari China membuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) tidak berdaya.

Stok dalam negeri menumpuk dan tidak bisa terjual. Dampaknya pada arus kas perusahaan-perusahaan TPT hingga ke persoalan kemampuan membayar upah pekerja/buruh.

Diperkirakan, saat ini ada sekitar 1,5 juta bal benang dan 970 juta meter kain stok yang menumpuk di gudang-gudang industri tekstil karena tidak bisa terjual.

Tingginya stok ini membuat industri tekstil kesulitan memutar modal kerja. Ini dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.

Jika dibiarkan berlarut dan stoknya lebih banyak, maka dalam 2-3 bulan ke depan akan ada perusahaan yang tidak mampu membayar upah karyawan bahkan tidak mampu bayar pesangon.

Ikatsi menyampaikan secara resmi kepada beberapa menteri terkait agar sementara ini menghentikan izin dan rekomendasi impor. (rml).*

 

Industri Tekstil PHK

Related Post

Leave a reply